Keberagaman Kultural dan Keanekaragaman Hayati sebagai Landasan Keunggulan Komparatif Indonesia

03 Dec 2022, 22:48 WIB

Victor Christianto & Deddy Jacobus, Risk Workshop International, Indonesia (konsultan manajemen risiko dan kelangsungan usaha)

Victor Christianto

Laporan IMF (Oct. 2022) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mengalami perlambatan dari sekitar 3% hingga sekitar 2% sekian untuk 2023, bahkan lebih dari 30% akan terdampak resesi.

 “Global growth is forecast to slow from 6.0 percent in 2021 to 3.2 percent in 2022 and 2.7 percent in 2023. This is the weakest growth profile since 2001 except for the global financial crisis and the acute phase of the COVID-19 pandemic.” (World Economics Outlook, Oct. 11th, 2022)

Jika dilihat dari kritik John Perkins atas corporatism (atau yang disebutnya: corporatocracy), fokus yang berlebihan terhadap big platform dan juga big corporates bisa menjadi salah satu kemungkinan penyebab pelbagai problem dalam ekonomi termasuk melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Pendekatan yang telah dianggap baku sejak 2 abad silam tersebut, kemungkinan memiliki jalur alternatif jika kita menilik tema Positive Linking (cf. Paul Ormerod) yang menyiratkan kesempatan pertumbuhan baru jika kita bertumpu pada para pemain mikro yang diberdayakan dengan pelbagai jejaring sosial (ICT) untuk menjangkau pasar regional hingga global dengan biaya yang minimal. Dengan begitu kita juga dapat melihat keberagaman kultural dan keberagaman hayati sebagai landasan keunggulan komparatif para pelaku ekonomi mikro (UMKM).

Keunggulan Kompetitif dan Komparatif dalam Bisnis

Berbeda dengan  keunggulan komparatif yang lebih fokus pada keunikan masing-masing sebagai landasan ekonomi internasional, ada cetusan gagasan terkait keunggulan kompetitif oleh Michael Porter selaku guru besar bisnis di Harvard Business School. Hal ini membuat banyak peneliti berusaha mengembangkan teori tersebut untuk mengembangkan keunggulan kompetitif nasional dengan sudut pandang masing-masing.

Deddy Jacobus

Namun disadari atau tidak, kata kompetitif  mencerminkan pola permainan win-loose yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi rill yang lebih mengarah pada pola permainan win-win, karena keterlibatan kedua belah pihak yang dapat bekerja sama untuk saling mengisi ceruk pasar sesuai kapasitas dan sumber daya masing-masing (dalam bahasa ekonomi, dari model Ricardian klasik, menjadi non zero sum Ricardian model).

Tak hanya itu, keunggulan kompetitif juga kerap kali hanya mengandalkan supremasi teknologi sebagai daya dorong ekonomi. Terutama dengan munculnya asumsi mengenai pencapaian kemajuan atau keunggulan hanya dimiliki oleh negara yang secara kultur-etnis serumpun seperti Jerman, Amerika, Jepang, dll.

Namun, untuk Indonesia, sudah sejak dahulu ekonomi bertumpu pada keunggulan komparatif dari sumber daya alam dan mineral serta keanekaragaman hayati yang melimpah seperti rempah-rempah. Tidak hanya sumber daya alam, kita juga patut bersyukur atas keberagaman kultural, bahasa dan lain-lain sebagai rahmat dan berkah tersembunyi dari Tuhan Khalik langit dan bumi.

Pada akhirnya keanekaragaman hayati serta kebhinekaan budaya tersebut akan menumbuhkan modal kognitif dan sosial jika cara pandangnya tepat. Ada 7 hal penting yang dapat dipertimbangkan dalam usulan ini.

Pertama, manfaat neurosains dari memberi dan kerjasama (cooperation):  telah diketahui bahwa aktivitas kerjasama melibatkan proses kognitif yang sangat kompleks. Hal tersebut menjadi kemungkinan penyebab mengapa orang-orang lebih suka terlibat dalam kompetisi karena melibatkan otak reptil (flight, fight or stand still) karena lebih sederhana, dan bukannya fungsi kognitif yang lebih kompleks yang diperlukan untuk bekerjasama.

Kedua, altruisme dan kerjasama merupakan aktivitas dasar yang dapat membentuk masyarakat. Salah satu artikel dalam Harvard Business Review menunjukkan bahwa gen dalam tubuh manusia tidak bersifat egois. Hal tersebut juga didukung oleh seorang ahli biologi evolusioner dari Praha yaitu Prof. Jaroslav Flegr dalam bukunya berjudul “Frozen Evolution” yang antara lain menjelaskan gen-gen kitapun tidak melulu egois.

Ketiga, mempertimbangan beberapa tradisi lokal di berbagai daerah dalam negeri dengan ungkapan “chin cai” yang menurut salah satu mahasiswa kami, kata tersebut berasal dari bahasa Khek (hakka) yang bermakna : itu tak masalah buat saya.

Keempat, tradisi budaya timur yang memberikan nilai tinggi pada keluarga dan persahabatan di atas motif maksimalisasi laba semata-mata.

Kelima, budaya keramahan (hospitalitas) telah dikenal sejak zaman purba, khususnya dalam penyambutan orang asing; yang tentunya kurang memiliki nilai efisiensi jika dilihat dari sudut pandang ekonomi modern seperti yang terjadi saat ini.

Keenam, teori ekonomi konvensional (Barat) sangat menekankan efisiensi dan “maksimalisasi utilitas,” namun demikian akhir-akhir ini telah dimunculkan oleh beberapa ahli mengenai filosofi ekonomi yang agak berbeda, bertolak dari asumsi anti-utilitarianisme. Atau dalam bahasa anak-anak muda saat ini: social entrepreneurship, artinya mengembangkan usaha yang tetap memiliki tujuan profitabilitas, sambil berupaya mencapai tujuan tujuan yang lebih mulia bagi kemanusiaan.

Ketujuh, budaya Timur cenderung memberikan nilai tinggi kepada hidup dan persahabatan, dan hal ini tampaknya berakar pada kesadaran akan identitas diri yang bersifat relasional.


Metode Kano dalam Bisnis

Melihat dari banyaknya pertimbangan di atas, mengembangkan produk yang terjangkau, berkualitas sekaligus hemat energi terutama dalam bidang otomotif, dapat dianggap bagian dari implementasi Lean Product, di antaranya Kano method yang telah dikembangkan oleh para peneliti di Jepang.

(ilustrasi 1. Metode Kano)

Contoh beberapa inovasi anak bangsa dalam bidang teknologi yang murah meriah dan tidak memerlukan investasi besar dalam penelitian maupun produksi seperti sepeda motor bertenaga air dan berbasis elpiji 3 Kg berikut ini:

(Ilustrasi 2. Sepeda motor bertenaga air)
(ilustrasi 3. Sepeda motor berbasis elpiji 3kg)
(ilustrasi 4. Converter kit)

Penutup

Melihat keunggulan komparatif terkait munculnya potensi pasar baru, tampaknya pelaku usaha perlu menilik ulang kerangka Ricardian model klasik menjadi non-zero sum Ricardian model. Sehingga keberagaman kultural dan keanekaragaman hayati sebagai landasan keunggulan komparatif tidak hanya sekadar bertumpu pada big corporation namun juga para pelaku ekonomi mikro hingga ukuran sedang.

Disclaimer: isi artikel merupakan pendapat pribadi.