Mengeruk Fulus dari Masakan Nusantara

Mengeruk Fulus dari Masakan Nusantara

Hobi ngemil kudapan tradisional bisa menjadi sumber inspirasi bisnis. Pengalaman mengesankan ini dialami Fatimah. Bermula dari kebiasaan membeli aneka kue basah di toko Panmerino, siapa sangka kini dia justru menjadi pemilik toko yang terletak di Plaza Melawai, Blok M,tersebut. Tidak tanggung-tanggung, gerai toko kue Jakarta itu berkembang menjadi resto masakan Indonesia bernama Kari Umbi dengan 8 gerai. Untuk 6 gerai lama total omset Rp 300 juta/bulan atau Rp 3,6 miliar/tahun, sedangkan dua gerai belum kelihatan hasilnya karena baru dua bulan beroperasi.

Keberhasilan Fatimah itu tidak datang sekonyong-konyong. Wanita kelahiran Rengasdengklok, Karawang, 21 April 1945, ini mengawali usaha 20 tahun silam. Dia mengaku tidak merintis sendiri toko kuenya, melainkan dari hasil akuisisi toko kue Panmerino yang berdiri tatkala Plaza Melawai mulai beroperasi. Kebetulan pemilik Panmerino ingin menjual tokonya lantaran tidak ada generasi penerusnya. Peluang itu tidak disia-siakan Fatimah yang sudah lama menjadi pelanggan setia Panmerino. Transaksi terjadi tahun 1989. Namun, ketika ditanya nilai transaksi toko itu, Fatimah memilih bungkam.

Saat Panmerino diakuisisi, kondisi toko terbilang laris. Pada masa itu rata-rata omsetnya Rp 300 ribu/bulan. Panmerino cukup terkenal sebagai penjual aneka kue basah, seperti pastel, kue talam, kue mangkok, kue lapis dan siomay.

Hampir setahun Fatimah mengelola toko kuenya dengan nama Panmerino. Dia menambah jenis produk dengan aneka keripik: tempe, talas, gadung, kentang plus sale pisang.Di tangannya, total pendapatan toko naik dua kali lipat menjadi Rp 600 ribu/bulan. “Saya cukup hoki karena omset naik, meski persaingan ketat dari penjual kue basah yang mempunyai toko maupun tidak,” imbuh pengusaha yang hobi bekerja ini.

Wanita yang terlihat cantik dan gesit di usia 60 tahun ini mengungkapkan, pada 1990, tokonya berganti nama dari Panmerino menjadi Kari Umbi. Mengapa? Rupanya, Fatimah terkesan dengan merek toko kue Karya Umbi di Bandung. Toko milik sahabatnya itu lebih dikenal sebagai produsen keripik-keripik khas Pasundan. Dia mengaku Karya Umbi membantunya dalam mempelajari cara berjualan kue hingga berhubungan dengan para pemasok. Nah, seizin pemilik Karya Umbi, Fatimah pun mencomot nama itu dan mengubahnya sedikit menjadi Kari Umbi untuk merek dagang produknya sendiri. “Dan, untuk menghormati pemilik Karya Umbi, saya tidak berjualan produk Kari Umbi di Bandung,” ucap Fatimah meyakinkan. Seiring dengan perubahan nama itu, Kari Umbi juga menjual aneka keripik guna melengkapi kue-kue basah yang selama ini jadi andalan toko.

Waktu pun berlalu dan Fatimah mulai kewalahan melayani pembeli yang tak pernah sepi. Sampai akhirnya dia berpikir untuk berekspansi. Maka, sejak 2005 Kari Umbi juga menawarkan aneka masakan khas Indonesia. Sebagai pilot project, dia membuka cabang perdana di Mal Pondok Indah 1. Tidak dinyana, konsumen antusias menyambut. Alhasil, dia pun “ketagihan” membuka beberapa cabang lagi, sehingga total toko berjumlah 6 geraidi Jakarta. Gerai lain berada di Bintaro Plaza, Jl. Panglima Polim, Plaza Semanggi dan Plaza Blok M. Sekadar catatan, hanya di Plaza Melawai konsep Kari Umbi dipertahankan murni toko kue. Kelima gerai lain ditawarkan dengan konsep toko kue plus resto.

Selain 6 gerai lama, sebulan lalu Kari Umbi membuka dua gerai baru di Mal Pondok Indah 6 dan Mal Metropolitan, Bekasi. “Kami juga menyiapkan outlet baru di Apartemen Hampton, dekat Tarogong Pondok Indah,” kata Herawati, anak Fatimah yang ikut mengelola Kari Umbi.

Pemilihan lokasi tidak asal tunjuk saja, karena ada targetnya. Herawati memberi contoh, ada misi lain dari rencana pembukaan gerai di Apartemen Hampton yang banyak dihuni ekspat itu. Tujuannya, memperkenalkan masakan Indonesia kepada orang asing di tengah gempuran masakan luar negeri di Tanah ir. Juga, tujuan gerai di Mal Pondok Indah 6: supaya dekat dengan anak muda yang demam masakan Baratsehingga Kari Umbi pun bekerja sama dengan resto Prancis di sana.

Dengan lokasi gerai yang strategis, jumlah pengunjung pun terus bertambah. Ujung-ujungnya, pendapatan pun menggunung. Dari 6 gerai lama, rata-rata mampu dibukukan omset Rp 300 juta/bulan atau Rp 50 juta/bulan tiap gerai. “Bahkan, outlet di Plaza Melawai mencapai Rp 50-60 juta/bulan,” kata Herawati. Sementara dua gerai baru yang dibesut sebulan lalu belum menunjukkan hasil signifikan.

Selain lokasi oke, derasnya omset Kari Umbi juga disokong lezatnya masakan. Untuk masakan, Kari Umbi memiliki racikan bumbu pokok yang menjadi “senjata rahasianya”. Semua dapur resto ini memasak nasi kunyit, mi tek-tek, nasi bakar, nasi tuktuk, sop buntut, soto mi dan ayam bakar. “Semuanya hasil utak-atik resep,” ungkap Fatimah. Dia bersama anak dan menantunya giat mengutak-atik bumbu dan resep masakan usantara.

Guna menghasilkan masakan yang lezat, dibutuhkan bahan baku berkualitas. Untuk itu, Fatimah tidak segan berburu langsung ke pasar tradisional yang tempatnya terpencar. Untuk belanja kebutuhan seafood, misalnya, dia rela datang ke Muara Karang, Jakarta. Kemudian untuk mencari ayam kampung, dia lari ke kawasan Glodok. Sementara aneka sayuran dan buah-buahan didapatkan dari Pasar Cipete. Berikutnya, ayam potong disuplai perusahaan langganan, yakni PT Anwar Sierad.

Fatimah buka kartu bahwa hampir 60% dari total masakan dan kue Kari Umbi merupakan hasil olahan tim dapur internal. Sisanya adalah pasokan dari para pemasok dengan sistem konsinyasi. Untuk kue, banyak kerja sama yang sudah berlangsung 15 tahun, sejak toko itu bernama Panmerino. Kini, ada sekitar 200 macam kue dan masakan yang dijajakan dan disajikan oleh gerai yang berkonsep toko kue dan restoran Kari Umbi. Menurut Fatimah, sioma udang, pastel dan talam adalah kue favorit pelanggan tokonya.

Di luar lokasi bagus dan masakan lezat, tak kalah pentingnya sebagai daya tarik Kari Umbi adalah harga yang wajar. Artinya, kendati letak toko kue dan resto di mal mewah, harga yang dibanderol masih terjangkau. Simak saja untuk kue, harganya Rp 1.500-5.000 per potong. Lalu, harga masakan rata-rata Rp 15-20 ribu per porsi.

Dengan keunggulan lokasi, harga dan kualitas masakan, Fatimah percaya konsumen bakal kembali. Dan keyakinan itu terbukti. Aida Ibrahim, pelanggan Kari Umbi sejak tiga tahun lalu, membenarkan hal itu. “Saya kenal Kari Umbi dari teman. Tapi, waktu itu jarang mampir karena outlet di Plaza Melawai selalu penuh. Untungnya, Kari Umbi buka cabang banyak,” ujar karyawan perusahaan swasta itu saat ditemui di gerai Kari Umbi Mal Pondok Indah I. Ya, Kari Umbi menjadi salah satu resto favoritnya pada saat jam makan siang berhubung kantornya tidak jauh dari mal tersebut. “Tapi, tolong dong kursi ditambah biar pengunjung tidak antre,” ujar Aida menyarankan. Dia tidak menampik Kari Umbi sebagai toko kue dan resto yang konsisten menyajikan aneka penganan dan masakan khas Indonesia.

Selain Aida, tentu masih banyak “Aida-Aida” lain yang setia menyambangi Kari Umbi. Mereka mengenal resto dari rekomendasi teman atau keluarga. Dan jurus getok tular ini rupanya ampuh untuk menjaring konsumen baru. Fatimah pun mengakui hal itu. Walaupun begitu, bukan berarti pihaknya tinggal diam. “Kami juga aktif ikut ajang Festival Jajanan Bango,” ucapnya. Pasalnya, selain masakannya menggunakan kecap Bango, juga Kari Umbi berkomitmen menjadi salah satu tempat tujuan wisata kuliner usantara.

Di satu sisi pelanggan loyal, tetapi di sisi lain usia Fatimah terus bertambah. Sadar akan hal itu, wanita paruh baya ini telah mempersiapkan penyerahan tongkat estafet. Salah satu caranya, dengan melibatkan anak dan menantu dalam mengelola Kari Umbi. Dari 9 anaknya, dua di antara mereka, Herawati dan Denny, dibantu Lenih (isteri Denny), terjun total membesarkan usaha ibunya, mulai dari pemilihan masakan, pengawasan barang keluar-masuk, belanja, pemilihan tempat, upaya menjaga kualitas produk, pengelolaan karyawan, pemeliharaan tempat, sampai masak-memasak. Ketujuh anak lainnya lebih banyak berperan sebagai pengawas beberapa gerai dan menjadi Kari Umbi. “Ya, beberapa suplai masakan Kari Umbi berasal dari anak-anak saya,” Fatimah menandaskan. Dia memberi contoh, Herawati memegang 30 macam masakan, seperti mie tek-tek dan ayam goreng. Lalu, anaknya yang lain memasok sop buntut. Yang pasti, pembagian keuntungan buat mereka sudah wajar, sesuai dengan kesepakatan bersama.

Untuk pengembangan ke depan, Fatimah menyerahkan sepenuhnya kepada sang pewaris. ”Anak-anak saya persilakan mengembangkannya. Tapi, jangan keluar dari khasnya Kari Umbi yang mengedepankan makanan dan masakan khas Indonesia,” kata bos yang sudah mematenkan trade mark Kari Umbi itu.

Prinsip kepemimpinan yang diwariskan Fatimah: jadikan dan perlakukan karyawan seperti keluarga sendiri. “Beri kesempatan orang lain untuk berkembang. Cari orang pintar itu mudah. Namun, mencari orang yang jujur dan mau belajar itu susah,” ungkapnya. Dengan kata lain, dia lebih senang mendidik dari nol karyawan yang mau belajar, berkembang dan jujur ketimbang pegawai yang sombong, banyak tingkah dan berkarakter buruk.

Fatimah mengklaim meski gaji karyawannya standar UMR, banyak hal yang dia berikan tanpa harus diukur dengan uang. Resep ini mujarab, membuat karyawan loyal bekerja belasan tahun. Misalnya, ada kredit tambahan beli rumah karyawan sebesar Rp 10-15 juta. Lalu, ada sumbangan buat biaya melahirkan Rp 1-1,5 juta. “Kesetiaan itu tidak bisa kita sogok dengan gaji tinggi. Kesetiaan pada kita akan lahir jika kita bisa memperlakukan orang lain dengan manusiawi, tidak semata-mata dia adalah karyawan atau orang gajian kita! Memberi contoh nyata adalah cara yang terbaik,” papar Fatimah memberi nasihat manajemen pengelolaan karyawan.

Ratih mengakui Fatimah sebagai pemimpin yang mengutamakan kejujuran karyawan. Contohnya, dia sendiri yang hanya lulusan SMP dipercaya bekerja di bagian keuangan Kari Umbi. “Sebenarnya bekerja dengan Ibu (Fatimah) pada dasarnya gampang kok. Yang penting, kita harus jujur dan apa adanya. Kalau mau bicara sesuatu, jangan berbelit-belit,” ujar karyawati yang telah mengbdi selama 18 tahun itu. Tentu, dengan kejujuran karyawan dan perilaku bisnis Fatimah, Kari Umbi akan makin bersinar.Dan dari hobi, Fatimah kini terus berekspansi.(***)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag