Julianto Sidarto, Country Managing Director PT Accenture Indonesia: Melejitkan Accenture di Tengah Badai Krisis

Menjadi orang nomor satu di perusahaan konsultan papan atas dunia, PT Accenture Indonesia, tak pernah terlintas dalam angan Julianto Sidarto. “Saya tidak pernah bermimpi duduk di regional,” katanya. Pada dasarnya, Julianto pernah memegang regional roles, “Tapi, dengan growth Indonesia seperti ini, itu menjadi pilihan,” ungkap penyandang gelar MSE Electrical Engineering dari John Hopkins University dan MBA dari University of California Los Angeles ini.

Menurutnya, seharusnya ia memilih regional roles jika melihat peluang meraih level dan income di organisasi. Namun di matanya, setiap orang memiliki personal touch yang berbeda. “Passion saya yang memberikan kepuasan terbesar adalah orang-orang di sini. Tujuan saya secara pribadi adalah meninggalkan Accenture Indonesia sebagai one of the significant practices di Accenture, dalam kaitannya sebagai part of Asia,” tuturnya.

Julianto yang 11 Agustus mendatang genap berusia 50 tahun, menduduki kursi Country Managing Director PT Accenture Indonesia pada September 2002. Ketika itu, perusahaan konsultan, teknologi, dan outsourcing dunia yang mempunyai klien perusahaan global ini tengah “paceklik” pascabadai krisis moneter tahun 1998. Menurutnya, tahun 2000-2004, perusahaan konsultan yang mampu bertahan bisa dihitung dengan jari. Accenture termasuk salah satu yang mampu bertahan dari krismon 1998. “Mayoritas perusahaan multinasional tutup waktu itu,” Julianto menandaskan. Size Accenture pun sempat mengecil. Toh, Accenture terus berusaha bertahan dari empasan krisis yang melanda Indonesia. “Saya percaya pada keadaan yang begitu gelap saat itu, untuk jangka menengah dan panjang, bertahan adalah strategi yang tepat, karena suatu saat Indonesia pasti akan bangkit kembali,” Julianto menegaskan.

Sejak 2002 sampai sekarang, Accenture telah mengalami berbagai macam kondisi. “Dari kondisi ekonomi yang sangat down hingga seperti sekarang,” ungkapnya. Ia berpendapat, perusahaan jasa seperti Accenture, kalau membangun dari awal lagi, untuk menjadi kapabel membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. “Sekali usaha ini tutup, untuk membangunnya lagi butuh waktu,” ucapnya. Karena itu pilihannya adalah bertahan. Menurutnya, beruntung karena ia mendapat dukungan yang bagus dari organisasi globalnya.

Dalam kondisi perusahaan yang oleng, lanjut Julianto, justru paling krusial adalah momotivasi sumber daya manusia. Pasalnya, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, SDM adalah aset terpenting. Terlebih, aset yang dimiliki Accenture rata-rata sangat andal sehingga harus “dirawat” supaya mereka tidak keluar. “Jadi, bagaimana me-maintain motivasi untuk tinggal, bertahan, membangun client relationship, dan lainnya,” katanya.

Diakui Julianto, kurun 2002-2005 pertumbuhan bisnis Accenture masih relatif datar. Meski pada 2003, kontribusi Accenture Indonesia telah mencapai US$ 13 juta dari berbagai proyek teknologi informasi berdasarkan hasil riset Gartner Inc. Tahun 2005-2008, Accenture mulai mengalami pemulihan. Profitabilitas mulai meningkat lagi. “Secara perlahan bertumbuh dan mulai melakukan pekerjaan yang lebih bervariasi,” ungkapnya. Walau sempat kembali terhenti sebentar pada 2008 karena krisis global, kemudian merangkak lagi naik sampai sekarang. Menurutnya, 2007-2010 dapat dikatakan tren bisnis Accenture terus naik.

Di bawah kendali Julianto yang mengawali karier di Arthur Andersen, Amerika Serikat (sebelum berpisah dari Andersen Consulting), kendati ada krisis global, sepanjang 2008-2009 bisnis Accenture tetap bertumbuh dua digit. “Setelah itu, kami mulai bangun strategi pertumbuhan. Karena strategi pertumbuhan berarti ada target dan investment required. Manajemen global juga cukup eksis. Jadilah kami berlari kencang,” ia menjelaskan.

Tak ayal Julianto pun terus menggenjot Accenture yang sejak 1-1,5 tahun terakhir ditata untuk seriously grow management consulting capability. “Kami melihat ke depan para klien juga ingin mengembangkan kapabilitas. Accenture mulai mempersiapkan organisasi untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang lebih bervariasi,” paparnya. Jika sebelumnya Accenture lebih fokus pada talenta, performa organisasi, dan teknologi, maka kini Accenture juga melayani jasa management consulting yang meliputi finance and performance management, customer relationship management, supply chain management, strategi, dan lain-lain.

Menurutnya, sejak 2008-2009 hingga ke depan nanti, Accenture membangun for the future. Jika dulu di saat kondisi perekonomian sulit dan tawaran tidak banyak, Accenture harus fokus pada pekerjaan tertentu. Meskipun sempat goyang akibat krisis global yang mewarnai tahun 2008, Accenture terus tumbuh dengan jumlah karyawan yang semakin banyak. Begitu pun kliennya. Hingga kini, klien Accenture meliputi berbagai perusahaan besar baik nasional maupun multinasional, seperti Unilever, Commonwealth, ANZ, PLN, Pertamina, Astra International, BCA, Indosat, Telkomsel, CIMB Niaga, Bank Mandiri, dan masih banyak lagi perusahaan papan atas lainnya.

Ia menjelaskan, tahun-tahun terakhir ini Accenture mulai fokus mencari dan membangun talenta dan skill mereka dengan cara “dicemplungkan” di proyek perusahaan klien di luar negeri . “Kami banyak hire a head of demand. Kalau dianalogikan dengan pabrik yang tumbuh, meskipun pabrik yang sekarang masih cukup, kami sudah mulai membangun yang baru,” imbuhnya. Untuk menambah kapabilitas baru tersebut, Accenture harus mendatangkan kolega dari luar negeri untuk memberikan supervisi manajemen, misalnya untuk jangka waktu setahun. “Tentu saja itu tidak murah,” kata Julianto. Dan untuk merekrut tenaga baru, perusahaan juga harus melihat recruiting ground-nya masih sama atau tidak, jenis orangnya yang dicari seperti apa, dan sebagainya. “Untungnya, kami ini perusahaan global, sehingga cara untuk membangun sudah ada dan tinggal dilaksanakan. Dalam hal rekrutmen, kami dapat menggunakan pihak ketiga jika itu sesuatu yang baru, misalnya untuk experience hire. Tapi pihak ketiga itu juga tetap harus lewat secret source-nya Accenture,” paparnya.

Julianto mengatakan, basis bisnis Accenture sebagai perusahaan jasa konsultan adalah manusia. “Aset kami adalah manusia. Dengan demikian berarti kami banyak investasi untuk bagaimana mendapatkan talenta yang benar,” ujarnya. Menurutnya, Accenture lebih banyak merekrut tenaga lulusan segar, walau ada pula tenaga berpengalaman yang direkrut. “Accenture tidak hanya mencari orang yang nilainya baik secara akademis atau pintar, tapi juga orang yang memiliki sight business yang tepat, atau budaya dan pandangan yang sesuai dan bisa diasah,” ungkapnya.

Selain bagaimana mencari talenta secara efisien, Accenture pun membangun retaining talent dan bagaimana me-retain knowledge mereka di perusahaan, atau tetap me-maintain global mind set dan budaya sehingga Accenture tetap dapat beroperasi as a seamless team baik orang yang baru maupun yang lama. “Jadi, kami utamakan budaya ataupun manusianya. Manusia bukan hanya harus diberi pelatihan, hard skill itu lebih mudah dipelajari karena kami punya learning centre di mana-mana, yang lebih sulit adalah mempertahankan budaya dan membangun manusianya,” Julianto menjelaskan.

Menurutnya, perkembangan manusia juga terletak pada konselornya. Semua yang masuk ada konselor, dan konselor pun diberi pelatihan, semua manajer baru harus melalui pelatihan konselor, yaitu bagaimana caranya menjadi konselor yang baik. Untuk itu ada refresher dan hal ini dibangun pula di dalam evaluasi performanya. “Orang di Accenture tidak bisa high performance kalau people development-nya tidak bagus. Pilar Accenture adalah klien atau customer, people dan perusahaan. Ini harus seimbang,” ia menegaskan.

Pertumbuhan Accenture 2009-2010 berdasarkan perhitungan tahun fiskal mencapai 25%. Untuk bisnis management consulting saja, pertumbuhannya mencapai 2,5 kali. Saat ini jumlah karyawan Accenture 350-400 orang. Meskipun terjadi turnover karyawan, Julianto menilai trennya cenderung naik atau terus bertambah. Menurutnya, saat ini size Accenture Indonesia lebih besar dibanding 1997 sebelum krismon. Saat Julianto baru didapuk menjadi nakhoda Accenture pada 2002, jumlah karyawan Accenture masih berkisar 160-170 orang.

Ke depan, ia menargetkan pembangunan kapasitas ini tidak hanya membangun kapasitas, melainkan ada pula target pertumbuhan bisnis dan harus menguntungkan. “Bangun kapasitas is one thing, tapi kepuasan Accenture juga terletak pada solusi yang berhasil diterapkan di perusahaan klien dan berhasil. Kami puas jika klien bilang mereka sukses dan Accenture is part of it,” katanya tegas.

Henni T. Soelaeman dan Kristiana Anissa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)