Emi Nuel Jatuh Hati pada Dunia Ritel
Awal karier Emi sebenarnya di dunia logistik dan sempat menjadi Manajer Perencanaan Pemasaran DHL Indonesia. Persentuhannya dengan dunia ritel diawali ketika bergabung dengan Continent. “Sejak itulah saya melihat dunia ritel sangat menarik, terlebih bisa melihat adanya perubahan perilaku belanja masyarakat kita,” kata kelahiran Bandung 21 Agustus 1966 itu. Setelah berkarier di Continent (perusahaan ritel asal Prancis yang kemudian diakuisisi Carrefour) dan Hypermart, sejak Agustus 2008 ia dipercaya mengomandani jaringan ritel bahan bangunan: Mitra 10.
Tentang Hypermart, pria bernama lengkap Emi Nuel Malik itu menjelaskan, dia turut membangun hypermarket milik Grup Matahari itu hingga 2004. Waktu itu posisinya cukup strategis: VP Operasional, yang bersama-sama CEO melakukan perumusan strategis agar Hypermart berbeda dari hypermarket asing yang sudah ada.
Emi menerangkan, saat itu Grup Matahari, sebagai perusahaan lokal, melihat peluang di bisnis ritel dengan format hypermarket merupakan bisnis masa depan untuk food retailing. Lagi pula, organisasinya sudah ada, yakni Matahari Supermarket. Sebagai VP Operasional, Emi dipercaya mengembangkan format bisnis food retailing baru. “Saat itu belum ada namanya, format bisnis pun belum ada. Namun, ketika saya meninggalkan Hypermart, jumlah gerainya sudah 40. Dari revenue Rp 0 menjadi Rp 5 triliun,” ujarnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Keberhasilan Hypermart, menurutnya, lantaran kemampuan manajemen perusahaan ini mempelajari kelemahan Carrefour. Lantas, dibuatlah perbedaan yang menjadi ciri khas Hypermart. “Kala itu kami melihat, Carrefour harus membangun toko dengan luas areal 8-10 ribu m2,†ia menuturkan. Maka, Hypermart dibuat dengan konsep compact hypermarket yang bermain di size 3-6 ribu m2. “Dengan ukuran yang kebih kecil, Hypermart jadi lebih tahan banting kala krisis, daripada yang size-nya besar,” katanya. Selain itu, Emi pun mempelajari keberhasilan Giant di Malaysia dan Argentina dengan konsep ukuran yang fleksibel.
Setelah di Hypermart, Emy menerima pinangan PT Catur Mitra Sejati Sentosa, perusahaan yang menaungi Mitra 10 dan Mitra Express untuk menjadi presdir. Ia meyakini, ke depan konsep yang diusung Mitra 10 pun bisa lebih maju. Terlebih, pemilik saham sangat visioner. “Saya lihat, behavior sifting konsumen juga akan terjadi di industri ritel bahan bangunan, seperti yang telah terjadi di food retail,” tuturnya. Terlebih sudah ada beberapa pemain asing yang mulai merangsek, seperti Home Pro (Thailand) dan Home Depo (Amerika).
“Pemilik melihat adanya peluang dan ancaman akibat perkembangan ini, berarti harus ada perubahan yang tepat untuk Mitra 10,” Emy menganalisis. Setelah 12 tahun berdiri, pemilik Mitra 10 berani menggunakan profesional untuk memimpin usaha ritelnya itu. Sebelumnya, memang selalu dipegang keluarga pendiri. “Saya diminta membantu pemegang saham untuk mengubah kultur dalam perusahaan. Saya harus bisa menegaskan kepada internal, what business we are in?†ungkap Emi.
Selama ini, Mitra 10 diposisikan sebagai building material provider. “Ini harus didefinisikan ulang. Bukan lagi sebagai provider, tapi harus lebih advance. Mitra 10 harus menjadi solution. Itulah mengapa saya harus bisa mengubah mindset karyawan,” kata Emi. Jadi, bukan sekadar jualan bahan-bahan bangunan, tapi juga menyediakan home improvement.
“Saya harus bisa me-refresh konsep ini di dalam, karena sesungguhnya konsep ini sudah ada sebelumnya, tapi belum maksimal,” ia menambahkan. Mitra 10 dibagi menjadi dua format, yaitu superstore (area penjualan 2.000-6.000 m2) dan express (di bawah 1.000 m2). Saat ini ada 24 cabang Mitra 10, sekitar 15 cabang merupakan superstore, sedangkan sisanya berformat express. “Namun dengan adanya banyak pemain baru, kami diharapkan bisa lebih cepat melakukan perubahan dengan melakukan refreshing tadi. Bukan sekadar menjadi provider, tapi juga menjadi mitra solusi,†ia menjelaskan.
Hingga kini ada tiga cabang yang menyediakan renovation solution, yaitu Cibubur, Denpasar dan Surabaya. “Tahun ini kami berharap dapat menyediakan layanan Renovation Solution Corner di semua cabang superstore,†ia berucap mantap. Di Renovation Solution, Mitra 10 menyediakan layanan konsultasi gratis bagi pelanggan, dengan menyediakan orang yang kompeten seperti arsitek, ahli bahan bangunan dan ahli konstruksi. Selain itu, mereka bisa mengandalkan jaringan Mitra 10 jika membutuhkan tukang, seperti tukang pompa air, tukang listrik dan tukang pasang keramik. “Tapi bukan kami penyedia tukang itu. Kami hanya menyediakan jaringan, pembayaran jasanya diserahkan ke mereka,” tuturnya.
“Kami berupaya konsumen mau lebih lama di dalam toko agar yang tadinya sekadar window shopping, lalu melakukan purchasing,” ujar pria yang juga menggali ilmu di Executive Center for Global Leadership milik Tanri Abeng itu. Saat ini ia sedang memperbarui sistem supply chain agar proses bisnis lebih efisien dan mudah dalam pengontrolan. Hingga 2013 diharapkan akan ada 50 gerai Mitra 10.
Andy Totong, Direktur Merchandise & Pemasaran Mitra 10, melihat bahwa banyak orang yang pintar berteori tapi eksekusinya kurang. “Emi punya keduanya, cukup lama di ritel dan eksekusinya bagus,” kata pria yang juga anak pendiri Mitra 10 itu. Menurut Andy, sejauh ini perombakan dan manajemen internal yang dipandu Emi berjalan di track-nya. Ia berharap, Emi, yang memiliki pengalaman panjang dan masih muda, bisa menjadikan Mitra 10 lebih fresh dan maju. “Leadership dan skill dalam melakukan eksekusi merupakan kelebihan Emi. Saya pikir itu adalah perpaduan yang bagus.”***
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.