Listed Articles

Mengaitkan dengan Bottom Line

Oleh Admin
Mengaitkan dengan Bottom Line

Membincangkan bottom line, salah satu yang menentukannya adalah proses kerja organisasi yang berkaitan dengan supply chain (rantai persediaan). Dalam konteks ini, ada temuan menarik. Penelitian yang digelar Universitas Stanford, Insead dan Accenture terhadap lebih dari 600 perusahaan kelas dunia menunjukkan adanya kaitan erat antara keberhasilan rantai persediaan dan kinerja keuangan. Di sini, temuan utama menunjukkan empat kunci yang menarik diperhatikan:

Pertama, para eksekutif senior pada perusahaan-perusahaan terkemuka melihat rantai persediaan merupakan pengendali kritis atas nilai para pemegang saham dan merupakan diferensiasi kompetitif perusahaan. Mendukung perspektif tersebut, hasil penelitian menunjukkan adanya kaitan erat antara rantai persediaan berkinerja tinggi dan keberhasilan keuangan.

Kedua, perusahaan-perusahaan terkemuka menginkorporasikan rantai persediaannya ke dalam strategi bisnis mereka dan sangat memperhatikan pengintegrasian model-model operasional. Contohnya, Nokia memiliki program pengenalan produk baru secara cepat dan sering — yang membantu percepatan pendapatan serta kenaikan — yang didukung oleh rantai persediaan global yang bukan cuma fleksibel, tapi juga cepat. Sebagai dampaknya, raksasa Finlandia itu mengubah sistem manufacturing-nya sehingga sanggup merespons perubahan dengan cepat, melakukan logistik pengiriman cepat, menciptakan web suplier global yang tak hanya menghubungkan para pemasok dengan pabrik-pabrik, tapi juga mendukung sistem inventori vendor dan perencanaan kolaboratif.

Intinya, analis penelitian ini melihat ada tiga pendekatan khas di dalam memiliki model operasional terintegrasi:

(a) Out of the box: mengembangkan pendefinisian ulang model operasional sebagai komponen strategi utama. Contohnya, Dell memulai model yang berhubungan langsung dengan pelanggan sehingga memungkinkan pelanggan melakukan kustomisasi jenis produk dan sistem pengiriman, sekaligus meniadakan jalur tradisional yang lebih mahal;

(b) Later in life: melakukan transformasi terhadap model operasional terintegrasi pada saat kesempatan muncul. Gerai minimart Seven-Eleven di Jepang melakukan perubahan pengiriman 8 kali/toko/hari ketika menyadari bahwa beragam pilihan atas produk utama pada waktu tertentu ternyata berpengaruh baik terhadap pendapatan dan keuntungan;

(c) Pelaku transformasi terfokus: mengadopsi model operasional terintegrasi pada bagian bisnis tertentu. Misalnya, General Electric dan Home Depot bekerja sama dalam pengembangan peralatan rumah tangga dengan konsep “beli satu/buat satu dan kirim satu”. Pendekatan ini mengurangi inventori di toko ritel dan jalur distribusi, tapi memberi kesempatan pada pelanggan memilih beragam produk sesuai kebutuhan dan jasa pascabayar yang tersedia.

Itu adalah paparan dua kunci utama. Adapun yang ketiga, perusahaan yang menerapkan rantai persediaan berkelas menerapkan inovasi di dalam model-model operasionalnya, terutama yang berkaitan dengan alih daya, integrasi internal-eksternal, serta keselarasan antara permintaan dan persediaan. Tingkat inovasi perusahaan adalah dalam hal penyelarasan antara persediaan dan permintaan, atau penambahan keuntungan dengan menggunakan teknologi generasi berikut — misalnya penggunaan RFID untuk melacak keberadaan produk dan integrasi organisasi.

Pada kunci yang terakhir (keempat), perusahaan yang menerapkan rantai persediaan berkelas secara mantap mengimplementasikan strategi berikut kemampuannya, dan selalu mengadaptasikannya dengan perubahan kebutuhan pasar. Sederhananya, perusahaan yang jago dalam rantai persediaan melakukan hal-hal mendasar secara baik dengan memastikan bahwa desain proses-proses dapat dengan mudah dijalankan, tapi dibarengi dengan standar kinerja yang jelas dan terarah.

Berdasarkan pengamatan para pelaku penelitian, tiga strategi utama yang diterapkan perusahaan dalam membangun rantai persediaan -? apa pun industrinya — adalah:

1. Memperpendek rantai persediaan untuk mengurangi biaya dan memperbaiki keuntungan. 2. Tanpa rintangan menerapkan keahlian rantai persediaan bersama-sama secara internal dan dengan para mitra kerja. 3. Terus-menerus mengevaluasi strategi berikut model-model operasional dalam mengantisipasi perubahan kondisi pasar. Gerai-gerai Seven-Eleven di Jepang melakukan pengiriman yang amat sering untuk memenuhi keinginan pelanggan yang selalu berubah setiap saat. Pengantaran produk juga selalu disertai penawaran produk dan jasa baru.

Strategi-strategi utama ini adalah suatu keharusan yang menempel di mana saja dan kapan saja; merupakan arahan strategis yang layak diterapkan perusahaan yang melakukan agenda transformasi rantai persediaan. Tentu, tidak harus dua perusahaan melakukan jalan transformasi yang sama. Namun, perlu dicatat bahwa perusahaan yang paling berhasil adalah yang mampu mengonstruksi rantai persediaan yang bersifat fleksibel dan kolaboratif.

# Tag


    © 2023-2024 SWA Media Inc.

    All Right Reserved