Jasa Marga, Tambah Ruas Jalan Tol hingga 15 Kali Lipat

PT Jasa Marga (Persero) Tbk. mengalami pertumbuhan pendapatan yang signifikan selama dua tahun terakhir. Operator jalan tol itu berinvestasi untuk menunjang pertumbuhan bisnisnya.

Desi ArryaniDirut Jasa Marga Desi Arryani mencontohkan proyek jalan tol Probolinggo-Banyuwangi sepanjang 172 km yang menelan biaya Rp 23 triliun. Jumlah ini tidak sedikit dan alokasi biaya terbesar terjadi pada tahap pembangunan. Pengembalian investasi berlangsung dalam waktu panjang, sehingga pemerintah memberikan masa konsesi selama 40-50 tahun dengan pertimbangan pengembang dan operator baru menikmati profit setelah 20 tahun jalan tol itu beroperasi.

Kami berinvestasi di jalan tol, di mana pemerintah memberi konsesi sekian waktu, sehingga investasi kami balik. Jadi, Jasa Marga adalah perusahaan biasa yang menangani jalan tol dengan dana sendiri. Komposisinya, 30% dana perusahaan alias dana investasi, dan sisanya pinjaman bank. Jadi, bukan dari dana pemerintah atau APBN,” Desi menjelaskan.

Karakteristik bisnis jalan tol yang membutuhkan waktu panjang dalam pengembalian investasi membuat perseroan harus memutar otak mencari model pembiayaan yang tepat untuk mendapatkan suntikan dana. Perusahaan pun harus kreatif mencari sumber pembiayaan. Kalau terus-menerus mengandalkan pinjaman bank, cara ini akan berisiko pada bunga pinjaman ke depan.

Jasa Marga berinovasi dalam menghimpun pendanaan dengan menciptakan mekanisme keuangan yang segar agar dapat mendongkrak kapasitas investasi. Salah satunya, melakukan sekuritisasi pendapatan tol dengan memanfaatkan aset yang telah mature untuk pembiayaan tanpa menimbulkan beban bunga. Program sekuritisasi yang penerbitannya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo ini dilakukan tahun 2017 di ruas jalan tol Jagorawi senilai Rp 2 triliun dan memperoleh apresiasi positif dari investor lantaran kelebihan permintaan (oversubscribe) sebanyak 2,8 kali.

Setelah sekuritisasi pendapatan tol, Jasa Marga menerbitkan Project Bond pada Okrober 2017, yakni obligasi di level project berdasarkan cash flow pada project tersebut untuk ruas JORR W2 Utara. Meski oversubscribe yang diperoleh tidak sebesar program sekuritisasi, itu cukup efektif untuk meningkatkan kapasitas investasi. Termasuk, program menerbitkan global bond bertajuk Komodo Bond --investor asing mengambil obligasi dengan rupiah, bukan dolar. Kalau kurs dolar menguat seperti saat ini, perusahaan tidak bermasalah karena Jasa Marga tidak memiliki pinjaman dolar.

Soal kemacetan tak luput pula dari perhatian manajemen, mengingat macet dapat menghambat transaksi dan ujung-ujungnya mengurangi pendapatan perusahaan. Solusi untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna, terutama menekan kemacetan kendaraan di jalan tol, ialah dengan memberlakukan e-toll, menambah alat mobile reader untuk memantau lalu lintas, serta membuat sodetan-sodetan baru di jam-jam tertentu untuk mengurai kemacetan dibantu aparat kepolisian.

Inovasi program tidak hanya berhenti di sini. Perseroan turut menerbitkan Reksa Dana Penyertaan Terbatas, dan segera menyusul penandatanganan dana infrastruktur di Bali. Untuk menunjang pembangunan yang sangat masif yang totalnya mencapai Rp 150 triliun,

kata Desi, Jasa Marga tidak hanya mengandalkan ekuitas dan pinjaman bank, tetapi juga dengan menciptakan lima model keuangan yang baru tersebut agar kesehatan finansial perusahaan tetap terjaga. “Jasa Marga itu selalu diawasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sehingga perusahaan harus mempunyai date to equity yang sesuai aturan. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang,” dia menegaskan.

Alhasil, langkah inovatif yang dilakukan Jasa Marga cukup efektif untuk menggaet investasi. Hal ini tecermin dari kinerja positifnya selama dua tahun belakangan. Jasa Marga menguasai pangsa pasar 65% dari total panjang jalan tol di Tanah Air. Konsesi yang dimilikinya mencapai 1.527 kilometer jalan tol. Dari konsesi itu, belum semuanya beroperasi. Hingga 2016 yang beroperasi baru 593 km, kemudian tahun 2017 bertambah 89 km, dan tahun ini bertambah lagi 107 km sehingga total 789 km yang telah dioperasikan.

Sebelumnya, Jasa Marga selama 11 tahun (2005-16) menambah ruas jalan tol rata-rata 6 km per tahun, sehingga total hanya bertambah 81 km. Sementara pada 2017 perusahaan mampu menyelesaikan sepanjang 89 km. Artinya, terjadi lonjakan 15 kali lipat. Keberhasilan ini tak lepas dari kejelian dan kepiawaian manajemen dalam meramu program yang tepat untuk meningkatkan dana investasi perusahaan untuk digunakan dalam proyek pembangunan jalan tol.

Pencapaian ini memang kebetulan sejalan dengan program pemerintah terkait infrastruktur,” tutur Desi. “Pemerintah yang mau mengejar ketertinggalan di infrastruktur, dan pelaku di tol adalah Jasa Marga. Jadi, kebijakan pemerintah dan program perusahaan kami selaras. Makanya, kami melakukan loncatan luar biasa karena dorongan itu,” tambahnya.

Desi memaparkan, target tahun ini yaitu jalan tol Trans-Jawa, dan target 2019: mengoperasikan sebagian JORR 2 (Cengkareng-Kunciran-Alam Sutera-Cinere-Ciamanggis). Pihaknya akan menyelesaikan hingga 1.250 km pada akhir tahun depan, dan sisanya dari total 1.527 km akan dikerjakan mulai 2020.

Pihaknya menargetkan tahun ini jalan tol Trans-Jawa sudah bisa tersambung semua. Tahun ini juga Jasa Marga dapat mengoperasikan jalan tol sepanjang 300 km sampai Probolinggo. “Mungkin percepatan inilah yang terkait dengan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), yakni loncatan yang bisa lebih dari 10 kali lipat,” kata Desi.(*)

Yosa Maulana & Vicky Rachman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)