Pinnywati , Gemar Usaha Berbau Jepang

Pinnywati , Gemar Usaha Berbau Jepang

Pinny merupakan rekanan lokal PT MOG Indonesia (perusahaan yang mengelola MOS Burger di sini), melalui bendera PT Glory Sukses Selaras (GSS). Di perusahaan patungan dengan Jepang tersebut, GSS menguasai 55% saham. Selain GSS, MOG Indonesia juga dimiliki oleh PT ORIX Investment & Management (20%), Kazuo Ichihara (15%) dan MOS Food Services Inc. Japan (10%). Itulah mengapa perusahaan ini disingkat MOG (MOS Services, ORIX dan Glory). Sementara itu, selain Pinny, saham GSS juga dimiliki oleh dua rekan bisnisnya. Sayang, ia tidak mau merinci besar sahamnya.

Wanita berusia 42 tahun ini memulai bisnis pada 1989. Selepas kuliah di Jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Tarumanagara, Pinny membangun PT Masuya Graha Trikencana (MGT) bersama rekannya, Kazuo Ichihara. MGT dibangun karena suaminya kenal dekat dengan Ichihara.

MGT merupakan perusahaan distribusi makanan yang sebelumnya fokus pada makanan dan minuman Jepang. Namun, kini komposisinya sudah seimbang antara makanan Jepang dan non-Jepang. Sekitar 60% produk yang didistribusikan asal Jepang, sisanya produk makanan impor dari negara lain. Cabangnya, antara lain di Bali, Bandung, Cilegon, Surabaya, Yogyakarta, Bekasi, Tuban dan Semarang. “Kami pikir memang ada potensi pasar bagi produk makanan dan minuman Jepang,” Pinny menambahkan. MGT memasok produk makanan dan minuman impor ke berbagai supermarket.

“Saya pikir background Masuya yang sudah cukup expert di Japanese food yang menjadi alasan terpilihnya kami menjadi franchisee MOS Burger. Dan, saya sendiri sudah biasa bekerja sama dengan Mr. Ichihara. Jadi, mungkin lebih mudah bekerja sama dengan dia daripada dengan orang baru,” kata wanita asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini. “Terus terang saya tidak tahu, karena Jepang yang menentukan, mengapa Pinny sebagai local partner MOS Burger,” ujar Tetsuya Kawamoto, Direktur MOG Indonesia, mengomentari terpilihnya Pinny sebagai mitra MOS Burger. Kawamoto yakin, pilihan jatuh pada Pinny karena ia memahami konsep MOS Burger sebagai burger tradisional dari Jepang.

Franchisor MOS Burger (Jepang) memberi target, tiap tahun dibuka lima cabang di sini, dan 50 cabang dalam 10 tahun ke depan. “Kami punya kelebihan yang bisa dikompetisikan dengan resto burger lainnya. Burger kami baru dimasak setelah konsumen memesan. Jadi, semua bahannya fresh,” kata Kawamoto, yang sebelumnya store manager MOS Burger di Jepang dan Singapura.

Investasinya, Pinny menerangkan, memang cukup besar, sekitar US$ 2 juta atau Rp 18 miliar (kala itu nilai dolar AS masih Rp 9.000-an). Mengapa besar sekali? Dijawab Pinny, ini karena royalty fee-nya memang tinggi. Kendati begitu, ia yakin resto ini punya potensi berkembang karena segmen pasarnya kelas menengah. “Kami membangun resto ini bukan untuk jangka menengah, apalagi jangka pendek, tapi untuk jangka panjang. Melihat responsnya setelah beberapa hari dibuka, saya yakin MOS Burger bagus di sini,” ia menegaskan. Investasi tersebut sudah dimulai pada awal 2008, ketika resto ini mulai dirintis untuk dihadirkan di Indonesia. Pinny meyakini cerahnya prospek MOS Burger, apalagi gerai pertamanya yang dibuka di pusat perbelanjaan kelas menengah cukup ramai.

Steve Sudjatmiko yang ditemu i bersama putri dan istrinya di Plasa Senayan mengatakan, ia tertarik mampir karena melihat gerai burger baru di Plasa Senayan itu ramai. “Saya lihat kok antre, wah perlu dicoba nih,” kata pengamat manajemen dari Red Piramid itu. Ia melihat ada yang baru ditawarkan resto tersebut. “Selama ini kan burger itu identik dengan panganan Amerika, kini ada citarasa Timur-nya. Jadi, ya unik,” ia menambahkan. Menurut Steve, dengan kondisi persaingan dan ekonomi yang lesu saat ini, bisa dibilang Pinny cukup berani berinvestasi. Bisnis makanan selalu ada peluang, tapi harus disadari pelakunya bahwa bisnis ini bukanlah bisnis jangka pendek.

Bisnis Pinny lainnya adalah Papaya Fresh Galery, yang dibesut Pinny pada 1995 di Surabaya. Awalnya, supermarket kecil (luasnya sekitar 400 m2) tersebut tidaklah fokus pada makanan Jepang. “Waktu itu tidak terlalu banyak produk Jepang, malah produk Western-nya juga banyak,” ia mengungkapkan lagi. Namun, ketika buka cabang di Jakarta (2000), Bali (2005) dan Bandung (2007), Papaya jadi lebih fokus sebagai supermarket makanan Jepang. Usaha ini merupakan usahanya sendiri, tanpa rekanan Jepang.

Diakui Pinny, usaha yang dibangunnya memang banyak berbau Jepang. “Mungkin ini sudah jalan saya,” tuturnya. Saat ini, ia akan lebih berkonsentrasi pada MOS Burger, mengingat banyak yang masih harus ditata. Jadi, ia belum akan membangun lagi usaha baru lain yang berbau Jepang dalam beberapa waktu ke depan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag