Indosiar Bangkit Berkat Mamamia
Gufroni Sakaril, Manajer Humas Indosiar, mengungkapkan, faktor penyebab kebangkitan Indosiar adalah suksesnya acara Mamamia Show dan turunannya, efisiensi biaya produksi, dan perbaikan menara transmisi Indosiar. Menurutnya, reality show itu mendominasi durasi waktu tayang di Indosiar sekitar 25%, dan menyumbang hingga 30% pendapatan Indosiar. Sebagai perbandingan, pendapatan dari sinetron hanya 15%-20%.
Dijelaskan Gufroni, format acara Mamamia Show sebenarnya sudah dipikirkan sejak pamor Akademi Fantasi Indosiar menurun. Untuk itu Indosiar melakukan studi karakteristik dan demografi pemirsa TV pada prime time. Hasilnya, yang terbanyak menonton pada jam itu adalah kalangan ibu rumah tangga yang menyukai program TV yang punya ikatan emosional dengan mereka. Lalu, lahirlah konsep Mamamia Show yang mengeksploitasi faktor kedekatan seorang ibu dengan anak perempuannya. â€ÂTernyata studi itu benar. Buktinya disambut dengan baik,†ujar Gufroni.
Andreas, Sekretaris Korporat Indosiar, menambahkan, Mamamia Show yang menampilkan 12 kontestan (pasangan ibu dan anak) dalam ajang pencarian bakat penyanyi cilik (usia kurang dari 15 tahun) ini pertama kali ditayangkan pada Juni 2007. Program ini meledak empat bulan setelah episode pertamanya. Berdasarkan survei AC Nielsen pada November 2007, program ini merebut predikat acara nomor satu dari segi audience share (peringkat rata-rata 8,4; dan audience share sebesar 26,3%). “Kami pun lalu fokus pada program in-house bergenre reality show ini,†kata Andreas.
Setelah sukses dengan Mamamia Show, Indosiar meluncurkan program turunannya seperti Super Mama, Stardut, dan Super Soulmate. Alasannya, agar pemirsa tidak bosan. Selain itu, Indosiar mengemas program-program ini dalam kurun waktu pendek, yakni tiga bulan. Tentu, format Mamamia dan turunannya berbeda. Contohnya, bila acara Mamamia diikuti peserta dari kalangan masyarakat umum, peserta Super Mama adalah selebriti remaja dan ibundanya. Namun resep ikatan emosionalnya hampir sama, yakni di balik keberhasilan seorang anak, pasti ada sosok ibu yang mendorong.
Yang juga menarik pemirsa, dalam program-program tersebut spontanitas dan kreativitas sangat diperlukan, baik dari pembawa acara, tim kreatif maupun produser. Contohnya, di program ini ada segmen promosi dan ekspresi dari para ibu yang membuat penonton dan pemirsa tertawa terpingkal-pingkal. Faktor pembawa acara dan peserta menjadi daya tarik di samping pertunjukan nyanyinya sendiri.
Ramuan resep itu cukup cespleng. Menurut Gufroni, pada babak grand final, peringkat Super Mama Seleb Show bisa mencapai 10,8 dengan audience share 37,7%. Padahal, program ini ditayangkan selama 3-6 jam (pukul 18.00-24.00/01.00 dini hari WIB, Senin hingga Minggu). “Rata-rata per minggu audience share-nya mencapai 25%-30% dengan rating 7,3,†ujarnya. Kinerja program turunannya pun tak kalah kinclong. Contohnya, Stardut memiliki rating 6,9 dan audience share 24%.
Keberhasilan program-program ini membuat Indosiar kembali mendapatkan tempat terhormat. Berdasarkan survei AC Nielsen pada awal Desember 2007, Indosiar berhasil menjadi stasiun TV nomor satu untuk semua segmen pemirsa. Program andalannya seperti Stardut menduduki posisi pertama, dan bersama Super Mama Show mendapat rating 7,3. Yang ikut menggembirakan awak Indosiar, sinetron-sinetronnya pun ikut terkerek naik. Sebutlah, Power Ranger dan Panji Sumirang yang mendapat peringkat 6. “Sinetron satu jam sebelum Super Mama dan sejam setelahnya ikut naik pamornya. Lambat laun keseluruhan sinetron Indosiar juga akan ikut naik,†kata Gufroni optimistis. Secara keseluruhan, menurut data AC Nielsen, Indosiar berhasil meningkatkan audience share-nya dari 13% di akhir 2006 menjadi 17,3% di akhir 2007.
Toh, menurut Gufroni, bukan hanya program yang atraktif yang membuat Indosiar keluar dari kerugian, melainkan juga efisiensi biaya produksi. Berdasarkan laporan kuartal I/2008, biaya program Indosiar turun sebesar 28% (Rp 40 miliar). Penjelasannya, biaya produksi reality show ini per satu jam 15% lebih murah dibandingkan dengan sinetron atau program musik. Selain itu, penggarapan genre reality show lebih simpel ketimbang program acara berdurasi satu jam, lantaran Indosiar harus memikirkan 6 program acara yang berbeda. Dengan sebuah reality show yang memakan waktu 6 jam, Indosiar bisa lebih fokus. Selain itu, dalam program ini tak ada ikatan kontrak antara Indosiar dengan pemenang atau peserta reality show â€ÂMengenai follow up kariernya setelah acara, terserah masing-masing. Kami hanya menyediakan medianya,†tutur Gufron.
Sementara itu, terkait dengan perbaikan transmisi Indosiar di wilayah Jakarta. Andreas menjelaskan pada 2007 Indosiar membangun menara transimisi baru di Kebon Jeruk setinggi 365 meter. Kehadiran menara ini diyakininya meningkatkan kualitas penerimaan gambar Indosiar di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Maklum, seperti diketahui 50% lebih penonton televisi nasional berada di Jakarta. â€ÂPerbaikan ini meningkatkan coverage area kami dari 63% pada 2006 menjadi 73% pada 2007,†ujarnya.
Dalam pandangan Don Bosco Selamun, Anggota Komisi Penyiaran Indonesia, langkah Indosiar untuk fokus pada genre reality variety show memang masuk akal. Alasannya, karena ada penghematan pembelian dan pembiayaan program. Namun ia mengingatkan tren ini tak bisa bertahan lama. “Industri TV tergantung pada musimnya dan ada siklusnya. Dulu ada musim sinetron, lalu musim kuis, lalu idol-idol-an,†ia berujar. Don Bosco memprediksi, jika semua stasiun TV menggempur khalayak pemirsa dengan reality show, musim program ini hanya bertahan selama satu tahun ke depan.
Yuyun Manopol & Afiff Maulana Dewanda.