Money Changer Hai Hai: Merajai Bisnis Valas di Batam

Money Changer Hai Hai: Merajai Bisnis Valas di Batam

Toh, nyali Amat tidak kendur. Ia tetap berjuang agar bisnisnya tidak sekadar bertahan, tapi kian maju. Kini, ia memiliki 10 gerai money changer. Tak mengherankan, ia dikenal luas sebagai juragan valuta asing di Batam. Bahkan, ia ditunjuk sebagai Ketua Umum Asosiasi Pedagang Valuta Asing Batam dan Kepulauan Riau.

Amat mengatakan, pebisnis atau turis asing yang melancong ke Batam dan sempat menyisiri beberapa sudut kota, pasti menjumpai gerai Hai Hai. Tidak sulit memang menemukannya, karena lokasi Hai Hai selalu di tempat strategis. Sepuluh gerai Hai Hai itu tersebar di kompleks Pasar Bumi Indah, kompleks Sakura Ampan, pusat perbelanjaan Center Poin, Matahari Mal Batam Center, Kompleks Bumi Indah, Panbil Mal Muka Kuning, Pelabuhan Internasional Tanjung Balai Karimun, Pelabuhan Internasional Sekupang, Jalan Sudirman Tanjung Batu Riau dan pelabuhan internasional Tanjung Batu, Riau.

Beranak-pinaknya cabang Hai Hai tidak dicapai dalam semalam. Amat merintisnya pada 1998. Gerai perdana dibuka di kawasan pertokoan Sakura Ampan, Nagoya Batam. Berikutnya tiap tahun (1999-2000) mendirikan satu konter. Tahun 2001 merupakan momentum bersejarah bagi perkembangan Hai Hai. Pasalnya, saat itulah bisnis valas boom akibat fluktuasi tajam nilai rupiah. Maklumlah, waktu krisis lonjakan selisih kurs sangat tajam dari sekitar Rp 2.500 menjadi Rp 17 ribu/US$. Tak ayal, pasar valas ramai dan pesat. Ujung-ujungnya, Hai Hai kecipratan rezeki dan langsung membuka lima cabang lagi. Dan, tahun 2003 dua gerai lagi dibangunnya di Batam.

Lelaki yang terlahir dengan nama Tan Sui Han ini menjelaskan, nilai investasi untuk pembukaan satu money changer bervariasi. Rincian biayanya: pertama, biaya setoran ke bank seperti yang dipersyaratkan Bank Indonesia minimal Rp 150 juta. Kedua, ongkos sewa ruko dan renovasi sekitar Rp 120 juta/tahun. Ketiga, persediaan mata uang yang diperdagangkan paling tidak bernilai Rp 200 juta/hari di satu konter. “Kantor Hai Hai biasanya di awal bulan kerap kebanjiran nasabah dengan transaksi partai yang menukarkan valas hingga puluhan miliar sehari. Sebab, di Batam kan banyak turis asing dan perusahaan,” ia menjelaskan.

Sumber permodalan operasional Hai Hai belakangan berasal dari kantong Amat. “Tapi, awalnya saya pinjam dari famili Rp 150 juta,” ujar kelahiran Kabupaten Karimun, 5 September 1967 ini mengenang. Ia pun bercerita, saat merantau ke Batam, ia hanya membawa bekal uang Rp 500 ribu, sehingga harus menjalani hidup selama tiga tahun sebagai penjual es tebu di malam hari dan warung kopi di siang hari. Kendati begitu, ia masih menyempatkan diri mencari penghasilan tambahan dengan menjadi calo jual-beli valas di kalangan importir, toko dan supermarket.

Peraih penghargaan Pengusaha Indonesia Berprestasi Tahun 2001 dari Yayasan Nirwana dan Depperindag itu mengaku, dalam menjalani bisnisnya tidak selalu mulus. Ada suka dan dukanya. Sukanya, jika banyak transaksi. Dukanya adalah menghadapi risiko perampokan. Masalah regulasi Pemda Batam juga memengaruhi naik-turunnya bisnis money changer. “Jadi, otonomi daerah itu ada plus dan minusnya bagi Hai Hai,” ungkapnya. Artinya, selain perizinan lebih cepat, di sisi lain banyak pajak. Contoh, per Januari 2004 di Batam diberlakukan pajak pertambahan nilai atas barang mewah (elektronik), sehingga omset Hai Hai melorot 30% pada Maret 2004. Sebab, mayoritas nasabah Hai Hai dari kalangan pedagang dan konsumen elektronik.

Langkah ekspansif Hai Hai terus diayunkan. Tahun ini akan dibuka gerai baru di Diamond City Mal Batam. Lebih dari itu, Hai Hai berancang-ancang menyerbu pasar Jakarta. “Saat ini masih dilakukan survei, mungkin lokasinya di Mangga Dua,” kata Amat yang juga mempunya dua toko emas. Sebetulnya, ia juga ingin melebarkan sayap ke Malaysia dan Singapura, tapi karena BI tidak mengizinkan, tidak jadi. Padahal, potensi pasarnya besar sekali, karena banyak TKI di negeri jiran tersebut.

“Saya tidak ragu bersaing dengan pedagang valas Jakarta. Sebab, kami yakin dengan keunggulan Hai Hai,” Amat menegaskan. Kesiapan Hai Hai bertempur di luar kandang lantaran mengantongi tiga kelebihan. Pertama, siap membantu pembayaran importir yang mendatangkan barang dari Singapura. Kedua, menyediakan layanan antar-jemput yang dikawal polisi untuk transaksi di atas Rp 30 juta. Ketiga, memungut margin tipis, sebesar Rp 5-10 untuk penukaran uang kategori partai besar. “Kami tidak mengambil untung besar, yang penting kejar omset,” Amat membeberkan strategi bisnisnya.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag