Dari Tanah Abang, Bisnis Husni Menggurita

Dari Tanah Abang, Bisnis Husni Menggurita

“Mbak, tolong bungkus juga yang warna kuning itu,ujar Andayani kepada pelayan toko Ramayana Dept. Store sembari menunjuk kemeja anak yang membalut tubuh manekin di konter pakaian anak merek Alton Kids. Ibu muda itu tertarik membeli Alton Kids untuk sang buah hati lantaran motifnya mendobrak kecenderungan di pasar. Biasanya, baju anak didominasi gambar kartun, tapi koleksi Alton Kids berkreasi dengan angka-angka. Selain itu, produknya mudah didapat. Maklum, Alton Kids dijual di jaringan department store Ramayana, Pojok Busana, Ada Swalayan, Barata, Brahmana, Pasar Tanah Abang, serta sejumlah pusat grosir di Surabaya dan daerah lain.

Husni Zarkasih adalah orang di balik Alton Kids. Ia pengusaha garmen yang mendesain dan membesarkan pakaian anak merek Alton Kids dan jins anak merek Gear. Sekitar 18 tahun, peraih gelar master bisnis internasional dari Jurusan Kebijakan Bisnis Universitas Indonesia (UI) ini bergelut di industri garmen. Namun, siapa sangka usaha garmennya itu bisa berkembang pesat.

Kalau saja waktu itu Husni tidak nekat, belum tentu ia menjadi pengusaha sukses seperti sekarang. Tahun 1990 ia memutuskan keluar sebagai karyawan PT Krakatau Steel dan pindah haluan menjadi pebisnis garmen. Keputusannya migrasi kuadran dari profesional menjadi entrepreneur sungguh tepat. Kini, ia adalah pemilik sekaligus Presdir CV Husni Manufacturing, produsen garmen merek Alton Kids. Pabriknya ada dua di Jakarta dan satu di Pekalongan. Sementara tokonya ada tiga di Pasar Tanah Abang dan di Cilegon. Dalam setahun total omsetnya mencapai Rp 9 miliar. Apa rahasianya?

“Yang membuat usaha saya berkembang adalah bisa memproduksi barang dan menjualnya,tutur pria kelahiran 1 Oktober 1960 ini membeberkan resep suksesnya. Prinsip itulah yang membedakan wirausaha dari pedagang. Menurutnya, pedagang hanya mengandalkan selisih harga, sedangkan entrepreneur dituntut untuk lebih kreatif.“Saya punya konsep, program jangka pendek dan panjang yang kami lalui secara bertahap, ayah empat anak ini mengungkapkan.

Sebagai intelektual yang juga pebisnis, Husni merasa konsep sangatlah penting untuk mengelola bisnis. Dengan kata lain, jangan biarkan bisnis berjalan seperti air mengalir bila ingin maju.“Kita harus lakukan lompatan-lompatan, baik dalam inovasi produk atau lobi bisnis, putra pasangan Zarkasih Azhari dan Khodijah ini menjelaskan. Nah, untuk mengimplementasikan konsep, ia memakai kacamata kuda. Artinya, bila memikirkan sebuah rencana bisnis, ia harus fokus menjalankannya.

Beberapa gebrakan atau lompatan dilakukan Husni. Pertama, memberanikan diri buka toko di pusat grosir Tanah Abang. Mengapa? Karena, sebelumnya ia gagal mengelola toko di Pasar Pagi Mangga Dua dan ekspornya amburadul gara-gara dihantam badai krisis moneter. Tahun 2004, ia mulai berdagang di pasar garmen dan tekstil terbesar di Asia Tenggara itu. Pada tahun pertama (2005) ia hanya mampu menjual 4 ribu lusin setelan baju anak. Tahun kedua mencapai 8 ribu lusin, tahun ketiga bergerak ke angka penjualan 17 ribu lusin dan tahun keempat 25 ribu lusin plus 5 ribu lusin celana panjang anak, atau total terjual 30 ribu lusin.

Inovasi produk adalah gebrakan Husni kedua. Ia ogah mengikuti tren kompetitor dalam mendesain pakaian. Justru, ia ingin menampilkan sesuatu yang baru. Hari-harinya dilalui dengan mendesain pola baru. Tak ayal, sampai kini sudah 1.053 model busana anak yang ia hasilkan. “Kalau dihitung per bulan mungkin 25-26 model baru saya buat, ujar Husni yang saat ini memiliki sekitar 150 mesin dengan 175 karyawan yang bekerja dalam dua shift. Contohnya, model kemeja anak. Sementara tren pasar banyak menggunakan gambar tokoh kartun, ia memilih desain angka-angka.

Tak hanya desain baju yang selalu berubah. Dengan melihat kebutuhan pasar melalui observasi langsung ke daerah-daerah, Husni juga banyak mengubah warna dan jenis bahan kain yang digunakan. Untuk satu model, ia memproduksi sekitar 150 lusin dibagi lima item berdasarkan ukuran (0-2), (3-5), (6-8), (9-12), dan (13-15). Rata-rata satu ukuran diproduksi sebanyak 30 lusin atau 360 potong baju. Hebatnya, dalam hitungan 1-2 hari barang sebanyak itu ludes diserap pasar. Bahkan, pernah satu model hanya terjual dalam tempo satu jam.

Lompatan ketiga adalah fokus menggarap pasar domestik. Sebelumnya, Husni berkutat dengan pemasaran produk ke mancanegara, tapi terhitung empat tahun lalu ia banting setir melirik pasar dalam negeri. Adapun negara tujuan ekspornya dulu di antaranya wilayah Asia, Amerika, Eropa dan Afrika.

Meski kesannya cuma menjual busana anak, jangan anggap remeh raihan omsetnya. Kalau dipukul rata, dalam setahun omset yang dibukukan Alton Kids mencapai kisaran Rp 9 miliar. Jumlah itu dengan asumsi harga jual rata-rata Rp 300 ribu tiap lusin dan ia mampu memasarkan 30 ribu lusin tahun 2008. Biasanya dalam waktu 2-3 bulan, dana hasil penjualan itu ia putar lagi untuk membesarkan usaha.

Tak lagi menjadi eskportir bukan berarti produk Alton Kids tak diminati konsumen asing. Lihatlah, pada peak season di Mei dan menjelang Lebaran, penjualan melonjak tajam, konsumennya datang dari Brunei Darussalam, Malaysia, India, Thailand dan Singapura. “Mereka (konsumen asing) belanja datang ke Indonesia atau order via e-mail senilai puluhan juta hingga Rp 2 miliar, tutur Husni, yang sesekali diundang memberi kuliah umum tentang kiat-kiat usaha di beberapa universitas, seperti Universitas Hasanuddin (Makassar), Universitas Sriwijaya (Palembang) dan UI. Jhoni membenarkan fakta itu. “Pembeli kami juga datang dari Sri-Langka dan Pakistan. Sekali belanja, mereka bisa menghabisikan dana Rp 100 juta, “ kata karyawan Alton Kids di Pasar Tanah Abang Blok A lantai Los D itu.

Untuk strategi pemasarannya, Husni mengaku bergerilya. Ia melakukan pendekatan langsung ke komunitas pedagang garmen di Jakarta dan daerah. Komunitas yang menjunjung rasa kejujuran dalam membangun kepercayaan ini adanya di pasar-pasar tradisional. Tak dinyana, usaha tersebut membuahkan hasil yang melegakan.

Selain itu, Husni bekerja sama dengan banyak dept. store. Awalnya, memang tak mudah. Sebagaimana rata-rata pemasok pada umumnya, tuntutan mengajukan proposal dan membawa sampel tatkala hendak memasukkan barang mesti dipenuhi. “Mula-mula Ramayana Dept. Store menolak produk kami karena belum tahu Alton Kids kayak apa dan produknya menyasar segmen menengah-bawah, ia mengungkapkan. Akan tetapi, setelah Alton Kids diterima beberapa dept. store seperti Pojok Busana, Ada Swalayan, Barata dan Brahmana, lama-kelamaan merek itu terdongkrak namanya. “Pada awalnya saya butuh Ramayana. Tapi, begitu Ramayana mengajak kerja sama, bargaining power saya naik. Alhamdulillah, sekarang kerja sama sudah berjalan sekitar 3 tahun. Kontribusi omset kami ke Ramayana kurang-lebih Rp 300-400 juta/tahun, ungkap Husni, yang pernah menjadi mitra bisnis garmen keluarga Punjabi via PT Tripar untuk saling memasok barang dan mensponsori busana beberapa sinetron MD Entertainment.

Keberhasilan yang dicapai Husni tidak sekonyong-konyong. Batu sandungan dan kerikil tajam banyak ia lalui. Ia membagi rintangan hidup dan bisnisnya dalam tiga milestones. Tonggak sejarah pertama diawali saat memutuskan hengkang sebagai pegawai BUMN. “Masa-masa sulit pertama adalah empat bulan pertama di tahun 1991, katanya mengenang. Keputusan dramatis diambil dengan ancaman risiko besar, karena hanya bermodalkan keberanian dan kepercayaan. Ya, tahun 1991 Husni bersinergi membangun pabrik garmen dengan tujuan ekspor. Ia bekerja sama dengan PT Anugerah Artha Garmindo (AAG), eksportir besar, sedangkan badan usaha yang dikibarkan adalah CV Husni Garmindo. “Kami fifty-fifty. Modal saya sekitar Rp 50 juta. AAG kasih modal lebih banyak, tapi saya menangani semua operasional, Husni menerangkan. Lalu, pada 1996 ia melepaskan diri dari mitranya itu.

Batu sandungan belum enyah juga. Periode 1998-2000, ketika bisnisnya menanjak, Husni mendapat ujian kembali. Ia menyebut kurun waktu itu sebagai tonggak sejarah yang kedua dan terparah. Mengapa? “Karena ketika bisnis saya sedang menanjak, dunia usaha diterpa krismon, sehingga perusahaan yang saya rintis kolaps, ujar Husni yang tumbuh dan besar dalam keluarga pedagang batik di Pekalongan. Tak pelak, kala itu ia hampir menggadaikan semua harta demi membangkitkan bisnisnya, mulai dari pabrik, mobil Mercedes C200, Kijang boks sampai Starlet, sehingga hanya tiga unit mobil yang tersisa.

Akhirnya, pada 2002 ia memutuskan mencoba peruntungan dengan berdagang di Pasar Pagi Mangga Dua. Pertimbangannya, pasar grosir ini lebih berkelas ketimbang Pasar Tanah Abang dan banyak pengusaha besar yang ada di sana. Ternyata, ia keliru. Selama dua tahun berdagang di Mangga Dua, bisnisnya tak kunjung berkembang. Ini merupakan milestones ketiga yang kian melecutnya untuk segera bangkit.

Kegagalan demi kegagalan itu justru memotivasi Husni untuk terus maju. Apalagi, kepercayaan dari bank masih tinggi, sehingga kucuran kredit terus mengalir. Umpamanya, tahun 2003 ia mendapat pinjaman dari Bank Mandiri senilai Rp 1 miliar dan kini naik menjadi Rp 1,5 miliar. Dan, ia yakin, kegagalan adalah guru yang terbaik. Itulah sebabnya, pengalaman buruk di Mangga Dua menjadi pelajaran berharga untuk menjajal bisnis baru di Tanah Abang. Dan itu terbukti, hingga sekarang usaha garmennya tidak saja eksis, tapi juga terus berkembang.

Ke depan, ia hendak membuat produk yang lebih berkualitas dengan harga kompetitif. Target penjualan 2009 setidaknya sama dengan prestasi 2008 mengingat tahun ini dampak krisis finansial global masih mewarnai dunia bisnis. “Penjualan ke depan sekitar 30 ribu lusin, ucapnya. Ia juga tidak ingin beralih ke pasar ekspor karena terlalu banyak teori dan negosiasi di bawah tangan yang membuatnya pusing.

Bagi Fail Faisal, Husni merupakan sosok yang inspiratif. Di tengah kegagalan bisnisnya, bos Alton Kids ini mampu bangkit kembali. Kegigihan Husni itu salah satunya tecermin dalam desain-desain yang inovatif dengan paduan warna trendi. “Pak Husni mendesain produknya dengan motif angka-angka yang ternyata itu adalah tanggal kelahirannya. Orangnya tidak pernah berhenti belajar,kata anggota Koperasi Pasar Tanah Abang itu memuji. Sarjana ekonomi dari Universitas Gadjah Mada ini menilai, boleh jadi Husni telah menyinergikan kemampuan akademisnya dengan pengalaman bertemu banyak pedagang di pasar. “Berdagang sepertinya semacam aktualisasi diri Pak Husni dan beliau berusaha mengikuti pilihan hidupnya. Orang ini konsisten dan negosiasinya sangat ulet,kata Faisal. Ya, Husni berusaha membuat hidupnya lebih bermakna. Dan, berdagang dijadikannya sebagai alat untuk memaknai hidup.***

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag