Skip to main content

Channels

Alfamart: Inovasi, Value Dasar Perusahaan

  • 14 Dec 2022, 09:10 WIB
  • 20
Anggara Hans Prawira, CEO Alfamart.
Anggara Hans Prawira, CEO Alfamart.

Inovasi merupakan salah satu nilai utama yang dimiliki PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamart). Dari awal berdiri, pengelola jaringan ritel minimarket Alfamart percaya bahwa inovasi harus ada di setiap anggota keluarga besar Alfamart. Inovasi juga untuk membedakan Alfamart dari kompetitor. Tak hanya itu, inovasi telah menjadi value dasar sehingga semua orang berkewajiban menyampaikan ide untuk perbaikan.

“Inovasi bagi saya bukan cuma tentang menemukan hal-hal besar, tetapi juga hal-hal kecil, seperti misalnya memperbaiki proses bisnis dan memunculkan ide-ide baru untuk memberikan solusi. Improvement yang kecil-kecil ini kami anggap juga sebagai inovasi. Saya pikir, inovasi harus ada di setiap diri insan Alfamart,” ungkap Anggara Hans Prawira, CEO Alfamart.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa inovasi signifikan yang telah diluncurkannya. Pertama, Alfagift, yang ada sejak 2015. Awalnya, ini merupakan customer relationship management (CRM), yang memungkinkan member (anggota) bisa melihat benefit dan redeem (menukarkan) hadiah.

Saat awal, member menggunakan kartu yang diberi nama Kartu Aku. Namun, lama-lama mereka sudah tidak membawa kartu lagi karena lebih suka membawa ponsel. “Kami pun membangun Apps untuk member agar relevan dengan zaman,” ujar Hans, panggilan keseharian Anggara Hans Prawira.

Seiring berjalannya waktu, pada 2019, pihaknya melihat Alfamart memiliki consumer base yang besar dan member-nya saat itu sekitar 5 juta. Pihaknya pun ingin membangun sebuah teknologi yang tidak hanya sebagai CRM, tetapi juga kegiatan transaksional. “Kami ingin aplikasi tersebut memungkinkan pelanggan bisa order dari sana,” ujarnya.

Namun, pada 2019 sampai awal 2020 atau saat masih dalam masa percobaan, tiba-tiba terjadi pandemi Covid-19 dan orang lebih banyak berbelanja dari rumah. Sehingga, Alfamart mendorong Alfagift sebagai platform untuk berbelanja online.

Jadi, Alfagift adalah omnichannel yang memfasilitasi pembelian offline dan online. “Kami tidak mau antara online dan offline menjadi kontradiksi. Artinya, kami tidak membedakan diskon dan harga antara offline dan online. Itulah yang membedakan kami. Sambutan konsumen pada Alfagift ini sangat luar biasa karena orang senang belanjaannya dikirim dalam waktu singkat,” katanya.

Kecepatan itu bisa terjadi karena Alfamart tidak mengirim barang dari gudang, tetapi dari gerai Alfamart yang paling dekat dengan lokasi konsumen. Rata-rata pengirimannya butuh waktu 23-27 menit.

Alfamart juga membekali Alfagift dengan teknologi yang bisa mencatat shopping list (barang yang biasa dibeli pengguna) sehingga konsumen tidak perlu repot-repot lagi mencari belanjaan yang ingin dibeli di hari selanjutnya. Teknologi tersebut membuat aktivitas berbelanja menjadi lebih cepat dan mudah.

“Ini adalah inovasi yang menggabungkan platform CRM kami dengan transaksi online, di mana kami memiliki data yang jelas dan lebih mengerti konsumen. Data tersebut kami olah agar nantinya bisa memberikan penawaran yang relevan kepada konsumen,” Hans menjelaskan.

Seberapa besar pengaruh inovasi Alfagift ini terhadap bisnis? “Cukup signifikan, karena 40% kontribusi bisnis kami berasal dari member. Selama pandemi, member tumbuh di atas 20%. Sementara non-member angkanya minus. Ini mengindikasikan konsumen loyal kamilah yang membantu bisnis kami, karena kami memberikan penawaran yang lebih relevan melalui pengelolaan big data analytics,” katanya.

Inovasi kedua adalah Alfa X, yang menyediakan ruang untuk meeting, co-working space. Konsumen pun bisa memesan makanan dan mendengarkan live music. Konsep yang ditawarkan di Alfa X ini sangat berbeda dengan konsep Alfamart pada umumnya, mulai dari tempat duduknya yang sangat kekinian hingga desain yang sangat berbeda. Saat ini, Alfa X tersebar di Jabodetabek, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung.

Ketika awal diluncurkan, terjadi pandemi dan belum membuahkan hasil yang maksimal. “Namun, setelah pandemi ini, progresnya bagus dan rencananya kami akan melakukan ekspansi ke lokasi-lokasi lain. Sampai saat ini, tim yang mengonsepkan proyek ini masih aktif,” Hans mengungkapkan.

Pada saat pembuatan Alfa X, pihaknya menunjuk tujuh anak muda dari perwakilan divisi yang berbeda-beda, yang disebut sebagai think thank atau pengagas, untuk membuat proyek Alfa dengan format baru. Targetnya adalah anak kuliah, karena pihaknya melihat anak muda sebagai segmen yang memainkan peran di masa depan.

Tim tersebut melakukan survei serta mengonsepkan ide yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. “Kami, BoD yang lebih senior, pada saat itu hanya memberikan masukan dan selebihnya mereka yang menjalankan proyek tersebut,” ujar Hans yang resmi bergabung di Alfamart sejak April 2001 dengan posisi sebagai direktur keuangan (CFO).

Dalam proyek ini, Alfamart juga menyelenggarakan kompetisi desain yang melibatkan mahasiswa di kampus-kampus. Desain yang menjadi pemenang dijadikan model Alfa X. “Karena kami percaya, ketika kami ingin masuk ke satu segmen, kami harus benar-benar mengerti kebutuhan mereka. Kami tidak ingin menebak-nebak,” katanya.

Memang, inovasi bisa muncul tidak hanya dari top-down, tetapi juga bottom-up. Pasalnya, orang lapangan yang lebih mengerti permasalahan. Ide-ide dan inovasi itu cukup banyak diberikan oleh karyawan, mulai dari memberikan solusi permasalahan di toko hingga gudang. Hans percaya bahwa inovasi harus dijalankan secara dua arah, top-down dan bottom-up. Keduanya harus berjalan secara berkesinambungan dan beriringan.

“Inovasi merupakan bagian dari value Alfamart. Saya terus mendorong dan mengingatkan mereka. Yang terpenting adalah mendorong mereka untuk memberikan inovasi,” ungkapnya.  Dorongan tersebut antara lain dengan menghargai inovasi dan ide yang diberikan karyawan, terbuka dengan ide-ide yang masuk, serta melibatkan ekosistem perusahaan untuk membantu tim mewujudkan proyek yang sedang dirancang.

“Peran pimpinan bukan hanya memberikan bujet untuk pengembangan, tetapi juga mendorong ekosistem terkait untuk bergerak mendukung proyek yang akan diluncurkan tersebut,” kata peraih gelar master dari IPMI Business School dan Monash University (Australia) ini.

Diakuinya, Alfamart tidak memiliki tim khusus R&D, karena semua karyawan yang saat ini berjumlah 125 ribu lebih orang ini memiliki peran dalam melakukan inovasi. “Kami tidak menugaskan tim atau orang tertentu untuk melakukan inovasi. Semua divisi dan bagian memiliki peran untuk mengusulkan perbaikan dan ide-ide,” Hans menandaskan.

Menurutnya, ada dua proses inovasi. Pertama, karyawan memiliki ide dan kemudian di-share kepada atasannya. Kemudian, ide tersebut ditampung. Jika bisa diputuskan di level manajer, akan diputuskan langsung. Namun, jika membutuhkan investasi lebih besar dan persetujuan yang lebih tinggi, akan diputuskan oleh level direktur. Dan, jika ide itu sangat strategis, akan dibawa ke board meeting.

Kedua, melalui program Innovation Award. Karyawan membuat proposal ide dan kemudian dipresentasikan. Beberapa tahun lalu malah pihaknya mengaplikasikan ide itu terlebih dahulu, baru kemudian memutuskan pemenangnya.

Program Innovation Award ini diselenggarakan setiap tahun sejak 2012. Sekarang, namanya berganti menjadi Innofest. Di acara tersebut, karyawan boleh mengusulkan ide atau proyek yang bisa menumbuhkan bisnis atau menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Tercatat selama 2016-2021 ada 2.000-an inovasi yang dilahirkan. Dari sana, ide-ide tersebut disaring dan diaplikasikan ke perusahaan.

Selama 5-6 tahun terakhir, kurang-lebih 400 inovasi dilahirkan setiap tahun dalam program ini. Namun, di luar award atau festival tersebut, menuurt Hans, banyak sekali inovasi yang diakukan pihaknya.

Dalam menyeleksi ide yang masuk dan menentukan skala prioritas, pertimbangan pertamanya adalah ide tersebut harus relevan dan merupakan solusi. Kedua, pertimbangan ekonomis. Ketiga, seberapa besar imbas ide tersebut kepada bisnis. Keempat, apakah bisa direplikasi di tempat lain. “Terkait anggaran, kami tidak memiliki anggaran khusus terkait R&D, tetapi ketika ada inovasi yang akan di-roll out, akan kami budget-kan,” kata Hans.

Kemudian, inovasi apa saja yang akan dilakukan Alfamart ke depan? Alfamart saat ini bekerjasama dengan Grup WIR untuk mengembangkan metaverse. Namun, sebelumnya, pihaknya sudah mengembangkan toko virtual Alfamind. Saat ini, sudah ada 16 ribu orang yang memiliki toko virtual di Alfamind. Visinya adalah ingin dimiliki masyarakat luas. Pada saat pembangunan teknologi ini, pihaknya berpikir bagaimana agar orang memiliki toko tanpa modal.

Alfamart bekerjasama dengan Grup WIR untuk membangun VR/AR capability-nya. Dengan demikian, ketika pengunjung masuk ke sana, mereka seolah-olah sedang masuk ke toko. Di sana, Alfamart tidak hanya menjual grocery, tetapi juga peralatan dapur.

Selain itu, Alfamart pun mengembangkan digital avatar untuk diletakkan di toko-tokonya. Nantinya, orang-orang bisa menggunakan screen untuk melakukan aktivitas dan engagement. “Karena kami sudah memiliki Alfamind, ide untuk mengembangkan metaverse itu tinggal diekspansikan saja,” ujarnya. (*)

Dede Suryadi dan Anastasia AS

www.swa.co.id

Terbaru