Pitra Satvika dan Fedi Fianto: Strategi Ganda Membangun Stratego

Pitra Satvika dan Fedi Fianto, pendiri PT Stratego Optima, adalah duo pelaku start-up yang sukses menembus belantara industri digital di Indonesia. Kedua lajang ini telah membuktikan, bermodal dua komputer plus semangat tempur yang tiada putus, produk kreatif mereka berupa desain situs web dan portal serta pembuatan digital game dilirik klien kakap seperti Kentucky Fried Chicken, Morris Indonesia, Garudafood, Unilever Indonesia, Sari Husada, Martina Berto, Bank Niaga, Indonesia Power, Global Fortuna, Nokia, Toyota, dan banyak lagi.

Kedua anak muda kreatif lulusan Teknik Aristektur Institut Teknologi Bandung ini sesungguhnya mengawali bisnis sejak di bangku kuliah. Kala itu mereka menggeluti bidang animasi, termasuk di antaranya pembuatan komik. Sayang, bisnisnya tidak berkembang seperti yang diharapkan. Setelah merilis 30 judul komik yang diterbitkan Mizan, mengisi konten komik di portal kitakita.com dan membuat animasi untuk sampo Clear di MTV, bisnis tersebut pun tiarap. Mereka lantas putar haluan ke bidang web yang sedang menggelembung pada akhir 1990-an. Proyek pertama mereka adalah menggarap portal Kentucky Fried Chicken yang dikreasikan dengan ikon KFC dan Colonel Sanders yang menarik, serta tampilan portal yang interaktif dengan teknologi flash.

Nah, berangkat dari proyek KFC itu tercetus ide mengklasifikasikan bisnis digital mereka ke dua lahan yakni online dan offline. Fedi menjelaskan, bisnis yang sifatnya online, sesuai dengan namanya, merupakan bisnis beraroma web. “Kami membuat web atau portal perusahaan atau merek,” ujar pria yang gemar menjelajah alam liar dan pernah mendaki Mount Everest itu. Sementara bisnis yang bersifat offline adalah pembuatan digital game yang dilakoni Stratego sejak 2002.

Mengandalkan inovasi dan kepekaan terhadap tren, akhirnya banyak perusahaan kepincut menyewa jasa mereka. Saking banyaknya klien, Pitra dan Fedi mengaku lupa berapa perusahaan dan merek yang sudah digarap baik secara online maupun offline. Di antara daftar klien plus produknya yang masih lengket di benak mereka adalah pengerjaan portal Marlboro.co.id dan Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover. Selain itu, ada pula kreasi pembuatan mesin game Marlboro yang diletakkan di beberapa kafe dan klub malam.

Selain kedua merek rokok tersebut, Stratego juga dipercaya membuat game Imuno Space untuk Nutrilon Royal 3 dari Nutricia. “Kami buat game yang menunjukkan kelebihan produk ini, apa itu bakteri baik dan bakteri jahat melalui game,” katanya. Proyek Imuno Space ini cukup besar karena seperti sebuah land atau lahan game yang cukup luas dengan beberapa game yang ditawarkan. “Kami juga buat game versi iPad-nya,” sambung Pitra, yang juga hobi fotografi.

Salah satu kreasi segar mereka adalah interactive floor untuk Toyota di Indonesia Motor Show 2009. Karena saat itu Toyota bertema go green, maka game interaktifnya mendukung pesan tersebut dengan menjadikan pengunjung yang berjalan di atas lantai seakan menapaki tetumbuhan yang bermekaran bunganya. Padahal saat itu teknologi multitouch belum jadi tren di Indonesia.

Namun bisa dibilang, salah satu kreasi mereka yang paling fenomenal adalah web interaktif Nokia Eksismeter, yang dibesut untuk meluncurkan Nokia C3. Produk ini untuk mengukur seberapa eksis atau populer para pengunjung portal tersebut di ranah media sosial.

Kini, saat branding menggunakan media sosial terus meningkat, Stratego pun tanggap terhadap keinginan pasar. “Trennya sekarang aktivasi, pemilik merek ingin orang yang datang merasakan sendiri dan mempersepsikan merek itu seperti apa, maka digunakan permainan interaktif,” papar Pitra.

Di bisnis ini, kecepatan merespons tren sangat penting. Para pemilik merek mulai ngeh menggunakan teknologi digital untuk aktivasi pemasarannya. Buntutnya, permintaan di bisnis ini pun meningkat. “Dulu orang hanya pasang iklan di portal, lalu buat web sendiri, kemudian berkembang media sosial, orang me-link ke Friendster, hingga berkembang pesatnya Facebook,” ungkapnya. Boom Facebook menyadarkan bahwa banyak orang berkumpul di media sosial. “Sehingga membuat orang masuk ke sana mulai dari hanya membuat halaman Facebook hingga aplikasi yang berhubungan dengan Facebook. Jadi, pembuat merek makin terbantu, dan makin banyak kanal yang bisa digarap,” tutur Pitra.

Terdorong untuk terus berinovasi itulah, meski berdampak pada biaya investasi yang tinggi, Pitra dan Fedi selalu berupaya menggunakan teknologi terbaru di setiap proyeknya. Seperti halnya ketika game berbasis touch screen dan motion sensor belum banyak berkembang, mereka sudah banyak menerapkan untuk kebutuhan para kliennya.

Hasil strategi itu sangat nyata: meski tidak berpromosi, klien berdatangan. “Kami dapat dari rekomendasi orang lain, terutama orang-orang agensi periklanan,” tutur Pitra yang enggan memaparkan omset perusahaannya. Bahkan, ia sering mendapat rekomendasi dari manajer merek yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Pitra dan Fedi tidak berniat berhenti di sini. Banyak pemikiran mereka yang belum terwujud. Meski demikian, untuk membiayai kelanjutan mimpi mereka, hingga keduanya tidak menggunakan pendanaan dari bank, lebih banyak dari arus kas sendiri. “Sudah banyak proyek, jadi sudah bisa membiayai sendiri,” imbuh Pitra yang mengaku ingin membesarkan bisnisnya meski sudah sempat dilirik pemodal asing dan dalam negeri.


Eddy Dwinanto Iskandar

Reportase: Herning Banirestu

Riset: Evi Maulidyyah Amanayati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)