The Harvest Group, Suara Konsumen Jadi Panduan Berinovasi

06 Des 2022, 08:59 WIB

Kehadiran Edison Manalu sebagai CEO PT Mount Scopus Indonesia (The Harvest Group) pada 2019 membawa warna baru di perusahaan bakeri ini dalam melakukan inovasi. Yaitu, dengan mengubah kebiasaan berinovasi yang lama menjadi kebiasaan baru.

Edison Manalu, CEO PT Mount Scopus Indonesia (The Harvest Group).
Edison Manalu, CEO PT Mount Scopus Indonesia (The Harvest Group).

“Ketika itu saya harus benar-benar me-review tim di dalam perusahaan. Bagi saya, tim itu penting karena muaranya di tim itu sendiri. Karena itu, struktur organisasi dan business process dibenahi, serta adanya fasilitas atau infrasruktur seperti sentral produksi. Dulu ada, tetapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Kemudian harus ada IT (technology information) untuk mendukung business analysis dan pengembangan digital ke depan,” Edison menceritakan.

Baginya, inovasi bukan datang dari pemikiran perusahaan, melainkan dari konsumen. Sayangnya, yang kerap terjadi, tim inovasi dalam perusahaan melihat seolah-olah “company looks smart”, padahal itu salah. Yang benar adalah bagaimana membuat “customer looks smart”.

Karena itu, Edison pun lantas mengubah mentalitas leaders di lapangan. Ada tiga prinsip yang dia terapkan. Pertama, tegas, dan ini tidak boleh ditawar. Kedua, ketika akan implementasi, harus luwes dalam bertindak. Ketiga, bijak dalam mengambil keputusan.

Dia menerangkan, yang namanya target tidak boleh dinegosiasi. Standard operating procedureb (SOP) tidak boleh ditawar, tetapi dalam implementasinya bisa fleksibel. Contohnya, dalam SOP, kita harus melakukan input data dengan cara tertentu. Kalau fasilitas yang ada belum siap, bukan berarti hal itu tidak dilakukan. “Kita harus cari cara lain agar SOP-nya tetap jalan,” ujarnya.

Tentang bijak, agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda di perusahaan, Edison menguncinya dengan tiga prinsip yang semuanya harus dipenuhi, yakni best for customer (customer centric), simple for the team to execute, saving for the company. “Ini penting saya sampaikan karena inovasi berangkat dari sini, yang muaranya ke konsumen,” kata Edison tandas.

Sementara itu, di business process ada yang namanya New Product Development. Awalnya yang menentukan adalah direksi, lalu dilakukan rapat dengan bagian research & development untuk mengeluarkan produk apa saja di bulan berjalan. Jadi, bukan customer centric. Itulah yang diubah Edison, yaitu dengan memperbaiki sistemnya.

“Sekarang kami punya New Product Development Committee yang terdiri dari karyawan di bagian marketing, operasional, cost control, CRM (customer relationship management), QHSE (Quality, Health, Safety, and Environment), dsb. Kami terjemahkan tugas masing-masing,” paparnya.

Misalnya, anggota komite dari bagian pemasaran, Edison mencontohkan, mereka bertugas mengamati tren di lapangan. Secara fisik mereka pergi untuk meriset produk bakeri yang dipajang oleh toko-toko lain yang diminati konsumen. Mereka juga mengamati tren produk roti di media sosial.

Di samping itu, dalam hal pengembangan produk, Harvest juga melakukan focus group discussion. Yakni, dengan mengundang pelanggan yang loyal untuk memberikan umpan balik terhadap produk baru yang akan dipasarkan.

“Metode seperti itulah yang kami pakai hingga sekarang. Kami harus sering berkunjung ke tokok-toko roti lainnya, kuasai informasi sebanyak-banyaknya, baru kami wujudkan satu produk yang mempunyai ciri khas dibandingkan kompetitor. Boleh dibilang 80% inovasi itu success rate-nya di sana,” ungkap Edison.

Tentu saja, menurutnya, CEO harus memberikan arahan yang jelas, baik itu dari faktor makroekonomi maupun mikroekonomi. Kemudian, melibatkan tim untuk aktif. “Mereka mungkin aktif, tetapi kalau tidak terarah, inovasinya menjadi berantakan. Inovasi memang harus datang dari semua pihak, tetapi harus ada arahannya dulu,” dia menegaskan.

Meskipun begitu, dia juga mendorong karyawan untuk mengeluarkan ide-ide segar dalam inovasi melalui program Self Ideation. Pimpinan The Harvest meng-encourage semua departemen di perusahaan dalam hal apa pun, mulai dari kepatuhan terhadap SOP hingga inovasi di departemennya.

Adanya pandemi yang berpengaruh terhadap hampir semua sektor bisnis justru memacu The Harvest untuk terus berinovasi. Maka, lahirlah brand Keikpop, melengkapi brand yang sudah ada: The Harvest dan The Harvest Express.

“Produk Keikpop hanya bisa dibeli lewat online. Keikpop terinspirasi dari tren Korea yang sedang booming. Pasarnya adalah anak-anak milenial. Ini salah satu inovasi kami, dan booming,” ungkap Edison.

Dia mengakui The Harvest diuntungkan karena memiliki toko yang tersebar di berbagai tempat. Produknya dibuat di central kitchen, kemudian dikirim ke toko, dan di toko mereka melakukan tes pasar. Bahkan, saat pandemi, tes produk dilakukan online dengan mengirimkan sampel produk ke rumah konsumen.

“Inovasi tersebut bisa dilakukan karena The Harvest sudah punya infrastrukturnya. Karena, yang memakan waktu lama itu bukan eksekusi inovasinya, tetapi proses mempersiapkan infrastruktur inovasi. Bayangkan jika kami tidak punya sentral produksi. Ketika mengeluarkan produk baru, kami harus memberi tahu ke setiap toko The Harvest Group, dan itu prosesnya menjadi lama,” Edison menerangkan.

Untuk setiap produk yang akan diluncurkan, The Harvest menyiapkannya secara matang. Misalnya, untuk perayaan Natal di bulan Desember, pada September dan Oktober The Harvest sudah tahu hampers-nya akan seperti apa, bentuknya, varian harganya, dan isinya ada apa saja.

“Jadi, kami sudah membicarakan tren tiga bulan ke depan,” ujarnya. Biasanya butuh waktu paling tidak 1-1,5 bulan karena yang paling lama adalah mengumpulkan informasi dari konsumen dan men-deliver apa yang diinginkan konsumen.

Menurut Edison, inovasi di era sekarang pun tidak terpisahkan dari teknologi. “Inovasi dengan teknologi itu dekat sekali,” dia menandaskan. Dan, sekarang pelanggan bisa pesan produk The Harvest lewat WhatsApp.

“Kelihatannya mudah, tetapi nyatanya tidak. Begitu masuk (chat) WhatsApp ribuan, kami tidak mengerti yang masuk pertama siapa, mana yang harus ditangani lebih dulu,” katanya. Maka, harus ada sistem yang namanya sociomile, yang bisa menggabungkan digital menjadi satu untuk bisa dijawab sehingga efisien.

Saat ini, konsumen bisa mendapatkan produk The Harvest melalui 13 platform, mulai dari online delivery, marketplace, bahkan e-voucher. Selain itu, ada pula kanal digital, yaitu website, WhatsApp, hingga call center 1500581. Itu berarti The Harvest memberikan kemudahan bagi konsumen melalui kehadiran teknologi yang diadopsinya.

Sebelum pandemi, penjualan The Harvest melalui kanal digital hanya 14%. Begitu terjadi shifting ke work from home dan orang dipaksa melek teknologi, penjualan digital perusahaan ini pun meningkat menjadi 38%-40%.

“Ini lompatan yang luar biasa dan bisa tercapai karena teknologi kami siap. Kinerja kami pun tumbuh, bahkan produknya value for money. Penjualan signature saat itu gila-gilaan. Itulah buah inovasi,” ungkap Edison.

Tidak mengherankan, ketika banyak perusahaan makanan dan minuman mengurangi karyawan, memotong gaji direksi, bahkan ada yang tutup akibat gempuran pandemi, The Harvest masih bisa tumbuh dua digit. “Itu karena dari tahun 2019 kami sudah siapkan infrastrukturnya. Jadi, jangan bicara inovasi kalau infrastrukturnya saja tidak siap,” katanya. Selain itu, SDM juga harus di-encourage, harus diwadahi, untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya.

Edison optimistis terhadap masa depan The Harvest karena pasar produk bakeri di Indonesia sangat besar. Terlebih, sekarang banyak orang yang terbiasa dengan sarapan roti. Maka, peluang The Harvest untuk tumbuh juga sangat besar.

Namun, dia menegaskan, “Pertumbuhan ini harus diikuti dengan inovasi dan penerapan teknologi yang menjadi bagian dari tumbuh-kembang perusahaan.” Dia pun berharap, ke depan The Harvest tetap menjadi market leader di pasar cake, khususnya di kelas middle-premium. (*)

Vina Anggita

www.swa.co.id