Mengapa Pemirsa Tidak Melirik Tayangan Streaming?

08 Des 2022, 21:15 WIB
Catatan Nielsen Terhadap Jumlah Penonton TV Linear dengan Layanan Streaming (Foto: Catatan Survey Nielsen)

Nielsen meluncurkan pengukuran terhadap Streaming Content Ratings, pengukuran pemirsa video lintas media untuk TV linear dan streaming seluler untuk kebutuhan pasar di Indonesia. Rating ini memberikan wawasan tentang platform dan saluran yang ditayangkan melalui perangkat selular dan disiarkan melalui rating TV linier, termasuk jangkauan audiens, waktu yang dihabiskan, dan profil demografis yang mencakup 11 kota besar di Indonesia.

Dengan konsumsi audiens yang terus bergeser di seluruh layanan linier dan streaming, Nielsen menyediakan industri dengan satu tujuan untuk membantu mengidentifikasi perubahan perilaku pemirsa dalam mengkonsumsi konten dan memungkinkan memahami secara jelas tentang preferensi pemirsa streaming.

Dalam catatan survei Nielsen terkait layanan streaming content tidak memengaruhi peningkatan pada pengunjung layanan streaming. Peningkatan akses layanan internet dan kepemilikan smartphone telah mendorong streaming di mobile. Penonton rata-rata menggunakan akses layanan tersebut menghabiskan 9 jam per bulan. Sementara untuk pengguna berat dapat menghabiskan 28 jam per bulan. “Namun, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata waktu menonton TV mencapainya 80 jam per bulan,” ujar Direktur Eksekutif Nielsen Indonesia Hellen Katherina di kantor di kantor Nielsen Jakarta, Kamis (8/12/2022)

Ada tiga paltform layanan streaming yang banyak diakses masyarakat memiliki karakter dan segmen penonton masing-masing. Dalam paparannya, Vidio paling banyak diakses untuk menonton konten lokal dan olahraga. Sedangkan, pengguna Netflix banyak menonton film dan serial internasional. “Disney Hotstar film anak dan keluarga, Viu khususnya untuk pecinta drakor, RCTI+ konten olahraga dan sinetron, dan iQiyi konten Asia dan kecantikan. Untuk angkanya dalam mengonsumsi layanan khususnya mobile streaming didorong oleh platfrom regional dan lokal yaitu, Vidio (4.4 persen), Disney+ Hotstar (2.0 persen), Netflix (1.6 persen), Viu (1.0 persen), RCTI+ (0.9 persen),” jelasnya.

Masih banyak orang yang memilih untuk tidak melihat layanan streaming karena berbayar hanya kalangan orang kelas menengah ke atas yang berlangganan layanan tersebut. Adanya pelaksanaan Analog Switch Off (ASO) juga tidak menambah angka pada peningkatan layanan streaming. Penjualan STB yang mengalami peningkatan di 11 kota besar, sementara yang daerah lebih memilih untuk menunggu televisi analognya benar-benar mati. Masyarakat lebih banyak melihat tayangan pada layanan non streaming karena tidak berbayar dan tidak membutuhkan layanan internet dengan kouta unlimited, hanya menyalakan televisi mereka sudah bisa memilih tayangan apa yang akan ditonton.

“Jadi mereka tidak terpengaruh pada ASO karena tsudah dari dahulu menggunakan televisi digital dan sudah ada yang pelanggan layanan streaming,” terangnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id