Skip to main content

Channels

Ekonomi Digital Melejit, Bisnis Pengemasan Bakal Meroket

  • 17 Des 2022, 08:56 WIB
  • 20
Herwanto Sutanto, Presiden Direktur Alkindo Naratama.
Herwanto Sutanto, Presiden Direktur Alkindo Naratama.

Industri pengemasan (packaging) kebanjiran rezeki dari semaraknya transaksi di lokapasar (ecommerce) dan toko dalam jaringan (online). Laporan e-Conomy SEA 2021 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company menyebutkan, total nilai gross merchandise value (GMV) lokapasar pada 2021 mencapai US$ 70 miliar atau melonjak 48,3% dari GMV tahun 2020 yang senilai US$ 47 miliar.

Produsen pengemasan mengoptimalkan momentum emas ini untuk menggenjot laju bisnis. Beberapa perusahaan pengemasan sudah memetik laba lantaran penjualan produknya semakin meroket.

Sebut contoh, PT Alkindo Naratama Tbk. Perusahaan yang menggarap segmen bisnis kertas dan bahan kimia terintegrasi ini membukukan pertumbuhan laba bersih seiring tren positif pertumbuhan ekonomi digital dan barang konsumsi (fast moving consumer goods/FMCG) di masa pandemi ini. Pada 2021, emiten yang sahamnya berkode ALDO ini mencetak laba bersih Rp 39,31 miliar atau tumbuh 31% dari Rp 30,05 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY).

Herwanto Sutanto, Presiden Direktur Alkindo Naratama, mengatakan bahwa pihaknya mencermati prospek pengemasan akan tumbuh karena disokong pertumbuhan ekonomi digital dan industri FMCG. Pertumbuhan di sektor bisnis ini bakal memicu permintaan produk pengemasan. Herwanto mengamati beragam indikator positif, antara lain perubahan perilaku konsumen yang berbelanja di ecommerce, seperti membeli makanan dan minuman via platform digital.

Perusahaan kemasan lainnya, PT Satya Mitra Kemas Lestari (SMKL), juga kejatuhan durian runtuh. SMKL pada paruh pertama tahun ini membukukan laba bersih Rp 59,57 miliar. Angka ini melonjak 46% dari Rp 40,90 miliar (YoY).

Peningkatan laba bersih kedua perusahaan itu diperoleh dari pertumbuhan penjualan. SMKL mencatatkan omzet sebesar Rp 1,14 triliun alias naik 17,5%. Adapun ALDO mengantongi penjualan senilai Rp 767,22 miliar, meningkat 15% dari Rp 669,85 miliar. Total penjualan ini diperoleh dari penjualan subsektor kertas yang naik 12% atau menjadi Rp 498,78 miliar, dan penjualan subsektor kimia senilai Rp 268,44 miliar, yang tumbuh 20%.

Kendati menjaring laba dan omzet yang ciamik, produsen kemasan ini menggulirkan budaya inovasi demi menangkap momentum emas itu. “Kami melihat potensi yang besar dari tren yang ada saat ini. Oleh karena itu, kami memproduksi food packaging dengan memperkenalkan brown food packaging yang ramah lingkungan. Bahannya terbuat dari kertas cokelat yang berasal dari kertas daur ulang,” tutur Herwanto.

Alkindo Naratama juga meluncurkan produk baru, yaitu kotak kertas (paper box) untuk kemasan makanan dan tas kertas (paper bag) untuk tas belanja yang digunakan pelaku usaha ritel (seperti toko swalayan dan supermarket); perusahaan FMCG; serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, juga memproduksi papercore yang biasa digunakan oleh perusahaan film, plastic, dan flexible packaging.

Bahan baku kertas yang digunakan ALDO itu salah satunya berasal dari kertas bekas yang didaur ulang (recycled paper). Bahan baku tersebut dikumpulkan dan diproduksi oleh anak usahanya, PT Eco Paper Indonesia (ECO).

Inovasi Produk dan Ekspansi

Herwanto menyampaikan, diversifikasi produk untuk masuk ke pasar tas berbahan baku kertas itu untuk merespons perubahan perilaku konsumen di e-commerce dan regulasi di sejumlah daerah untuk tidak menggunakan kantong plastik demi mengurangi pencemaran lingkungan hidup. ”Selain pengemasan untuk food, ada juga segmen terbesar yang non-food. Jika mengirimkan barang, biasanya menggunakan gelembung plastik (bubble wrap) yang bisa menimbulkan pencemaran lingkungan hidup. Jadi, kami pada tahun ini meluncurkan hexa wrap yang bahannya dari kertas cokelat daur ulang berbentuk struktur sarang lebah. Tujuannya adalah untuk mengurangi sampah plastik di industri ecommerce,” paparnya.

Taktik yang tak jauh berbeda dipraktikkan SMKL. Herryanto Setiono Hidayat, Direktur Pemasaran SMKL, mengatakan, produk-produk kemasan perseroan merupakan produk ramah lingkungan lantaran menggunakan bahan baku karton atau kertas cokelat hasil daur ulang.

Beberapa pelanggan SMKL memesan khusus untuk produk kemasan ramah lingkungan itu. “Semakin ke sini semakin terlihat adanya tren bisnis berkelanjutan yang semakin kuat, sehingga mendukung peningkatan penjualan SMKL,” kata Herryanto.

Pelanggan SMKL adalah perusahaan-perusahaan FMCG yang penjualannya relatif stabil di masa pandemi ini. Maka, Herryanto pun menyuarakan nada optimistis mengenai tingginya permintaan produk kemasan karena perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan kemasan untuk produk-produknya. “Penjualan kami sangat terbantu oleh perkembangan pemulihan perekonomian Indonesia yang tetap kuat di bawah bayang-bayang resesi dunia,” ungkapnya.

Demi memanjakan konsumen, SMKL menyodorkan one stop packaging solutions, mulai dari produksi berbagai macam kemasan yang dikustomisasi (customized), pengiriman logistik dengan SKL Express (unit usaha logistik milik SMKL), hingga solusi penyimpanan dengan menyediakan gudang yang terintegrasi dengan SKL Express. Perseroan menyediakan berbagai macam kebutuhan kemasan sesuai dengan keinginan pelanggan. Di sisi lain, SMKL juga mampu membuat rekomendasi untuk jenis bahan, ukuran, dan bentuk yang digunakan dalam kemasan.

SMKL pun berfokus pada teknik pencetakan yang baik tanpa mengurangi kualitas produk dengan harga yang sesuai. Hal ini yang menjadikan produk kemasannya banyak dipesan oleh perusahaan nasional dan multinasional. Produk-produk tersebut yakni corrugated carton box, pre-print corrugated box, offset printing box, dan rigid box.

Perihal produk kemasan yang ramah lingkungan, SMKL dan ALDO (melalui anak usahanya ECO) memperoleh sertifikasi berkelanjutan Forest Stewardship Council (FSC) untuk upaya pengembangan bisnis perkelanjutan. Sertifikasi FSC merupakan sertifikasi yang menyatakan produk yang digunakan berasal dari hutan dengan pengelolaan yang baik serta memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Ke depan, kedua perusahaan berencana meningkatkan kapasitas produksi untuk menyongsong pertumbuhan industri e-commerce. ALDO sedang mempersiapkan sistem dan komponen mesin-mesin baru untuk meningkatkan kapasitas produksi kertas cokelat berbahan kertas daur ulang. Setelah mesin-mesin baru tersebut beroperasi, kapasitas produksi kertas cokelat berbahan kertas daur ulang akan meningkat menjadi 220 ribu ton per tahun dari kapasitas produksi saat ini yang sekitar 80 ribu ton per tahun.

“Akhir November 2022 ini mesin kedua bisa beroperasi. Kkapasitas produksi mesin mencapai 250 ton per hari dan mesin kedua yang terbaru ini 500 ton per hari, jadi total kapasitas produksinya 750 ton per hari,” tutur Herwanto. Untuk memproduksi kertas kemasan sebanyak 750 ton ini, pasokan kertas daur ulang yang dibutuhkan sebanyak 900 ton.

Seiring kegiatan ekpansi yang berjalan sesuai dengan rencana, ALDO optimistis target pertumbuhan penjualan di 2022 sebesar 30% dan laba bersih 40% akan tercapai. “Dengan adanya penambahan mesin ini, penjualan diharapkan naik dua kali lipat jika dibandingkan tahun 2021 yang mencapai Rp 1,45 triliun,” ungkap Herwanto. Untuk target pendapatan SMKL, jajaran direksi mengincar omzet Rp 2,4 triliun atau berpotensi tumbuh 15% dibandingkan pada 2021.

Manajemen SMKL dan ALDO optimistis bahwa target kenaikan penjualan di tahun ini akan tercapai karena permintaan pengemasan tetap tinggi di masa mendatang. “Ke depannya, SMKL akan terus memberikan solusi terbaik untuk memproduksi kemasan yang berkualitas. Kami akan terus mengembangkan bisnis kami untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat bisnis keberlanjutan. SMKL akan terus memperlengkapi one stop packaging solutions sebagai keunggulan dan strategi bisnis,” Herryanto menandaskan.

Kedua produsen pengemasan mempersiapkan diri untuk menyongsong potensi pertumbuhan ekonomi digital. Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan nilai GMV e-commerce pada 2025 mencapai US$ 146 miliar. Produsen kemasan yang menyodorkan produk dan layanan termutakhir itu berpeluang besar menikmati gurihnya bisnis ekonomi digital di periode mendatang. (*)

Sri Niken Handayani & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Terbaru