Ekonomi Digital Indonesia Diprediksi Capai US$ 330 Miliar Tahun 2030

02 Dec 2022, 09:25 WIB
Menparekraf prediksi ekonomi digital Indonesia capai US$ 330 miliar pada tahun 2030 (Ilustarsi)

Ekonomi digital saat ini tengah menjadi sorotan dan tengah digandrungi. Bahkan ekonomi digital digadang-gadang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia di masa depan, yang mampu membawa Indonesia masuk ke dalam kelompok negara dengan pendapatan tinggi.

Pada momentum KTT G20 Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya ekonomi digital sebagai kunci masa depan perekonomian dunia. Ekonomi digital mampu menjadi pertahanan di masa pandemi dengan kontribusi 15,5 persen dari PDB global dan membuka peluang bagi masyarakat kecil, agar bisa menjadi bagian dari rantai pasok global.

Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo dalam acara DataGovID Web Summit 2022 yang digelar secara daring menjelaskan, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan tumbuh 20 persen dari tahun 2021 sampai dengan tahun 2025 menjadi US$164 miliar. Dan diprediksi akan mencapai US$ 330 miliar tahun 2030 dengan e-commerce sebagai pendorong utama.

Menurut Angela, perkembangan ekonomi digital di Tanah Air juga dapat dilihat dari total investasi pada platform digital. Di mana investasi digital di Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, dengan angka mencapai 38,7 persen. “Karenanya transformasi digital diyakini akan menjadi katalisator utama sumber pertumbuhan perekonomian Indonesia,” ujar Wamenparekraf.

Dari sisi pariwisata maupun dari sisi ekonomi kreatif, digitalisasi mempunyai peran yang sangat penting. Tercatat dua pertiga dari pendapatan Global Travel and Tourism Market datang dari penjualan online dan diperkirakan akan mencapai US$ 691 miliar pada 2026.

“Tren yang sama juga terjadi di Indonesia. Didorong faktor permintaan yang meningkat untuk digital tourism dari wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara,” kata Angela.

Dalam ekonomi kreatif, di masa pandemi beberapa subsektor ekonomi kreatif Indonesia dalam ekosistem digital mencatatkan pertumbuhan yang terbilang baik. Seperti subsektor game, konten tv dan radio yang terdigitalisasi, serta aplikasi juga naik signifikan. 

Sementara, para pelaku usaha di subsektor ekraf seperti kuliner, fesyen, dan kriya juga mampu bertahan di masa pandemi dengan cara go digital. “Dan kata terpenting di sini adalah pendampingan. Agar para pelaku UMKM tidak sekadar on board ke platform digital, namun juga mampu bersaing dan berkembang,” Angela menegaskan.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id