Ramavito Mountaino, Tak Hanya Fokus pada Pertumbuhan Revenue

19 Dec 2022, 08:58 WIB
Ramavito Mountaino, Co-Founder & CFO Eden Farm.

Di saat apa pun, bisnis pangan selalu relevan. Baik dalam kondisi masyarakat sejahtera maupun ketika dalam kondisi krisis. Menariknya, saat ini bisnis pangan tak cuma diterjuni pemain tradisional yang umumnya berskala UKM ataupun perusahaan makanan skala besar, tapi juga sejumlah perusahaan rintisan (startup) berbasis digital. Salah satunya, PT Eden Pangan Indonesia, yang lebih dikenal dengan nama Eden Farm.

Eden Farm memilih berbisnis di bidang food supply chain untuk kalangan B2B (business to business). “Kami melayani berbagai jenis bahan pangan yang dipasok oleh lebih dari 5.000 petani (untuk didistribusikan) ke 50.000 bisnis kuliner di Indonesia,” ungkap Ramavito Mountaino, Co-Founder & CFO Eden Farm.

Eden Farm didirikan oleh tiga sekawan yang dulunya merupakan teman kuliah. Sebelum memutuskan membuka bisnis agritech ini, masing-masing sempat berkarier sebagai profesional ataupun entrepreneur. Mereka adalah Ramavito, David Setyadi Gunawan (Co-Founder & CEO) dan Febrianto Gamal (Co-Founder & COO).

Menurut Rama, ada dua fondasi bisnis penting Eden Farm. Pertama, Eden Farm Sourcing Center (ESC), yaitu program kerjasama langsung dengan petani untuk menentukan pola tanam, kepastian harga jual, dan kepastian jumlah hasil tani yang diambil setiap harinya.

Kedua, Eden Farm Distribution Network (EDN). Ini adalah jaringan distribusi produk pertanian, dengan memberdayakan masyarakat.

Saat ini, Rama mengungkapkan, skala perusahaannya tak lagi bisa dibilang kecil. “Eden Farm sudah merupakan startup B2B agri terbesar di Asia Tenggara,” ungkap alumni Jurusan Teknik Informatika, Telkom University (lulus tahun 2012) ini.

Awalnya, cakupan bisnis Eden Farm cuma di Jakarta, kini sudah mencakup Jabodetabek, Bandung, Purwakarta, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Jumlah karyawannya 950 orang.

Ada beragam kanal permintaan Eden Farm, yakni kalangan pelaku kuliner tradisional (warteg dan street food); lapak-lapak pasar; hotel, restoran, dan kafe; serta food processing company. “Sekitar 80% konsumen kami berasal dari segmen tradisional dan UMKM,” ujar Rama.

Sumber pasokan produk pangannya berasal dari transaksi dengan central market dan komunitas petani (farmer’s community), Eden sourcing facility, serta farming project (di sini, Eden Farm mendanai penyediaan benih dan pupuknya). “Teknologi menjadi pendukung agar supply chain-nya bisa efisien, tepat guna, dan tepat sasaran, untuk mendisrupsi supply chain lama yang sangat tradisional,” kata peraih gelar Master Finance dari Prasetiya Mulya Business School, Jakarta (2014) ini.

Sebagai CFO, saya harus memastikan semua fungsi siap menopang pertumbuhan bisnis.

Ramavito Mountaino, Co-founder & CFO Eden Farm.

Pencapaian yang bisa dibanggakan, pada tahun 2019 Eden Farm mewakili Indonesia untuk mengikuti salah satu program akselerator startup di Silicon Valley, Amerika Serikat. “Di sana kami presentasikan Eden Farm dan agribisnis Indonesia ke ribuan investor. Di sinilah awal mula Eden Farm bisa tumbuh cepat hingga saat ini,” ungkap Rama, yang pernah berkarier di PT Manulife Assets Management Indonesia (2014-2017) itu.

Kendati tumbuh cukup cepat, Eden Farm juga menghadapi tantangan yang tak ringan. “Kami dituntut tumbuh di tengah pandemi,” ujarnya. Padahal, dengan adanya kebijakan pembatasan aktivitas sosial (lockdown), banyak hotel, restoran, dan kafe yang mengalami keterbatasan. Jaringan distribusi pun terganggu. Harga bahan pangan juga sering fluktuatif.

Sebagai CFO Eden Farm, Rama menyebutkan, perannya sangat krusial untuk membawa perusahaan bukan hanya tumbuh dari sisi revenue, tetapi juga dari sisi profitabilitas. “Startup itu identik dengan kondisi masih merugi, namun saya harus bisa memastikan kuartal demi kuartal nilai kerugiannya berkurang,” ungkapnya.

Dia mengibaratkan peran CFO itu seperti berlayar dari Jakarta ke Surabaya, dengan tugas memastikan ukuran kapal yang bisa dipakai, kesiapan awaknya dalam menghadapi badai, serta infrastruktur dan tools-nya (apakah memadai).

Lalu, apa peran yang dijalankan CFO Eden Farm? Pertama, melalui unique regional pricing strategy, berekspansi ke kota-kota baru yang masing-masing punya karakteristik berbeda.

“Analisis saya simpel, semakin banyak tengkulaknya, semakin besar margin yang bisa diperoleh. Dan, semakin pendek supply chain-nya, berarti marginnya semakin kecil,” kata Rama. Demikian juga halnya dengan purchasing power. Semakin tinggi purchasing power pelanggan, seperti di Jakarta dan Surabaya, marginnya bisa lebih besar.

Seiring terjadinya pandemi Covid-19, Rama mengarahkan agar Eden Farm lebih menekankan customer focus. Setelah sebelumnya melayani berbagai jenis konsumen, kemudian pihaknya beralih hanya melayani konsumen yang banyak membutuhkan sayur dan buah, yang punya margin tinggi.

Dia pun memonitor metrik-metrik perusahaan. Tak hanya fokus pada revenue growth, pihaknya memastikan pula metrik lainnya, seperti profitabilitas, dapat dicapai oleh tim. Sebagai CFO, dia juga memimpin langkah restrukturisasi organisasi.

Hal yang menarik, berbeda dengan kebanyakan CFO di perusahaan lain yang melulu mengurus finance, Rama memimpin semua support function bagi bisnis. Selain urusan finance, juga memimpin fungsi Accounting & Pricing, Tax, Internal Audit, Legal, hingga People & Culture. “Sebagai CFO, saya memang harus memastikan semua fungsi siap menopang pertumbuhan bisnis,” ujarnya tandas.

Yang tak kalah penting, sebagaimana halnya CFO di perusahaan startup, dia harus menyukseskan aktivitas fundraising. Dengan dana yang relatif terbatas, setiap startup umumnya dalam 1-2 tahun sekali harus melakukan aktivitas penghimpunan dana ini.

Masih ada peran penting Rama lainnya sebagai CFO Eden Farm, yakni mendigitalisasi proses bisnis. Menurutnya, banyak startup yang memfokuskan digitalisasi di bagian ujungnya saja, tapi tidak berupaya merampingkan proses bisnis di dalamnya.

Sebaliknya, di Eden Farm, digitalisasi difokuskan pada proses bisnis, antara lain dengan mendigitalkan dokumen legal, invoice, ataupun online PO. “Hal-hal tersebut banyak memotong supply cost,” ujarnya.

Dia melihat masih banyak perusahaan yang fokus pada business metrics saja. Adapun model bisnis Eden Farm tidak hanya tentang uang, tetapi juga memperhatikan social impact.

Pada 2022 langkah tersebut sudah dijalankan. Sebagai contoh, pihaknya telah menghitung, Eden Farm mampu meningkatkan pendapatan petani 2-3 kali lipat setelah enam bulan bekerjasama. “Soal social impact ini akan lebih saya fokuskan lagi pada 2023,” Rama menandaskan. (*)

Joko Sugiarsono & Sri Niken Handayani

www.swa.co.id