Mereka yang Menikmati Madu Reksa Dana

Mereka yang Menikmati Madu Reksa Dana

Aidil Akbar Madjid, investor perorangan reksa dana, bergegas mengeluarkan dokumen surat investasi dari buku arsipnya yang tertata rapi. Saat ditanya, ia tidak hapal satu per satu kinerja reksa dana yang dimasukkan dalam portofolionya. Dengan sabar ia mencocokkan laporan performa Nilai Aktiva Bersih (NAB) para manajer investasi reksa dananya dengan data NAB yang dipublikasikan di koran. Tak ada yang ganjil. Ia sungguh beruntung. Sejauh ini tidak ada masalah dengan fund manager, baik soal kesesuaian jumlah NAB maupun kemudahan pencairan dana.

Investor lain tentu berharap semujur Akbar, demikian pria berkacamata itu disapa. Caranya? “Saya tidak mencari return yang paling tinggi. Katakanlah, kalau ada fund manager menawarkan return 17%, 18%, 19%, dan 20%, saya akan pilih angka yang aman, yakni 18%. Ini karena return tinggi mesti dibayar ancaman risiko tinggi pula,” Akbar menegaskan. Ia mengatakan, sesungguhnya yang dibutuhkan investor reksa dana adalah stabilitas return dan terjaminnya keamanan. “Kalau NAB gonjang-ganjing sama saja bohong. Lebih baik sekalian main saham,” ungkapnya. Jadi, jangan gampang tergoda oleh iming-iming return yang wah.

Sebagai sesama investor, Rizka Baely sepakat, keinginan mengejar return setinggi-tingginya harus dibarengi dengan kesadaran menerima risiko besar. Return dan risiko bak dua sisi mata uang. Keduanya sulit dipisahkan. Artinya, prioritas return gede penting, tapi yang jauh lebih penting kesiapan menghadapi risiko terburuk.

Dengan pertimbangan risiko pula, Akbar mendiversifikasi portofolio ke reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham. Untuk reksa dana pendapatan tetap, ada empat produk yang ia genggam. Pertama, BNI Dana Berbunga Dua, yang ia beli pada Mei 2001. Selama 2003, return yang dihasilkan sekitar 15%.

Kedua, Mega Dana Obligasi (Medali) yang dibeli pada akhir 2002. Imbal hasil yang dibukukan 2003 berkisar 15%-17% per tahun. Saat itu Akbar membeli reksa dana Medali dengan NAB Rp 1.242/unit, kini menjadi Rp 1.501,05. Ketiga, Trimegah Dana Tetap. Ia masuk ke produk ini terhitung sejak 2001. Kinerjanya cenderung stabil, meski return-nya bukan yang tertinggi, yaitu 13%-14% per tahun. Waktu awal pembelian NAB-nya Rp 1.000 dan saat ini berada pada level Rp 1.368,81. Keempat, Phinisi Dana Tetap Pemerintah, dibeli pada 2002. Return yang dihasilkan selama 2003 sebesar 12,25%.

Reksa dana saham yang dipegang Akbar ada dua: Phinisi Dana Saham (PDS) dan Schroder Dana Prestasi Plus (SDPP). PDS yang dibeli pada pertengahan 2002 mampu menghasilkan return pada 2003 sebesar 91%-98%. Sementara itu, SDPP dibeli awal 2003 dan mampu menghasilkan return lebih dari 100%.

Reksa dana pilihan Akbar boleh dikata memiliki kenerja bagus. Pasalnya, sepanjang 2003, ada reksa dana pendapatan tetap yang return-nya minus hingga 68,78%, ada pula reksa dana saham yang hanya untung 5,51% dan reksa dana campuran terendahnya 12,50%.

Di barisan reksa dana pendapatan tetap, kinerja reksa dana Master Pundi paling bagus. Per 12 Januari 2004, return tertinggi Master Pundi setahun terakhir mencapai 20,32% dan return riil-nya 19,61%. Untuk reksa dana saham, SDPP juga mencetak kenaikan NAB yang fantastis, yakni 100,85%. Sementara itu, di kelompok reksa dana campuran, Mahanusa Dana Kapital dengan rekor return tertinggi setahun terakhir 92,63% dan return riilnya 86,96%. Return tertinggi reksa dana pasar uang dicapai oleh Mr. Cash sebesar 13,19% (lihat Tabel).

Hanya, dikatakan Lisa Soemarto, juga investor individual, return tertinggi reksa dana fixed income pada 2003 itu masih kalah dibanding performa 2002. Selama 2002, ada reksa dana pendapatan tetap yang mampu mencetak return 22%. Toh, ia sadar banyak faktor yang memengaruhi. Dia pun turut mereguk manisnya return yang dihasilkan reksa dana saham. “Kalau saya hitung sendiri mulai awal masuk hingga sekarang, return SDPP mencapai 112%,” paparnya dengan guratan wajah sumringah. Dia salut kepada Schroder yang mengelola reksa dana sahamnya hanya di saham blue chips. Lisa mengungkapkan, 95% portofolionya berupa reksa dana dengan komposisi: 85% di reksa dana berbasis obligasi dan pendapatan tetap, serta 15% reksa dana saham. Di reksa dana pendapatan tetap, selain SDPP, Lisa juga menggenggam Mega Dana Capital dan Schroder Dana Mantap Plus.

Lisa dan Rizka memiliki karakter serupa: sama-sama takut risiko tinggi, sehingga alokasi reksa dana pendapatan tetapnya dominan. Lihatlah bagaimana Rizka memilah-milah isi portofolio individunya. Dari total portofolio reksa dana Rizka, 55% berupa reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham 30%, dan reksa dana pasar uang 15%. “Karena uang saya terbatas, kalau ingin investasi di saham atau obligasi, dimasukkan saja ke reksa dana,” jelas Rizka yang keberatan menyebutkan nama produk reksa dana yang digenggamnya itu.

Betul, dari segi usia, sebenarnya Rizka lebih cocok investasi di instrumen reksa dana saham. Namun, kemungkinan gejolak saham yang tak dapat diprediksi membuatnya enggan menempatkan dana secara optimal di reksa dana yang berisiko tinggi. “Saya juga tidak mau masuk reksa dana pasar uang dalam jumlah besar, karena saya percaya return-nya pasti turun terus sebab suku bunga masih volatil,” ia menambahkan. Terlebih, dia merasa masa pensiunnya masih lama. Maka baginya, berinvestasi secara besar-besaran di reksa dana pasar uang tidaklah cocok.

Rizka tidak selalu menghitung secara pasti return reksa dana yang dibelinya. Apalagi, tujuan investasinya jangka panjang. Yang jelas, setiap membeli reksa dana, dia selalu melirik produk dengan NAB awal rata-rata Rp 1.000. Kendati demikian, Rizka mengaku menikmati return rata-rata di atas 40% untuk reksa dana saham, reksa dana pasar uang 5% dan 9%-10% di reksa dana pendapatan tetap.

Ternyata tidak hanya investor perorangan yang getol memburu reksa dana pendapatan tetap. Investor institusi pun lebih memilih instrumen ini untuk membiakkan asetnya. Tengok saja isi perut portofolio Asuransi Jiwa Bringin Life yang disesaki reksa dana fixed income. “Kami mencari reksa dana yang aman, terutama reksa dana pendapatan tetap,” kata Joko Inswihanto, Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Bringin Life.

Paling tidak terdapat 10 produk reksa dana pilihan investasi Bringin Life. Namun, yang memiliki kinerja paling kinclong sepanjang 2003 hanya ada tiga. Pertama, Medali. Reksa dana ini dibeli tiga tahun lalu dengan nilai investasi yang digelontorkan Rp 6 miliar. Tahun lalu reksa dana ini mencetak return 17,04% dan return riilnya (1 tahun) 15,88%. Kedua, Phinisi Dana Tetap Pemerintah yang dibeli mulai 2000 dengan total investasi Rp 2,5 miliar. Ketiga, Bahana Dana Sejahtera (BDS). Reksa dana campuran ini dibeli pada 2001 dengan total investasi Rp 1 miliar. Return-nya pada 2003 sebesar 12,5% dan riilnya hanya 9,17%. Namun, Joko mengklaim, setelah dua tahun, dana Bringin Life yang dibenamkan di BDS itu tumbuh menjadi Rp 1,35 miliar.

Joko mengungkapkan, pihaknya belum terpincut masuk ke reksa dana saham, walau return-nya gila-gilaan. Ia mengatakan, saat krismon harga saham berguguran dan berpengaruh pada anjloknya performa reksa dana saham. Walaupun saat ini bursa sedang boom, ia menambahkan, investor tetap harus waspada lantaran risiko datang tanpa diundang.

Kendati berinvestasi di reksa dana menjanjikan return lebih tinggi ketimbang deposito, perusahaan asuransi tak bisa leluasa membenamkan dananya di instrumen ini. “Investasi kami di reksa dana maksimal 20% dari total portofolio sebagaimana investasi obligasi. Saat ini porsi reksa dana Bringin Life telah mencapai 17%,? Joko menerangkan. Sementara itu, penempatan dana di deposito bagi perusahaan asuransi tidak dibatasi. Hanya, return-nya kurang menarik karena sekarang bunga bank cenderung turun.

Asuransi Jiwasraya pun ekstra hati-hati dalam menanamkan dananya. Tercatat sebagai pembeli reksa dana pendapatan tetap Mega Dana Obligasi sejak 1997, Jiwasraya tak mau berspekulasi pindah ke produk lain. Modal yang dibenamkan di reksa dana ini mencapai Rp 5 miliar dari keseluruhan portofolionya yang mencapai Rp 215 miliar. “Rata-rata return Mega Dana Capital neto 12% per tahun. Tapi, kami mengharapkan bisa mencapai 15%,? Andi Sukrani, Kadiv Investasi Jiwasraya, mengungkapkan.

Baik investor individu maupun lembaga sepakat ada sejumlah faktor yang harus dipertimbangkan bila membeli produk reksa dana, misalnya siapa fund manager-nya, bagaimana track record-nya dan prospek produk tersebut. Di samping itu, harus ditetapkan terlebih dahulu tujuan investasinya: untuk jangka menengah atau panjang. “Kami harus tahu persis tujuan berinvestasi. Setelah itu, baru shopping produk mana kira-kira yang cocok,” Rizka menuturkan.

Tidak kalah penting, membeli reksa dana harus dari uang nganggur untuk masa 2-3 tahun mendatang. Maklum, instrumen ini lebih cocok buat investasi jangka panjang. Lagi pula, dengan menggunakan dana nganggur, mereka tidak gampang panik ketika terjadi fluktuasi harga, sehingga tidak buru-buru mencairkan dananya. Dengan kata lain, mereka tetap berhitung keuntungan jangka panjang, sesuai dengan yang direncanakan. “Setelah lima tahun, baru di-redemption, kemudian kami switch dengan produk baru,” kata Joko. Hanya, kendati cukup lama memercayakan pengelolaan dana kepada manajer investasi, evaluasi secara berkala tetap harus dilakukan. Selain agar target return bisa tercapai, sekaligus ini dimaksudkan untuk mengevaluasi kinerja manajer investasi tersebut.

# Tag