Star Wars dan Para Pemberani

Star Wars dan Para Pemberani

Dalam salah satu pojokan cerita Nasrudin, pernah terjadi istri Nasrudin hanyut di sungai. Ditemani beberapa sahabat, ia langsung menceburkan diri ke sungai yang dalam. Sementara semua temannya berenang ke hilir, Nasrudin berenang ke hulu sendirian. Heran dengan perilaku aneh Nasrudin, teman-temannya bertanya, ?Mana ada orang hanyut jalannya ke hulu Din?? Dengan tanpa menoleh, Nasrudin menjawab, ?Mana kita tahu ketika sungai ini menghanyutkan istri saya gerakannya ke hulu? Tertawa menghina, itulah respons manusia umumnya ketika mendengar kalau ada manusia lain yang keluar dari logika. Tentu saja, tidak ada yang melarang orang tertawa. Termasuk tidak ada yang melarang manusia berputar-putar di ruangan sempit yang disebut logika. Terlepas dari soal tertawa dan logika, segelintir manusia pemberani berani malu dan ditertawakan orang dengan melangkah keluar dari batas-batas logika. Ada kelompok inovator, ada kelompok pencinta, ada kelompok orang bodoh, ada juga kelompok orang gila. Menyangkut dua kelompok terakhir, biar orang lain saja yang mengulasnya. Sulit diingkari, hampir semua inovator adalah kumpulan manusia-manusia pemberani yang melompati logika. Sebutlah inovasi pesawat terbang, manusia menginjakkan kaki di bulan, komunitas desa global melalui Internet, lompatan-lompatan komunikasi melalui telepon seluler. Semuanya adalah hasil langkah-langkah kaki manusia-manusia pemberani. Tidak saja tembok-tembok logika yang dilompati dan dilubangi, mereka malah berani membuat logika baru yang tadinya tidak terpikirkan. Berhenti mencari, menyerah kalah kepada tembok-tembok logika bukanlah pilihan yang mereka pilih. Tidak semua langkah dan pilihan mereka berhasil tentu saja. Rasio kegagalannya memang tinggi, tapi begitu ada satu langkah yang berhasil menembus tembok-tembok tebal logika, jangankan tepuk tangan kagum, sejarah pun ikut kagum dengan mencatatkan nama yang bersangkutan dengan tinta emas. Lain inovator, lain juga para pencinta. Bila inovator bergerak melalui kata-kata keras seperti menemukan, melawan, menantang dan menundukkan, manusia-manusia pencinta memasuki wilayah-wilayah di luar logika dengan cinta dan keikhlasan. Ratusan tahun yang lalu, Nietsche dan kawan-kawan memang pernah mengumumkan bahwa perkembangan logika dalam iptek bisa menjadi mantra yang membuat matinya Tuhan dan agama. Lebih dari seratus tahun setelah pengumuman mematikan terakhir dikumandangkan, tampaknya apa yang mereka pikir akan mati ternyata masih hidup dan sehat-sehat saja sampai sekarang. Sebutlah teknologi di mana logika demikian diagungkan, sebagian mulai mengadopsi ide-ide tua dan lama. Film Star Wars yang legendaris, misalnya. Ia tidak saja mengundang decak kagum secara teknologi, film ini juga disebut-sebut sebagai ?agama? Star Wars. Terutama karena ada jutaan anak muda berani menulis seperti ini: ?Apa yang aku mau ketahui tentang kehidupan, aku temukan dalam Star Wars.? Bila dicermati lebih dalam, pesan-pesan Star Wars hampir semuanya pesan tua. Perhatikan sebagian kecil pesan-pesannya. Kemarahan, takut, agresi akan membawamu ke ruang-ruang gelap. Di bagian lain: dengan mencari engkau menghancurkan, kesabaran adalah rekanmu. Ada lagi pesan yang lebih kuno: dalam pengejarannmu terhadap damai dan keadilan, the force will be with you. Bila didengarkan secara hati-hati pesan-pesan hidup dalam Star Wars, sulit dilacak agama resmi apa yang mau diwakili oleh film legendaris ini. Ganjilnya, kendati bersifat tidak bisa dilacak, tetap saja jutaan penggemarnya memercayainya tanpa terlalu banyak bertanya. Ada yang menyebut fenomena Star Wars sebagai fenomena sintesis menarik antara agama dan ilmu pengetahuan. John D. Caputo dalam On Religion bahkan mencermati, struktur berpikir Star Wars tanpa dualitas (materi-roh, tubuh-jiwa, natural-supernatural, ilmu-iman, bumi-surga, waktu-keabadian). Lain Star Wars, lain John D. Caputo, lain juga para pencinta. Boleh-boleh saja ilmuwan hanya merasa nyaman kalau sudah tahu dan mengerti. John D. Caputo bahkan merasa perlu melakukan dekonstruksi terhadap ide ?apa yang aku cintai ketika mencintai Tuhan? agar bisa lebih ?tahu dan mengerti?. Kaum pencinta, pemberani yang sudah terbiasa berjalan jauh di luar tembok logika, aman dan nyaman bahkan ketika tidak tahu. Tahu dan mengerti, setidak-tidaknya menurut para pencinta, membuat manusia terlempar ke wilayah-wilayah dangkal. Tanpa nafsu mengetahui dan mengerti, tapi dibimbing cinta dan keikhlasan, ke mana pun kehidupan bergerak disambut dengan senyuman. Seorang sufi wanita bahkan pernah menyentuh dengan ungkapan membakar surga dan neraka. ?Bila aku menyembah-Mu karena rindu surga, jauhkan aku dari sana. Tatkala aku mencintai-Mu karena takut neraka, masukkan saja aku ke sana. Namun cintaku, biarlah aku melihat wajah-Mu.? Dalam terang cahaya kejernihan seperti ini, adakah manusia yang lebih pemberani dari para pencinta?

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag