Skip to main content

Channels

Spirit Tumbuh dan Tangguh Bersama Kunci BRI Mewujudkan GCG

  • 21 Des 2022, 18:08 WIB
  • 0
Direktur Kepatuhan BRI Achmad Solichin Lutfiyanto (tengah) saat menerima penghargaan Indonesia Good Corporate Governance Award 2022 dari Majalah SWA dan IICG. (Foto Ihsan/MIX)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membukukan pertumbuhan laba 106,14% Year on Year (YoY) sebesar Rp39,31 triliun pada Kuartal III-2022. Transformasi berkelanjutan yang diterapkan BRI menjadi pendorong utama kinerja positif perseroan pada periode tersebut.

Direktur Kepatuhan BRI Achmad Solichin Lutfiyanto mengatakan, jika berbicara tentang Good Corporate Governance (GCG) maka esensi yang pertama adalah soal sustainability. Sehingga BRI membuat spirit Tumbuh dan Tangguh untuk mewujudkan GCG. 

“Karena kalau tumbuh, tapi tidak tangguh itu tidak sustain. Jika tidak sustain itu pasti tidak governance (GCG). Jadi sebenarnya kalau bicara GCG, menurut kami di BRI adalah sustain apa tidak . Sustainability kalau dari kami itu esensi dari GCG,” katanya, Selasa (20/12/2022).

Jika bicara tumbuh pada sektor perbankan, lanjut Solichin, maka syarat utamanya adalah memiliki sumber pertumbuhan. Dengan kondisi ekonomi yang belum kondusif, BRI mencari ceruk pasar yakni dengan holding usaha ultra mikro, yang kemudian dioptimalkan sebagai sumber pertumbuhan baru. 

“Karena di perusahaan manapun, kalau tidak terus mencari sumber pertumbuhan baru, maka growth-nya akan stagnan, tidak akan sustain. Jadi kita harus terus cari apa market yang baru, semua segmen kita layani. BRI kebetulan diamanatkan oleh pemerintah dari Kementerian BUMN harus melayani UMKM, kami terus cari di mana UMKM yang belum terlayani perbankan dengan baik, ketemulah ultramikro,” ujar Solichin menjelaskan. 

Setelah menemukan pasar, dibutuhkan modal agar pasar tersebut menjadi sumber pertumbuhan baru. Di sisi modal, BRI tidak memiliki masalah karena cukup. Namun tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan modal tersebut.    

“Karena investor pasti minta ROE-nya naik terus setiap tahun, kalau ROE diminta naik terus maka harus terus ekspansi. Namun ekspansi kalau hanya di pasar yang sama, pasti akan stagnan, jadi kita terus create pasar yang baru, ditambah juga harus manage likuiditas. Supaya apa? Supaya kalau begitu tumbuh, likuiditasnya juga ada, kalau enggak tumbuh, enggak ada duitnya. Karena enggak semua modal bisa menjadi likuid, artinya ada beberapa elemen komponen modal yang perlu waktu pencairan,” ucapnya. 

Solichin menjelaskan, dengan kondisi makro yang seperti itu, tantangan yang dihadapi BRI ada pada sisi kualitas. Jadi bagaimana caranya agar tumbuh, tangguh, dan berkualitas. “Bagaimana agar bisa tumbuh, tangguh dan berkualitas jawabannya adalah harus agile, profesional dan sebagainya,” katanya. 

Lebih lanjut Solichin memaparkan, tantangan BRI selanjutnya adalah begitu mau tumbuh di situasi yang sulit, ternyata case paling sulit adalah membangun culture. Bagaimana culture yang tercermin dalam sikap dan perilaku pekerja itu sama, menyamakan rasa itu tidak mudah.

“Menyamakan rasa ini tidak mudah karena pekerja masing-masing punya mindset dan punya agenda sendiri. Kalau kita mau tumbuh, harus samakan dulu frekuensinya. Jika perusahaan mengatakan harus bekerja doing more, lalu pekerja merasa harus berkontribusi lebih, nah itu siapapun yang jadi pemimpinnya enak. Tapi jika yang merasakan hanya di level top pimpinan yang di bawah berbeda, itu capek. Enggak nyambung itu capek, sehingga penting kita harus membangun populi cultur, nilainya harus terus ditransfer ke bawah,”  kata Solichin. 

Selanjutnya jika mau tumbuh dan tangguh, satu sisi harus memaksimalkan revenue dengan cara apapun yang berkualitas, sisi lain kita harus efisiensi. Salah satu cara efisiensi adalah melalui digitalisasi. Efisiensi dengan digitalisasi selain melayani customer, juga untuk mencari laba. 

Tantangan mewujudkan sustainability dalam spirit tumbuh dan tangguh juga harus fokus pada Environment, Social, Governance (ESG). Tahun lalu, BRI membentuk divisi khusus yang fokus pada ESG. 

“Kenapa tidal level desk atau bagian? Dirut kami ingin BRI menjadi front runner (yang terdepan) dalam implementasi ESG di banking industry. Begitu menjadi front runner, berarti mimpinya harus panjang, dan harus mengacu pada international dan global standard,” kata Solichin dalam acara Indonesia Most Trusted Companies 2022: Membangun Ketangguhan Perusahaan dalam Kerangka GCG.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Terbaru