Link and Match dan Sistem Informasi Pasar Kerja

14 Dec 2022, 14:36 WIB

Oleh: Jusuf Irianto, Guru Besar Manajemen SDM di Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Airlangga

Jusuf Irianto, Guru Besar Dep. Adm. Publik FISIP Universitas Airlangga, Pengurus MUI Jawa Timur

William Grosvenor Pollard (1911–1989) guru besar fisika dari Universitas Tennessee di AS, menyatakan informasi yang dikelola dengan baik akan bermanfaat bagi pengambilan keputusan. Informasi berperan penting mengatasi berbagai masalah, termasuk bidang ketenagakerjaan. Saat ini isu pengangguran menghantui berbagai negara termasuk Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan Agustus 2022 mencapai 5,86 persen, turun sebesar 0,63 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2021. Sementara itu, ada sekitar 4,15 juta orang (1,98 persen) penduduk usia kerja yang menganggur akibat krisis yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), pemerintah berupaya mengatasi masalah pengangguran dengan mendorong implementasi program link and match. Program ini merupakan salah satu fokus kebijakan pemerintah di bidang ketenagakerjaan.

Mengambil salah satu contoh pelaksanaan program link and match adalah program pembelajaran yang dilaksanakan berbagai unit pendidikan di bawah naungan Kementerian Perindustrian (Kemperin). Melalui unit pendidikan tersebut, Kemperin mengklaim mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) terampil sesuai kebutuhan industri.

Unit pendidikan di Kemperin meliputi Sekolah Menengah Kejuruan, politeknik, dan Akademi Komunitas. Karena mampu mewujudkan sistem pendidikan berbasis kompetensi terkait kebutuhan industri, unit pendidikan tersebut menjadi rujukan pengembangan pendidikan vokasi.

Pengembangan bidang pendidikan di Kemperin merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Di samping pendidikan dasar dan menengah, terdapat ribuan perguruan tinggi (PT) penyelenggara strata diploma, sarjana dan pascasarjana tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Sejumlah kalangan menilai bahwa penyelenggaraan pembelajaran di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) belum mampu menghasilkan lulusan siap kerja. Akibatnya, lulusan PT menyumbang pengangguran terbesar. Karena itu, percepatan link and match perlu dilakukan dengan mengandalkan Sistem Informasi Pasar Kerja.

Sistem Informasi Pasar Kerja

Salah satu cara percepatan link and match dapat ditempuh melalui integrasi sektor pendidikan dengan ketenagakerjaan. Dua lembaga internasional yaitu ILO (International Labour Organization) dan Bank Dunia menekankan pentingnya pengembangan Labour Market Information System atau Sistem Informasi Pasar Kerja (SIPK) guna mengintegrasikan kedua sektor.    

Indonesia telah mengembangkan SIPK namun belum dimanfaatkan secara optimal. Merujuk hasil studi Bappenas (Badan Perencana Pembangunan Nasional) dan Bank Dunia, Kemnaker mengakui posisi SIPK berada di tingkat dasar menuju menengah alias belum optimal. Terdapat sejumlah keterbatasan sehingga fitur data dan informasi yang disajikan dalam SIPK belum menggambarkan kondisi real time.

SIPK yang optimal dan mampu menyajikan berbagai data aktual harus memenuhi beberapa kriteria. Belajar dari pengalaman negara maju yang telah membangun sistem informasi tenaga kerja secara efektif, terdapat lima kriteria yaitu relevan, handal, efisien, berfokus pada klien, dan komprehensif. Perbaikan SIPK oleh Kemenaker harus mengarah pada pemenuhan kriteria tersebut.

SIPK diidealkan mampu mengakselerasi percepatan implementasi link and match seraya mengurangi laju pengangguran dan memperluas peluang kerja. Hambatan terbesar PT dalam memenuhi kebutuhan pasar kerja adalah mismatch antara spesifikasi lulusan dengan tuntutan kerja. Akibatnya muncul paradoks, jumlah lulusan PT besar namun terjadi labour shortage.

Dunia pendidikan berupaya mewujudkan link and match. Namun, ada beberapa kendala dalam mengidentifikasi kebutuhan pasar kerja akibat minim ketersediaan data. SIPK yang berfungsi sebagai fundamen pemerintah dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan belum terfokus sehingga PT belum dapat memanfaatkannya secara tepat.

Karena itu perbaikan SIPK oleh Kemnaker merupakan pilihan rasional dalam menyajikan data relevan bagi PT. Program pengembangan PT khususnya untuk pendidikan vokasional, akan menjadi selaras mengikuti kebijakan ketenagakerjaan berbasis analisis permintaan dan  perencanaan tenaga kerja yang tersaji dalam fitur SIPK.

Dengan merujuk informasi dalam SIPK, PT dapat mempertimbangkan untuk segera membuka jurusan atau program studi baru sehingga lulusannya terserap oleh pasar kerja. Sementara jurusan yang sudah jenuh dapat ditinjau ulang atau ditutup jika memang diperlukan.

Link and Match

Percepatan link and match melalui SIPK perlu didukung PT berfokus pada integrasi input, proses, dan output pembelajaran dengan kebutuhan kerja. Kompetensi lulusan yang dihasilkan PT diharapkan mampu mempertemukan lulusan dengan permintaan pasar kerja lebih efektif.

Pendidikan, khususnya vokasional, yang diselenggarakan PT sebaiknya fokus pada pengembangan spesialisasi bidang tertentu sesuai data kebutuhan dalam SIPK. Implementasi link and match dikembangkan PT melalui kemitraan dengan perusahaan untuk menyelaraskan materi kurikulum pembelajaran dengan praktik kerja di lapangan. Materi belajar dikembangkan dalam bentuk modul pembelajaran yang secara khusus dirancang sesuai kebutuhan pasar.

PT juga harus melengkapi diri dengan fasilitas pendukung yang mampu memberi pengalaman belajar istimewa. Berbagai fasilitas baik berupa laboratorium, workshop, teaching factory atau lainnya perlu dipenuhi agar pembelajaran tak terjebak dalam dimensi teoritis.

Salah satu penyebab lulusan gagal memenuhi standar kompetensi dunia kerja adalah faktor ketimpangan porsi pengalaman pembelajaran teori jauh melampaui jumlah praktek kerja sebagai metode pembelajaran. Karena itu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diusung Kemdikbudristek harus didukung dan konsisten dilaksanakan secara berkelanjutan.

Dalam program MBKM, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar di luar kelas dalam porsi memadai. Capaian prestasi tak lagi sama dengan ibarat “katak dalam tempurung” karena memiliki pengalaman berbasis kegiatan magang di perusahaan atau instansi pemerintah. Model ini mampu menerobos dinding tebal pendidikan yang selama ini kokoh mengadang mahasiswa memperoleh pengalaman belajar praktis di tempat kerja secara nyata.

Selain mengembangkan ilmu pengetahuan, fokus PT juga menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif. Karena itu PT harus pula menjelma menjadi pusat layanan penyedia tenaga kerja berkeahlian. Lulusan yang dihasilkan PT tak sekadar hebat secara kognitif, namun juga afektif dan psikomotorik terjamin ditunjukkan dengan terampil bekerja.

Di samping sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran, PT juga merupakan pusat riset dan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud nyata pelaksanaan tri-dharma. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta konsep-konsep mutakhir yang dikembangkan melalui dharma pendidikan dan penelitian, selanjutnya PT menghasilkan berbagai produk berupa barang dan jasa inovatif yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Dengan melaksanakan tri-dharma secara konsisten serta penyesuaian diri terhadap bebagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, PT mentranformasikan diri sebagai pusat pelayanan publik guna memenuhi kebutuhan praktis berbagai kalangan sebagai users.

Semua permintaan pengguna baik berupa kebutuhan SDM maupun non-SDM mampu disediakan PT secara efektif. Kemampuan PT memenuhi permintaan pengguna dilakukan melalui kolaborasi atau Kerjasama dengan berbagai pihak.  Kolaborasi antara PT dengan dunia industri misalnya, dapat mewujudkan sejumlah tujuan yang menguntungkan semua pihak.

Kolaborasi PT dengan pemerintah, perusahaan atau sektor swasta serta kalangan internasional juga dapat terus dikembangkan melalui berbagai bentuk kegiatan berupa penyediaan tenaga ahli, pengembangan inovasi produk berbasis hasil riset. Kerjasama juga menyentuh perbaikan mutu lulusan PT lebih berkompeten atau resource sharing yang dimiliki setiap pihak.

Dengan dukungan teknologi sistem informasi yang efektif, sektor pendidikan dan ketenagakerjaan dapat diintegrasikan (linked and match) seraya menggarisbawahi pentingnya mengelola informasi agar bermanfaat merujuk pandangan Pollard yang dikutip di awal tulisan ini.