Menjadi Tuan di Negeri Orang

Menjadi CEO di perusahaan multinasional yang beroperasi di negeri ini, bisa menjadi jembatan untuk meniti karier kepemimpinan di level regional, bahkan global. Tertarik? Ada beberapa pola karier yang bisa Anda pilih.

Menaklukkan puncak piramida perusahaan multinasional, siapa pun tahu, butuh perjuangan berat. Jangankan orang kita, para ekspatriat bule dengan bekal pendidikan dan pengalaman segudang, acap pula tak mampu mencapainya. Tak heran bila ada saudara, kerabat, teman, kenalan, atau teman dari kenalan kita sukses menjadi orang nomor satu di perusahaan multinasional, kita ikut-ikutan bangga. Sosok sukses itu pun biasanya langsung menjadi buah bibir. Ini bukan cermin sikap inlander: bahwa segala yang berbau asing pasti hebat. Bukan.

Di pasar tenaga kerja yang kini terbuka secara global, menaruh salut kepada profesional Indonesia yang sukses mendaki puncak karier di perusahaan multinasional, justru ungkapan rasa hormat kita terhadap daya juang, profesionalisme, dan persaingan sumber daya manusia yang sehat. Sebab, di mana pun beroperasi, perusahaan multinasional selalu menjadi ajang berkumpul sekaligus bersaing para profesional pilihan dari berbagai bangsa dan negara. Pastilah bangga jika di antara orang hebat dari seantero jagat itu, mencuat profesional-profesional lokal alias asli Indonesia yang tampil sebagai pemimpin.

Yang menggembirakan, tren selama beberapa tahun terakhir memperlihatkan, semakin banyak profesional Indonesia yang mampu unjuk kehebatan sehingga mereka dipercaya menduduki kursi eksekutif puncak di berbagai perusahaan multinasional yang beroperasi di negeri ini . Dan itu terjadi praktis di hampir semua bidang industri, mulai dari otomotif, telekomunikasi, consummer goods, teknologi informasi, pertambangan, konsultansi, elektronik, keuangan dan perbankan, farmasi, perkebunan, transportasi dan logistik, hingga industri ritel.

Bersamaan dengan kian ekspansif dan agresifnya perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia saat ini, peluang pun kian terbentang lebar bagi para profesional Indonesia untuk menjajal kompetensi kepemimpinan mereka di perusahaan kelas dunia. Sebetulnya, bukan cuma kita yang diuntungkan. Yang berlangsung justru proses simbiosis mutualistis, hubungan yang saling menguntungkan. Perusahaan multinasional sangat membutuhkan pemimpin lokal yang pastinya lebih memahami konteks sosial, budaya dan masyarakat Indonesia.

Sementara bagi profesional Indonesia, berkarier di perusahaan multinasional bisa dijadikan semacam training ground untuk menguji dan mempertajam profesionalisme, sekaligus meraih karier yang lebih tinggi lagi. Sebab, setelah sukses sebagai CEO perusahaan multinasional di Indonesia, terbukalah peluang menjadi CEO di tingkat regional, bahkan global. Artinya, tak berlebihan jika kita berharap, sekaranglah saatnya barisan profesional Indonesia berlomba-lomba menjadi tuan di negeri orang. Nah lho, hebat kan? Malu dong, selama bertahun-tahun, mosok Indonesia hanya kondang sebagai eksportir TKI (baca: pembantu rumah tangga dan kuli bangunan) melulu ...

Nah, kalau menyimak riwayatnya, ada beberapa pola yang ditempuh profesional kita untuk mendaki karier puncak di perusahaan multinasional. Ada yang konsisten dengan berkarier di satu perusahaan multinasional. Ada yang berpindah-pindah dari satu perusahaan multinasional ke perusahaan multinasional lainnya. Ada pula yang lebih dulu membuktikan diri jago memimpin di perusahaan nasional, barulah ia pindah ke perusahaan multinasional.

Namun, apa pun pola yang mereka pilih, satu hal yang tak bisa ditawar-tawar tentu saja daya saing mereka di ranah baik hard skill (kompetensi/keahlian teknis dan keterampilan kerja) maupun soft skill (kemampuan komunikasi, hubungan antarmanusia, etos kerja, kepemimpinan, dan sebagainya). Nah, untuk memacu daya saing ini, infrastruktur pendukungnya jelas perlu terus dipacu. Misalnya, mutu pendidikan dan lembaga pelatihan kerja yang berstandar internasional harus terus ditingkatkan. Tercakup di dalamnya, peningkatan kemampuan komunikasi, adaptasi, dan keterampilan hubungan antarmanusia yang bersifat universal.

Dengan langkah-langkah penuh kesadaran tersebut, niscaya, seperti diungkapkan sebelumnya, orang-orang Indonesia bukan saja menjadi tuan di negeri sendiri, melainkan juga berpeluang menjadi bos di negeri orang. Sungguh membanggakan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)