Gaya Hidup Demam Sekolah Robot
Belakangan penggemar robot memang meledak di berbagai daerah. Tak hanya di Jakarta, di kota lain seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Medan dan bahkan Jember, bermunculan komunitas penggemar robotika. Seperti candu, para penggemar ini rela menghabiskan waktunya untuk mengutak-atik algoritma robot-robot yang akan dibuat sembari mencocokkan maket dengan komputer.
Yudi Mintoro Sumali, pemilik Robotics Education Centre, mengatakan, bermain dengan robot kini memang sedang digemari di Indonesia. Menurut sarjana teknik informatika dari Sekolah Tinggi Teknik Surabaya ini, saking banyaknya peminat, di mana-mana kini bermunculan sekolah robot, baik di kota besar maupun kota kecil. “Sekarang terjadi demam robot,†ujarnya sembari menduga kompetisi internasional sebagai salah satu daya tarik peminat.
Menurut kelahiran Madiun 20 Maret 1973 ini, sebenarnya berkreasi dengan robot sudah diperkenalkan di Indonesia sejak 2000-an, yakni oleh ROBOKidz (Surabaya) dan sebuah sekolah robot di Muara Karang, Jakarta. Namun, waktu itu respons pasar tidak sebagus sekarang. “Mungkin awareness masyarakat masih rendah,†ujar Yudi, yang seingatnya untuk sekolah di Muara Karang pembuatan robotnya menggunakan Fischer.
Dibenarkan Sutanto Gunawan, pemilik ROBOKidz, dialah sesungguhnya pionir di bisnis sekolah robot. Tepatnya Juni 2001, Sutanto mengajak beberapa temannya mendirikan sekolah robot pertama di Surabaya. “Di Indonesia memang belum ada, tapi kalau di luar negeri sudah berkembang,†ujarnya melalui wawancara telepon. “Saya berpikir ingin membuat suatu bisnis yang daur hidupnya masih panjang, yang dibutuhkan di masa yang akan datang,†kata sarjana teknik elektro dari Universitas Satya Wacana, yang sempat bekerja untuk Schlumberger ini.
Kelahiran Surabaya tahun 1966 ini mengakui, di tahun-tahun awal sangat sulit mengenalkan sekolah robotnya. “Waktu saya baru mulai, siapa yang tahu, apa bisa anak-anak diajari robot,†ujarnya mengenang. Kesulitan pertama, alat yang harus didatangkan langsung dari Singapura. Produk yang digunakan adalah merek Lego. Kedua, masalah kurikulum. “Kami harus modifikasi kurikulum karena kurikulum dari luar tidak bisa serta-merta diajarkan pada anak-anak Indonesia saat itu,†ia menjelaskan.
Hingga tahun ke-9, ROBOKidz sudah punya 6 cabang, yakni di Surabaya (dua), Semarang, Solo, Bali, Bogor. Masing-masing cabang memiliki murid 200-300 orang dari tingkat TK hingga SMA dengan biaya per bulan Rp 200-250 ribu.
Dikatakan Sutanto, kini ia tidak sendirian. Puluhan sekolah robot baru turut menikmati manisnya bisnis pendidikan kreatif ini. “Tidak apa-apa. Kuenya masih besar sekali,†katanya tandas. Di Jakarta saja jumlah sekolah robot bisa mencapai 20-an. “Bahkan dari Singapura juga ada yang sudah mulai masuk,†tambahnya.
Pemain sekolah robot lainnya adalah Yudi Mintoro Sumali yang resmi mendirikan Robotics Education Centre pada 15 Mei 2006. Tempat pertamanya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Dengan modal awal sekitar Rp 150 juta, Yudi menyediakan lima set robot untuk muridnya yang di tahap awal berjumlah 25 orang.
Untuk memopulerkan sekolahnya, selain promosi ke sekolah-sekolah, Yudi juga berpromosi lewat media kawasan (media yang hanya untuk satu kawasan, seperti media Kelapa Gading, Serpong, dan sebagainya), serta acara di mal, membuat pameran atau stan di mal, lalu mengundang orang-orang untuk mencoba merakit robot. “Waktu kami baru buka tiga bulan langsung diundang Mal Artha Gading untuk buka stan,†katanya.
Pemilik sekolah robot lainnya adalah Gunawan Tunas yang mendirikan CreatiVkids. Gunawan yang lahir di Lampung 33 tahun lalu memang berangkat dari dunia pendidikan. Sebelumnya ia menjabat General Manager PT SIP, perusahaan pendidikan yang juga punya usaha di bidang ritel. Gunawan melihat, banyaknya sekolah internasional pasti akan mendorong lahirnya kegiatan berbasis kreativitas, antara lain robot. “Kami menangkap peluang itu,†ujarnya. Ia juga melakukan pendekatan ke sekolah internasional.
CreatiVkids didirikan pada Agustus 2007. Ia menggunakan produk dari merek Lego. Modal awalnya, tanpa tempat, berkisar Rp 150-200 juta. “Saya juga mencoba berkomunikasi dengan teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan, ternyata mereka banyak yang tertarik,†ujar sarjana ilmu komputer dari Universitas Bina Nusantara ini, yang selain membuka cabang sendiri, ia pun lalu menerapkan sistem lisensi.
Saat ini CreatiVkids punya 31 centre: 6 centre milik sendiri; 25 cabang lainnya kerja sama dengan pihak lain dengan pemberian lisensi. Cabang tersebut sebagian besar di Jabodetabek. Selebihnya ada di Cilegon-Banten, Surabaya, Malang dan Lampung. Total muridnya di seluruh kota hampir 1.000 orang. Satu cabang rata-rata 60 murid. Masing-masing murid membayar Rp 200-500 ribu/bulan.
Semangat mendirikan sekolah robot tidak hanya datang dari pengusaha di kota besar. Di Solo, Ananta Dwi Rajasa, mantan guru komputer SD Marsudirini ini pun tergerak memulai bisnis sekolah robot, dengan mendirikan Robota Robotics School.
Awalnya Ananta iseng-iseng belaka. Ia membeli satu set robot dari Amerika Serikat melalui Internet, seharga Rp 5 juta. “Murid-murid saya bilang kalau anak-anak di Jepang sudah bisa merangkai robot, mereka juga ingin,†ucapnya mengenang. Sejak itulah, Ananta mempelajari soal robot. Setelah itu ia memutuskan untuk membuka sekolah robot, pada Oktober 2006.
Modalnya, sebuah garasi milik saudaranya dan komputer untuk membuat program buat si robot. Produk robot yang diusungnya adalah keluaran merek Fischer. Ia menyebar brosur ke sekolah-sekolah. Gayung bersambut, banyak murid SD yang tertarik, bahkan banyak yang membayar langsung buat beberapa bulan ke depan. Dari situlah bisnisnya bergulir.
Saking sibuk mengurus murid dan sekolah robotnya, ia pun akhirnya berhenti mengajar komputer. Tahun 2008, Ananta membuka cabang di Yogya. Tak lama berselang, pehobi mengotak-atik robot yang suka membaca ini pun mengembangkan sekolah robotnya lewat sistem waralaba. Alasannya, banyak murid di kota lain yang juga tertarik membuat robot. Salah satu yang ia lakukan untuk mengajak orang menjadi franchisee-nya adalah lewat iklan di majalah dan pameran.
Untuk menjadi pemegang waralaba sekolah robotnya, seorang calon franchisee harus menginvestasikan dana sekitar Rp 250 juta. Break even point akan dicapai dalam dua tahun. Target muridnya siswa SD dan SMP. Di sekolahnya kelas dibagi menjadi lima level, dari yang dasar hingga tingkat lanjut. Setiap level minimum punya empat robot. Lama belajar setiap level 4-6 bulan.
Hingga saat ini Robota Robotics School yang ia dirikan sudah punya 14 cabang, yang tersebar di beberapa kota: Solo, Yogya, Semarang, Jember, Tangerang, Jakarta (Kelapa Gading), Bogor (Cibubur), Bandung, Pekanbaru, Balikpapan, Samarinda, Padang, Malang, Purwokerto. Yang miliknya sendiri cabang di Solo dan Yogya. “Sampai akhir tahun ini akan ada 20 cabang,†ujar kelahiran Jakarta 4 Juni 1970 ini. Jumlah murid per cabang berkisar 80-120 orang. Murid bisa membayar per paket atau bulanan. Biaya yang harus dibayarkan per murid Rp 200-350 ribu/bulan.
Dikatakan Yudi, kendati menjadi tren, sekolah robot diperkirakan akan tetap banyak penggemarnya. Karena porsi kreativitasnya sangat besar. Cara belajarnya lebih pada praktik dan aplikasi. “Robot hanya sebagai alat,†katanya seraya menambahkan, yang turut diasah adalah logic thinking dan teamwork. “Setiap kompetisi selalu tim,†imbuhnya.
Gunawan menambahkan, tahun 2009-2010 akan menjadi titik puncak sekolah robot. Setelah itu akan ada seleksi alami. Sekolah yang punya kualitas yang bakal menang, tetapi jika kurang ya pasti ada yang tutup. Kompetisi semacam ini, bagi Gunawan, justru menantang karena menuntutnya untuk terus memperbaiki diri. “Saya akan fokus pada riset dan pengembangannya agar kualitas lebih baik,†ujarnya mengenai apa yang dia lakukan untuk tetap bertahan di tengah persaingan.
Reportase: Wini Angraeni
Daftar Sekolah Robot No. Nama Pemilik Tahun berdiri Jumlah Gerai/ Centre
1. ROBOKidz Sutanto Gunawan Juni 2001 6
2. Robotics Education Centre Yudi Mintoro Sumali Mei 2006 15
3. Robota Robotics School Ananta Dwi Rajasa Oktober 2006 14
4. CreatiVkids Gunawan Tunas Agustus 2007 31
5. RobotKidz Hanny Agustine Juli 2007 7
6. Klub Robotik G-Com Technology Lucas C.Gee 2000 20
7. Robo Club Sony Sumaryo 2006 4
8. Robotix Indonesia Santoso Gondowidjojo 2007 1
9. Robotics Alive/My Robo
Irvan September 2008
1
10. Sari Kreator ? ? ?
Diolah dari berbagai sumber.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.