Upaya Cipaganti Menjadi Konglomerat
Wilayah ekspansi Cipaganti saat ini adalah berbagai kota di Jawa Tengah, seperti Semarang dan Solo, plus Yogyakarta. â€ÂDan kami akan terus mengembangkan hingga ke Bali dan Lombok, setelah menggarap Jawa Timur seperti Surabaya,†ungkap Andianto seraya menambahkan, juga akan mengembangkan jasa transportasi darat di jalur Trans-Kalimantan pada akhir 2009. â€ÂKe depan, bisnis transportasi darat ini akan diwaralabakan pada akhir 2009,†ujarnya sambil menjelaskan, bisnis transportasi darat memberi kontribusi hingga 40% bagi total pendapatan Cipaganti.
Diversifikasi usaha Cipaganti dimulai pada 1994. Saat itu perusahaan ini berekspansi ke bisnis properti dengan membangun Perumahan Cipaganti Graha (PCG) I di Jl. Ciwastra Kodya Bandung, yang kemudian dilanjutkan dengan PCG II-III (1999-2000). Pada 2002 Cipaganti membangun perumahan kelas atas di Jl. A.H. Nasution, Bandung, dengan nama Cipaganti Dream Land sebanyak 150 unit, disusul dengan perumahan kelas menengah bernama Cipaganti Rahayu Regency di Cipamokolan Soekarno-Hatta, Bandung, pada 2005 sebanyak 350 unit. â€ÂSaat ini kami juga memiliki properti untuk kelas menengah di Banjarmasin seluas 15 hektare bernama Cipaganti Residence,†kata Andianto yang lahir di Banjarmasin, 5 Desember 1962.
Sukses di properti menambah rasa percaya diri bungsu dari empat bersaudara itu untuk merambah bisnis rental alat berat buat industri tekstil di Bandung. Pada 1995, ia menyewakan forklift dan crane. Inilah cikal bakal berdirinya divisi alat-alat berat. Pada 2002, Cipaganti mulai merambah bisnis penyewaan alat berat seperti ekskavator ke perusahaan tambang batu bara di Bengkulu serta dumptruck dan buldoser untuk industri konstruksi dan infrastruktur di Bandung.
Dua tahun kemudian Cipaganti membuka kantor cabang di Banjarmasin, disusul Palangkaraya pada 2005, serta Pekanbaru dan Balikpapan pada 2007 dan 2008. Saat ini sektor pertambangan mendominasi hingga 80% penggunaan alat-alat berat dari Grup Cipaganti. Selebihnya, alat-alat berat ini digunakan di sektor perkebunan, pertanian, kehutanan, perikanan tambak dan pekerjaan umum. Kini. Cipaganti memiliki 360 unit alat berat yang terdiri atas 10 jenis, antara lain ekskavator, buldoser, dumptruck, self loader, grader, crane dan wheel loader dengan kontribusi 45% bagi total pendapatan Cipaganti.
â€ÂSejak tahun 2004 pula kami terjun menjadi kontraktor pertambangan,†ujar Andianto yang hanya sempat mengenyam pendidikan sampai SMA. Kini Cipaganti memiliki tiga lokasi pertambangan dalam bentuk Kuasa Penambangan di Kalimantan Timur, yaitu di Penajam (dengan PT Paser Bolum Taka) seluas 600 ha, dan dua lokasi di Melak (lewat PT Inti Jaya Prima Coal-Melak dan PT Borneo Energi Resources-Melak) dengan luas total hampir 5 ribu ha.
Ekspansi habis-habisan itu tak menuntaskan dahaga Andianto. Pada 2008 Cipaganti merambah bisnis baru, yaitu tour, travelling, airlines ticketing & bus pariwisata, BPR syariah, serta layanan dokumen, paket dan kargo (Cipaganti Express). Untuk itu, Grup Cipaganti membeli 30 bus Hino terbaru dalam berbagai ukuran (27, 40 dan 45 tempat duduk).â€ÂSaya ingin menguasai transportasi darat dari ujung ke ujung. Jadi, kami bisa menjadi perusahaan transportasi terkemuka,†kata Andianto mengungkap ambisinya.
Di bisnis BPR syariah, Cipaganti memasukinya dengan cara mengakuisisi BPR Dana Tijarah yang berlokasi di Cimahi pada 2009. â€ÂSaat ini bisnis syariah sedang tren,†ujarnya beralasan. BPR tersebut memiliki tiga cabang di Bandung. Usaha lain di luar alat-alat berat dan otojasa memberi kontribusi 10%-15% terhadap total pendapatan perusahaan yang memiliki sekitar 2.000 karyawan ini.
Andianto mengungkapkan, saat ini ia masih menjadi motor ekspansi. Ekspansi usaha yang ia lakukan berdasarkan pertimbangan peluang yang tersedia. â€ÂApa kebutuhan pasar, lalu saya create,†katanya. Mengenai alokasi SDM, ia punya kiat tersendiri. â€ÂUntuk posisi-posisi penting, saya rekrut orang yang punya pengalaman di perusahaan besar di Jawa, lalu saya bawa ke daerah,†ujar pria yang sedang mempersiapkan penerapan ISO 9001-2008 di perusahaannya itu. Nah, untuk memperkuat manajemen di kantor pusat, ia mengajak keluarganya yang sebelumnya bekerja sebagai profesional di perusahaan lain. Sebutlah, saudara kandungnya, Rubianto Setiabudi; tantenya, Julia Sri Rejeki; dan istrinya, Yulinda Setiawan.
Menurut Steve Soedjatmiko, konsultan dari Red Piramid, setiap bidang membutuhkan keahlian tersendiri kecuali bisnis tersebut memang sudah dirintis lama. Dalam konteks Cipaganti, Steve mengingatkan pengembangan usaha dengan mengandalkan 1-2 orang saja berisiko pada manajemen yang tipis. â€ÂIni akan menjadi batu sandungan. Karena organisasinya bisa nggak sanggup dan orang-orangnya tak tahan menggelindingkan perusahaan,†katanya.
Steve melihat ada beberapa bisnis yang cukup berat karena berada di luar kompetensi utama Cipaganti, seperti properti, tour & travel, serta BPR. â€ÂBisnis di bidang wisata sepertinya dekat dengan bisnis (sewa) mobil, padahal sangat berbeda,†ujarnya. Jadi, menurutnya, ekspansi pun harus memilih. â€ÂFokuslah pada core competence,†katanya. â€ÂLalu, jika ingin masuk pada satu bisnis, masukilah hingga kuat,†katanya lagi menyarankan.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.