Pemasaran Unik Ala Aimia

Pemasaran Unik Ala Aimia

Salah satunya di Hotel Intercontinental Mid Plaza, Jakarta. Menurut Syahrul, Manajer Penjualan PT Mid Plaza Prima, kerja sama dengan pihak Aimia berlangsung sejak 2004. “Produknya tidak biasa dan rata-rata butik yang berada di hotel kami menawarkan produk yang eksklusif,” tuturnya. Dan, Aimia masuk kategori itu. “Tempat kami terkenal sebagai tempat berkumpulnya orang Jepang. Kebetulan Aimia sesuai dengan selera orang Jepang,” ujarnya. Syahrul mengungkapkan, selama ini Aimia menunjukkan kinerja yang bagus sehingga terpilih menjadi salah satu tenant yang barangnya didisplai di dekat lobi hotel. “Biasanya barang yang diletakkan di sana adalah barang yang luks dan tidak semua barang bisa didisplai di sana,” imbuhnya.

Menutut Retno Savitri, Manajer Operasional Ritel Butik PT Amanda Krya Sentosa — manajemen Hotel Four Seasons Bali — pihaknya bekerja sama dengan Aimia sejak akhir 2005, dengan sistem konsinyasi, yaitu butik mendapat persentase dari margin pejualan Aimia. Dengan sistem konsinyasi, keputusan perpanjangan kontrak produk bergantung pada kinerja penjualannya. “Kami perpanjang karena banyak tamu yang suka, sehingga tetap diminati,” katanya. Diungkapkan Retno, penjualan Aimia terbilang bagus, yaitu 10-14 unit/bulan. Mayoritas pembelinya turis Asia dan Rusia. “Terutama turis Rusia. Daya beli mereka lebih tinggi dibandingkan negara Asia.”

Begitulah cara Christina Aryani memasarkan produk besutannya. Perempuan tinggi semampai ini boleh dibilang berani melawan arus utama bahwa berjualan produk kelas atas harus membuka butik di mal-mal. Anak seorang veteran perang ini justru melirik hotel bintang lima. “Tidak banyak orang menyukai ular dan buaya. Karena itu, saya memasarkan dari satu hotel ke hotel lainnya,” ujarnya. Tas-tas buatannya dibanderol Rp 1-5 juta, bahkan tas dari kulit buaya yang sampai Rp 16 juta punya kelas pembeli tersendiri. “Yang paling cepet moving-nya snake skin seperti ular piton dan kobra,” katanya menjelaskan.

Pilihan shopping gallery hotel, menurut Chris, supaya produk Aimia dikenal turis asing, terutama Jepang. Sampai saat ini, ia tidak berpikiran memasarkannya di pertokoan umum. “Saya nggak ngoyo-ngoyo, ya. Jalani aja jalur distribusi yang sudah ada. Pasar saya sangat spesifik, tidak mudah masuk lewat jalur distribusi lainnya,” katanya. Bandung dan Surabaya pernah dijajalnya ketika mengikuti pameran dengan sebuah organisasi perempuan. Ternyata, selera dan daya beli konsumen di kedua kota itu tidak masuk dalam hitungan Chris.

Bagi Chris, memperoleh kepercayaan dari manajemen hotel tidaklah sulit. Kemudahan berbisnis sudah langsung ia rasakan sejak awal ia mengajukan proposal kepada Intercontinental Mid Plaza. “Barang saya tidak jelek. Kredibilitas saya juga tidak perlu diragukan. Buktinya, kontrak saya diperpanjang terus selama empat tahun sampai sekarang. Itu kan berarti mereka menganggap saya sebagai partner mencari uang,” katanya lugas.

Dengan jalur pemasaran semacam itulah, Aimia dapat dikenal oleh wisatawan asing. “Karena dari satu hotel, kartu nama saya bertebaran. Buyer lebih mudah mengakses saya,” ujarnya. Cabang Aimia dari tahun ke tahun bertambah. Kini ada 8 (satu butik di Intercontinental, 6 di butik hotel di Bali, dan satu di Singapura). Untuk butik hotel di Bali, ia menggunakan sistem titip jual, seperti di Ayana Bali (dulu Ritz Carlton), Legian, Four Seasons dan Saint Regis. “Bagi saya tidak ada masalah. Saya tidak perlu keluar uang, buat apa buka butik sendiri,” katanya. Di butik hotel tersebut, Aimia diberi tempat semacam stand kecil dengan penataan yang bagus. Sementara di Singapura, Aimia menjual ke satu agen. “Dalam perjanjian, hubungan jual-beli kami hanya sampai pada antara saya dan agen. Selebihnya saya tidak tahu kepada siapa saja mereka menjual,” ungkapnya. Ia menambahkan, tidak menutup kemungkinan tahun ini Aimia sudah bisa didapatkan di Rusia. “Dari pengalaman saya, sudah banyak klien dari Rusia yang sudah beli.”

Selain di Rusia, rencana terdekat pengembangan bisnisnya adalah menjual tas berbahan kulit sapi ke Australia. Mulai Januari lalu, ia mengembangkan produk dari kulit sapi yang diberi merek Dirty Little Secret (DLS). Pasar DLS lebih muda, yaitu anak remaja sampai usia 30-an. Harga produk bahan baku sapi mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta. Sama dengan Aimia, DLS tidak diproduksi secara massal. Seiring dengan perkembangan DLS, ia jadi wira-wiri ke Australia. Pasalnya, ia tengah menjajaki dan mengirim proposal ke beberapa agen. “Jalur bisnisnya sudah berbeda dari Indonesia,” ungkap ibu seorang putri ini. Di Australia, DLS harus masuk melalui agen yang disebut agen fashion yang bertebaran di sana. Agen fashion itu yang berfungsi sebagai distributor untuk desainer dan toko ritel di sana. “Sebenarnya, bisa saja membuka butik sendiri. Tapi cara lewat distributor itu sudah teruji, kenapa saya harus melawan arus,” ungkapnya.

Dari bengkel kerjanya di wilayah Cibubur yang menyatu dengan rumahnya, dengan jumlah karyawan tidak lebih dari 15 orang, Aimia terus menggelinding. Pasar awalnya adalah jaringan pertemanannya. Awalnya, ia membidik pasar ekspat yang berusia 25-60 tahun.

Kini produksinya mencapai 50-100 tas/bulan. Walaupun pasarnya sangat spesifik, Chris mengaku ada tantangannya mengelola bisnis berbahan baku kulit ular dan buaya karena Indonesia dan negara lainnya terkena jumlah kuota yang bisa digunakan dalam pemanfaatan kulit ular dan buaya. Bagi pemasok diperlukan lisensi resmi yang menandakan bahwa mereka sudah mematuhi aturan pemakaian yang mencegah kedua jenis binatang itu dari kepunahan. Kedua binatang itu statusnya boleh dimanfaatkan secara terbatas. Hanya saja, karena buaya semakin sulit, sudah beberapa waktu Aimia tidak memproduksi tas berbahan kulit buaya. “Hanya terima pesanan,” katanya.

Diakuinya, setelah turis asing, ibu-ibu pejabat dan kalangan sosialita menjadi target pembelinya. “Saya nggak mau jual nama orang. Saya cuma mau jual barang,” ucapnya sambil terkekeh ketika diminta menyebutkan beberapa nama pejabat yang menjadi pelanggan Aimia. Yang pasti, menurutnya, kebiasaan orang Indonesia yang selalu ingin mempunyai barang yang sama dengan temannya membuat pemasaran Aimia lewat getok tular kian efektif. Bahkan, ia tak segan-segan membawa beberapa koleksinya di hadapan para sosialita yang sedang mengadakan party di rumah pribadi salah seorang dari mereka. Menurutnya, penjualan Aimia setiap bulan 10-20 tas per gerai. “Ternyata, jaringan pertemanan sangat berpengaruh dalam penjualan tas ini,” ungkapnya.

Diakui Dessy Chang, ia mendapat rekomendasi dari temannya tentang Aimia. Setelah melihat kualitasnya, perempuan berusia 31 tahun ini memutuskan membeli. Kebetulan pula, butik Aimia bertetangga dengan klinik gigi langganan ibu rumah tangga itu. “Kalau saya sedang ke dokter gigi, saya sempatkan mampir ke Aimia,” ucap ibu satu anak itu. Harga produk yang dibelinya berkisar Rp 1,5-5 Juta. “Saya suka Aimia karena produk Indonesia dan pengerjaannya sangat rapi untuk kelas UKM,” ungkap pehobi jalan-jalan itu. Di matanya, Aimia tidak kalah dari tas impor.

Untuk menggeluti bisnis tas ini, Chris sampai memutuskan berhenti kuliah. “Sampai-sampai kuliah saya di Perbanas tidak lulus,” katanya. Sebelum menekuni Aimia, ia berbisnis aksesori telepon seluler yang dibelinya dari Prancis. Kala itu, bisnis ini belum menjamur seperti sekarang. Ia pernah bekerja sama dengan sebuah perusahaan seluler ternama untuk memasarkannya. Namun, usaha itu tidak berjalan lama. “Saya nggak tahan dengan produk Cina yang murah,” ujarnya.

Mentok di bisnis aksesori, Chris beralih menekuni cenderamata seperti payung dan jam tangan. Ia bekerja sama dengan sebuah bank swasta. Lagi-lagi, bisnis ini gagal dengan masuknya produk Cina. Merasa tidak bisa bersaing, ia banting setir ke bisnis tas kulit. Lewat Aimia, kelahiran 17 Juli 1975 ini menemukan Dewi Fortuna. Kini, setelah memastikan bisnisnya berjalan dengan baik, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Ilmu Hukum Universitas Atma Jaya dan Jurusan Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag