Kesempatan Kedua Tuan Conrad

03 Dec 2022, 09:17 WIB

Setelah gagal dan terpuruk, dia bangkit menebus kesalahan serta kekalahannya. Di tengah keraguan, dia berhasil mencetak kejayaan kembali.

Parker Conrad, Co-Founder dan CEO Rippling.
Parker Conrad, Co-Founder dan CEO Rippling. Foto: njfcapital.com

Adakah kesempatan kedua untuk sukses setelah gagal dan jatuh berkeping-keping? Jika itu ditanyakan kepada Parker Conrad, dia akan mengangguk dan tersenyum. Dia pun bakal senang hati menceritakan kisah hidupnya. Kelahiran New York tahun 1980 ini memang memiliki jalan kehidupan yang menarik terkait kegagalan serta kesuksesan di dunia bisnis.

Conrad masih berusia 32 tahun (2012) ketika mendirikan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang human resources (HR). Namanya: Zenefits. Hanya dalam tiga tahun (2015), dia sukses membangun perusahaannya menjadi kesayangan Silicon Valley dengan valuasi US$ 4,5 miliar.

Namun, kesuksesan yang direguk itu segera menjadi mimpi buruk. Alih-alih terus berjaya, pertumbuhan perusahaan terhenti. Penyebabnya adalah seputar compliance ketika sejumlah broker Zenefits menjual asuransi kesehatan di negara-negara bagian di mana mereka tidak memiliki lisensi untuk melakukannya.

Kejayaan pun seketika luruh. Padahal, puja-puji tengah mengalir. Zenefits dianggap sebagai salah satu fast growing startup. Februari 2016, Conrad mengundurkan diri di bawah tekanan sementara Zenefits dihentikan, dilanjutkan manajemen baru.

Dalam pengakuannya, dia bercerita bahwa setelah mengundurkan diri, dia pulang ke rumah, menonton Star Wars sementara badan pengawas pasar modal serta regulator asuransi membuka pintu investigasi. “Saya bersembunyi di rumah, semacam berada di garis bunuh diri, tidak bicara ke siapa pun, hanya menonton apa yang terjadi,” ungkapnya.

Namun, Conrad bukanlah orang bermental lemah. Lelaki kekar berambut pirang kemerahan ini tetap percaya dengan misinya, yakni membuat urusan HR menjadi lebih mudah lewat peranti lunak.

Enam minggu berlalu, luka-luka batin itu segera pulih. Tak perlu waktu lama, dia pun memutuskan memulai langkah baru sementara perusahaan lamanya masih terguncang, dan tengah dikelola manajemen baru.

Merujuk ke latar belakangnya, Conrad bukan berasal dari keluarga sembarangan. Dia tumbuh di keluarga kaya di wilayah elite, Upper East Side, New York. Ayahnya seorang senior partner di kantor hukum Davis Polk & Wardwell. Adapun ibunya mendirikan LSM lingkungan.

Conrad anak yang pintar, dia masuk Harvard. Di Harvard, tempat ayahnya belajar hukum, dia menjadi managing editor di The Harvard Crimson. “Saya luangkan banyak waktu di Crimson sehingga gagal di kuliah,” ujarnya. Meluangkan waktu setahun, anak muda ini kemudian bekerja di Arkansas Democrat-Gazette, kemudian kembali ke Harvard, dan lulus di tahun 2003 dengan mengantongi gelar sarjana kimia.

Setelah kuliah, dia bekerja sebagai manajer produk di Amgen. Hidupnya sempat redup saat didiagnosis mengidap kanker testis. Namun, Conrad memang seorang petarung. Tahun 2004, di usianya yang menginjak 24 tahun, dia dinyatakan sukses melawan kanker testis.

Pascaperjuangan melawan kanker, instingnya untuk menjadi pebisnis menuntunnya mendirikan perusahaan. Tahun 2006, dia mendirikan perusahaan manajemen portofolio, SigFig. Sayang, perusahaan ini tak berkembang.

Terinspirasi dengan diluluskannya Obamacare pada tahun 2010, akhirnya dia pun memulai Zenefits di tahun 2013 bersama Laks Srini, yang sebelumnya menjadi pengembang software di SigFig.

Seperti disinggung di atas, Zenefits segera lepas landas, dan bersama Andreessen Horowitz serta pemodal ventura lainnya, perusahaan muda ini segera menyentuh valuasi hingga US$ 4,5 miliar di tahun 2015. “Zenefits was already the hottest startup of 2014. Now it’s making a case to grab the same title in 2015,” tulis Forbes pada saat itu, dan menyatakan Conrad “dapat menjadi billionaire”.

Akhirnya, seperti diceritakan di awal, Conrad mundur. Zenefits didenda US$ 9 juta sementara Conrad secara personal didenda US$ 533 ribu. Di tahun 2016 itu, perusahaan bukan hanya tak tumbuh, tapi juga gagal meraih pendapatan US$ 100 juta seperti yang ditargetkan sebelumnya.

Rippling’s Parker Conrad TIMOTHY ARCHIBALD FOR FORBES

Tak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, pada April 2016, Conrad meluncurkan Rippling bersama mantan Direktur Teknis Zenefits, Prasanna Sankar. Mereka menjadi founder dan CTO. “Dia seperti singa di sarangnya,” ujar Sankar yang mengirim surat elektronik (surel) khusus ke Conrad, mengutarakan harapannya bisa bergabung dengan startup yang baru yang akan didirikan sahabatnya itu. “Dia punya peta di tangannya. Peta yang sangat, sangat jelas. Ada banyak hal yang dia inginkan, yang dia tak bisa tereksekusi di Zenefits,” dia menambahkan.

Bekerja dari rumahnya di San Francisco, Conrad mencoba hidup barunya dengan Rippling. Dibantu Sankar, duet ini membangun software yang tidak hanya mengelola urusan payroll dan employee benefit, tapi juga manajemen HR secara komprehensif.

Menengok ke belakang, Conrad percaya persoalan terbesar di Zenefits adalah pertumbuhan secepat kilat yang melebihi kapabilitas rekayasa (engineering), yang akibatnya memaksa perusahaan melakukan hal-hal yang menyebabkan kesalahan fatal. Namun, orang-orang di dekatnya mengatakan bahwa persoalan di Zenefits adalah perlakuan yang diterimanya.

“Apa yang paling menghancurkan adalah pengkhianatan,” ujar istri Corad, Alex, yang sekarang bekerja di Tesla. Alex merujuk pada beberapa orang Zenefits yang kemudian menggantikan posisi Conrad di tengah kemelut yang berlangsung.

Apa pun, yang pasti saat membangun Rippling, Conrad sangat berhati-hati. “Zenefits melakukan kesalahan yang tak boleh diulangi di sini (Rippling),” katanya. Karena itulah, dia merekrut orang-orang yang dianggap bisa menasihatinya. Untuk menghindari kesalahan sebelumnya, dia merekrut eksekutif top seperti Vanessa Wu dari LiveRamp, dan Adil Syed yang menjadi CFO Rippling yang sebelumnya bekerja di Snap.

Dari mana dia mendanai itu semua?

Banyak orang mengira kejatuhan di Zenefit akan memukul Conrad serta menghentikan minat investor. Kenyataannya, pandangan itu keliru besar. Anggapan itu tak berlaku buat Conrad. Dia tak punya kesulitan meyakinkan sejumlah venture capital untuk membantunya. Dia mengantongi US$ 145 juta dari investor, termasuk dari Initialized Capital dan Kleiner Perkins.

Sangat wajar jika Conrad bisa membetot para venture capital datang mengucurkan uang. Bersama Sankar, mereka membuat Rippling menjadi peranti lunak yang punya banyak keunggulan. Dalam software ini, seorang administrator perusahaan tidak hanya bisa melihat sisi penggajian (payroll), melainkan juga aplikasi pihak ketiga seperti Zendesk, Gong, serta lebih dari 500 aplikasi lainnya.

Jika ada karyawan baru yang masuk, misalnya, Rippling secara otomatis memasukkan namanya ke urusan penggajian. Termasuk tunjangan lain seperti laptop dengan software yang sesuai dengan kebutuhannya, juga aplikasi yang sesuai dengan pekerjaan masing-masing, seperti akuntan akan dapat Excel dan teknisi dapat PcCharm, sekaligus menempatkan mereka dalam fasilitas surel terbaik seperti Listservs dan Slack.

Conrad memang membuat Rippling sebagai software yang mudah digunakan. Fasilitas yang disebut di atas (memasukkan karyawan baru) hanya membutuhkan 90 detik. Conrad menyatakan bahwa keunggulan Rippling tidak hanya payroll yang otomatis, seperti halnya Zenefits dan Gusto, tapi juga secara otomatis mengelola peranti lunak, apps, dan work group yang dibutuhkan karyawan baru, juga menjaga semua data ter-update seperti saat karyawan dapat promosi atau keluar dari perusahaan.

Mesti diakui, urusan pekerjaan administratif sering dianggap bukan bisnis yang seksi. Akan tetapi, jika software yang digunakan tepat, perusahaan bisa menyelamatkan jam-jam produktif yang mesti dilakukan eksekutifnya. Alhasil, peranti lunak yang bisa melakukan ini berpotensi meraup pasar yang besar, terutama menggaet perusahaan kecil-menengah agar mereka tidak pusing kepala saat akan mengembangkan bisnisnya.

Itulah sebabnya, Conrad sangat intens mengeksplorasi fitur-fitur di Rippling. Bersama eksekutif Rippling, dia menggunakan data Gartner, bahwa total pasar HR dan peranti lunak payroll, plus software yang ditawarkan, termasuk identity management, nilainya tidak kecil: US$ 35 miliar secara global.

Apa yang dilakukan Conrad rupanya disukai pasar. Satu demi satu perusahaan jatuh dalam pelukan Rippling. Karyawan pun bertambah. Tahun 2017, perusahaan startup ini memiliki 14 karyawan. Kini berawak 250 orang (hampir setengahnya berada di Bangalore, India).

“Banyak orang yang membangun peranti lunak untuk departemen HR ketimbang membangun employee software yang dapat digunakan di seluruh organisasi,” kata Conrad. “Saya kira kebanyakan pekerjaan yang tidak bisa direduksi dan dibenci orang saat menjalankan perusahaan adalah mempertahankan informasi tentang karyawan di dalam perusahaan.”

Itulah value proposition yang ditawarkan Rippling, dan pelanggan menyukainya. Salah satu pelanggannya, Compass Coffee yang berada di Washington dengan 12 lokasi, menggunakan Rippling untuk mengelola payroll buat stafnya yang berjumlah 190 orang. Sebelumnya, mereka butuh 20 jam per minggu untuk mengelolanya, sekarang cukup 45 menit.

Model bisnis Rippling sendiri sangat mengandalkan subscription. Kini, setelah enam tahun menjalankan Rippling, Conrad meraup sukses. Lebih dari 2.500 perusahaan, dari Compass Coffee sampai DivvyUp Socks, membayar fee bulanan, mulai dari US$ 8 per pengguna per bulan untuk employee-management software. Kini recurring revenue tahunannya berada di atas US$ 100 juta. Sementara tahun 2020 baru US$ 13 juta.

Pertumbuhan Rippling yang cepat dan solid membuatnya masuk dalam Next
Billion-Dollar Startups
, dengan valuasi mencapai US$ 1 miliar. Itu membuat Conrad satu-satunya entrepreneur yang masuk daftar lewat dua perusahaan berbeda: Zenefits yang masuk di tahun 2015, dan Rippling. “Ini cerita tentang penebusan yang luar biasa,” ujar Garry Tan memuji. Managing Partner Initialized Capital ini mengenal Conrad selama delapan tahun dan berinvestasi di Rippling.

Enam tahun setelah keluar dari Zenefits, pembalasan Conrad memang begitu sempurna. Dia sekarang menjadi miliarder dengan nilai kekayaan US$ 2,2 miliar, sementara valuasi perusahaannya mencapai US$ 11,25 miliar (Forbes, 24 Juni 2022).

“Saya sudah mengalami kesuksesan serta kegagalan, dan siklus itu berulang dalam kehidupan,” kata Conrad bijak. Bagi dia, siklus yang sekarang adalah kesempatan kedua yang sudah dimanfaatkan sebaik-baiknya. (*)

Teguh S. Pambudi

www.swa.co.id