33 Ide Bisnis Dicetuskan SIWIRA-INOTEK yang Diikuti 330 Mahasiswa

11 Des 2022, 12:00 WIB
Program Wirausaha Merdeka di Universitas Prasetiya Mulya (Foto: Dok Prasetya Mulya)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, rasio jumlah wirausaha di Indonesia hanya 3,47 persen atau sekitar 9 juta orang dari total jumlah penduduk. Pemerintah menargetkan rasio kewirausahaan bisa mencapai 3,95 persen di tahun 2024. Ha ini menjadi perhatian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang kemudian menghadirkan Program Wirausaha Merdeka di kalangan kampus.

Wirausaha Merdeka menjadi bagian dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Dalam program ini mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar di luar kelas perkuliahan, pengalaman praktis, serta pembekalan pola pikir (mindset) dan kompetensi wirausaha, yang bisa dikonversi dengan satuan kredit semester sampai dengan 20 satuan kredit semester. Kemendikbudristek memilih 17 kampus untuk menjadi pelaksana program kewirausahaan ini, salah satunya adalah Universitas Prasetiya Mulya (UPM).

Ketua Program Wirausaha Merdeka UPM Dr. Hesti Maheswari menjelaskan program yang diberi nama Inkubasi Calon Wirausaha Inovatif Berorientasi Teknologi (SIWIRA-INOTEK) ini berhasil mengasah 330 mahasiswa dari 39 perguruan tinggi di 7 provinsi Indonesia. Mereka digembleng berbagai ilmu kewirausahaan 1 semester dengan sistem pembelajaran offline dan online.

“Mahasiswa yang mengikuti SIWIRA-INOTEK tidak hanya akan memiliki pengetahuan dan wawasan dalam mengembangkan bisnis, tetapi juga akan terasah kemampuan berkolaborasi dan membangun network. Contohnya, mereka berkesempatan mendapatkan pendanaan dari Teja Ventures, venture capital yang berbasis di Singapura,” kata Hesti.

Rektor UPM Prof. Dr. Djisman S. Simandjuntak berharap dalam program ini para peserta bisa menjadi inovator pengusaha baru di bidang baru dengan menggunakan teknologi baru. Jika ini dilakukan, dia percaya Indonesia akan dapat melahirkan pengusaha berbasis science dan teknologi dalam jumlah yang cukup dan mampu bersaing.

Sementara itu Asisten Deputi Pengembangan Teknologi Informasi dan Inkubasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Christina Agustin menyebut inkubasi bisnis dengan melibatkan kampus seperti Program Wirausaha Merdeka menjadi hal yang sangat penting karena Indonesia akan menghadapi tantangan berupa bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2035.

“Mahasiswa punya tanggung jawab besar untuk menghadapi negara lain yang memiliki inovasi lebih cepat dan daya pikir lebih kuat. Karena itulah, inkubasi bisnis menjadi hal yang sangat penting karena di situ para mahasiswa digodok, dibimbing, dan difasilitasi. Bahkan juga dilakukan coaching clinic dan dihadirkan pakar untuk mendongkrak jiwa kewirausahaan,” terang Christina.

Puncak dari Program Wirausaha Merdeka di UPM ditutup dengan Demo Day. Acara yang berlangsung di UPM Kampus BSD untuk mempresentasikan prototype bisnis para mahasiswa. Dalam program ini, berhasil tercipta sebanyak 33 ide bisnis dari tim peserta. Klasifikasinya meliputi 17 ide bisnis berbasis produk food & beverage, 5 jenis produk craft, 3 macam produk fashion, 8 ide bisnis berbasis service IT. Selanjutnya dari hasil kurasi tim juri independen, terpilih 7 pemenang best prototype. Usai Program Wirausaha Merdeka, Universitas Prasetiya Mulya siap mengawal kelompok bisnis hingga pengurusan paten, merek, hak kekayaan intelektual serta mendorong seluruh kelompok bisnis untuk mengurus Nomor Induk Berusaha dan Pangan Industri Rumah Tangga .

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id