Skip to main content

Channels

Sasa, Mengikuti Perkembangan Zaman dan Kebutuhan Konsumen

  • 21 Des 2022, 08:42 WIB
  • 20
Rudolf Tjandra, CEO & Presiden Direktur PT Sasa Inti.
Rudolf Tjandra, CEO & Presiden Direktur PT Sasa Inti.

Agile, itulah kata kunci yang menjadi strategi Sasa sehingga bisa tetap eksis hingga berusia 54 tahun. Dengan strategi agile, perusahaan yang didirikan Tan Siong Kie pada 1968 ini selalu mengikuti perkembangan zaman serta memahami kebutuhan dan karakter konsumen saat ini.

“Walaupun Sasa adalah bumbu masak, kami selalu berusaha untuk tetap dekat dengan market dengan cara tap in dengan tren dan lifestyle, sehingga eksistensi kami tidak dilupakan begitu saja,” kata Rudolf Tjandra, CEO & Presiden Direktur PT Sasa Inti.

Bicara segmentasi, konsumen produk Sasa umumnya berusia muda/produktif (25-45 tahun). Produk Sasa identik digunakan oleh ibu rumah tangga, usaha restoran, serta katering.

Jadi, Sasa ditujukan untuk semua kalangan: ekonomi rendah, rentan, menuju menengah, menengah, dan atas. Namun, lebih didominasi kelas menengah dan menuju menengah serta kaum milenial produktif yang memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi dan menyukai makanan berbahan instan sesuai dengan gaya hidup mereka saat ini.

Seiring berkembangnya kebiasaan memasak, terutama di masa pandemi ini, Sasa pun lebih memilih milenial yang sudah menjadi keluarga muda dengan kebutuhan masak yang praktis sebagai target audiens dan target pasar. Tentu saja, tanpa mengabaikan target yang lebih tua seperti sebelumnya. “Kedua target tersebut masih di-maintain dengan baik oleh Sasa melalui berbagai lini channel yang berbeda,” kata Rudolf.

Untuk menjawab kebutuhan konsumen, tentunya relasinya sangat dekat dengan produk inovasi terbaru, yaitu Sasa Platinum Care+. Pihaknya menambahkan value pada produk-produk Sasa, berupa vitamin dan mineral. Hal ini menjadi jawaban untuk kebutuhan konsumen akan nutrisi yang lebih baik, khususnya saat pandemi. Karena faktanya, banyak sekali masyarakat yang kurang paham tentang pentingnya mengonsumsi makanan penuh nutrisi.

Produk inovasi ini tak lepas dari kepedulian Sasa terhadap konsumen yang mengonsumsi produk-produknya. “Tidak hanya meningkatnya bisnis yang menjadi fokus kami, tapi kesejahteraan dan kesehatan juga sangat penting bagi kami di PT Sasa Inti,” ungkap Rudolf.

Selain terus berinovasi, Sasa pun melakukan banyak perubahan. Misalnya, di sisi branding dan marketing, untuk merespons aneka disrupsi yang disebabkan oleh tren digitalisasi, fenomena milenial, dan tantangan pemasaran lain.

Menurut Rudolf, awalnya, Sasa merejuvenasi perusahaan, dari MSG company menjadi food and seasoning company. Selain itu, pihaknya juga merejuvenasi strategi marketing communication dengan menyasar target yang lebih muda, yakni milenial, karena kalangan ini merupakan pangsa pasar terbesar saat ini. Pendekatan komunikasinya pun lebih emosional yang tidak lagi product centric.

Saluran untuk komunikasi dan promosi menggunakan kanal konvensional seperti TVC dan billboard serta kanal digital. Untuk digital, perusahaan ini menggunakan berbagai platform media sosial, antara lain Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan Tik Tok.

Di samping itu, Sasa juga berkolaborasi dengan berbagai kategori merek untuk melebarkan awareness kepada masyarakat. Di antaranya, di kategori apparel, dengan The Goods Dept; dan di kategori makeup, dengan Dearme Beauty. Juga membuat konten digital untuk menjawab kebutuhan masyarakat di masa pandemi yang mulai beralih ke digital, berupa video resep, video web series, dan berbagai experimental content lainnya.

Komunikasi dan promosi ini juga dilakukan untuk memdorong distribusi produknya, baik di modern trade (MT) maupun general trade (GT). “Karena kebutuhan bumbu masak yang paling kuat ada di offline, tentunya jaringan MT dan GT kami cukup kuat untuk distribusi barang yang kami jual. Platform e-commerce tentunya kami pakai untuk selling dan sampling, namun porsinya tidak sekuat pada jaringan offline,” Rudolf menjelaskan.

Perubahan lain yang bisa dibilang cukup signifikan yaitu yang dibangun di internal perusahaan yang disebut “Sasa basic mentality”, yaitu CARE: Courage, Action oriented, Respectful, Enthusiastic, yang menjadi landasan SDM-nya bekerja. Perkembangan tren yang ada menuntut perusahaan dengan dua ribu karyawan ini untuk selalu update dengan situasi dan kondisi sehingga bisa survive, terutama di masa pandemi seperti sekarang.

Tentunya, talenta-talenta Sasa sudah unggul di bidangnya. Pengalaman di berbagai industri menjadi acuan Sasa untuk mendapatkan talenta unggulan. “Perusahaan kami dipimpin oleh professional CEO, di bawahnya (salah satunya) ada marketing director yang mengepalai berbagai divisi sesuai dengan fungsi masing-masing,” ungkap Rudolf.

Dengan berbagai strategi yang dilakukan, kinerja Sasa pun terus tumbuh. Rata-rata penjualannya di atas 10% per tahun dengan jumlah produksi 70% untuk pasar domestik dan 30% untuk ekspor. (*)

Dede Suryadi

www.swa.co.id

Terbaru