Keresahan Menjadi Inspirasi Hadirkan Tisu Ramah Lingkungan

16 Dec 2022, 10:46 WIB
Pendiri TISOO Stephannie Thian (tengah) mengungkapkan kehadiran Tisoo berawal dari keresahannya melihat kerusakan lingkungan. (Foto Dok. Tokopedia)

Isu lingkungan menjadi topik yang banyak diperbincangkan oleh masyarakat saat ini. Model bisnis yang hijau, berkelanjutan, dan peduli terhadap lingkungan mulai menjadi fokus para pengusaha baik yang skala mikro, kecil, menengah, hingga industri. Kepedulian terhadap lingkungan juga menciptakan ide bisnis bagi sebagian orang, termasuk Stephannie Thian, Pendiri merek Tisoo. 

Stephannie Thian menceritakan, kehadiran Tisoo berawal dari keresahannya melihat banyak masalah lingkungan. Adanya kerusakan lingkungan karena gaya hidup manusia yang sangat konsumtif dan manusia kurang memperhatikan (dampak terhadap lingkungan) apa yang dikonsumsi, mulai dari material hingga kemasannya. 

“Resah melihat hal itu, saya dan Will (Pendiri Tisoo) akhirnya memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan. Memikirkan apa produk yang sehari-hari banyak orang pakai (memiliki dampak lingkungan yang cukup besar), dan kita memilih tisu. Biasanya, tisu terbuat dari serat kayu alami dan banyak problem yang bersangkutan dengan adanya deforestasi,” kata Thian (14/12/2022). 

Thian melanjutkan, tisu pembersih yang dibuat Tisoo menggunakan serat bambu. Bahan serat bambu dipilih karena bambu tergolong rerumputan dan lebih terbarukan karena dapat tumbuh lebih cepat, tidak perlu penanaman ulang, dan pembukaan lahan atau deforestasi. 

“Untuk kemasan Tisonya sendiri kami tidak menggunakan kemasan plastik. Jadi pengemasan semua yang dikirim ke konsumen tidak ada plastik tapi menggunakan kemasan ramah lingkungan FSC,” ujar perempuan yang memiliki latar belakang Public Health (Food and Nutrition) ini. 

Karena konsep bisnis Tisoo ramah dan peduli lingkungan, maka setiap pembelian satu bundel produk secara tidak langsung masyarakat telah menyumbangkan satu pohon untuk ditanam.  “Kami melakukan penanaman pohon dari setiap (satu bundel) transaksi yang dilakukan masyarakat,” jelasnya.  

Tantangan terbesar dalam menjalani bisnis adalah mengedukasi masyarakat tentang produk yang ramah lingkungan. Selain itu juga memperluas pasar sehingga banyak masyarakat mengetahui tentang Tisoo.

“Target ke depan kita ingin memiliki gudang di banyak tempat, Jabodetabek agar produk kami mudah dijangkau. Untuk itu kami butuh kolaborasi dengan banyak pihak agar tujuan melestarikan lingkungan dengan memakai produk ramah lingkungan tercapai,” katanya. 

Hingga saat ini, Tisoo dijual secara daring dan telah menjangkau konsumen di Bali hingga Nusa Tenggara Barat. Omzet per bulan fluktuatif, di toko e-commerce Tokopedia bisa mencapai Rp100 juta. “Mudah-mudahan bisa memperluas pasar ke depannya,” ucap Thian.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id