Peneliti Sebut Vape Diakui Sanggup Mereduksi Kecanduan Merokok

03 Des 2022, 14:26 WIB

Dari sejumlah update penelitian, termasuk terbitan Cochrane pada 17 November 2022, vape alias e-cigarette berhasil efektif membuat orang berhenti merokok tembakau. Cochrane merupakan sebuah jaringan internasional non-profit berbasis di Inggris terdiri dari para peneliti yang menitikberatkan pada persoalan kesehatan menyebut bahwa vape berunsur nikotin sekalipun 95% lebih aman daripada rokok tembakau dan dapat menyetop kebiasaan orang-orang dalam merokok konvensional.

Vape bahkan disebut jauh lebih efektif ketimbang NRT atau Nicotine Replacement Therapy alias terapi/metode mengganti kebiasaan menghisap nikotin seperti mengunyah permen karet misalnya. Seperti yang dimuat di website-nya, Cochrane.org, paling sedikit dalam kurun waktu 6 bulan mengkonsumsi rokok elektrik, orang-orang bisa berhenti menghisap rokok tembakau.

Dr. Jamie Hartmann-Boyce, seorang profesor di University of Oxford sekaligus Editor dari Cochrane Tobacco Addiction Group, menyatakan bahwa selama ini terjadi kesalahpahaman masyarakat soal rokok elektrik. Sejak dipopulerkan oleh media massa 10 tahun lalu, publik seolah-olah dibuat tidak semangat berhenti merokok melalui vape. Berkat penelitian demi penelitian, termasuk support Michelle Mitchell, Chief Executive Cancer Research Inggris, pihaknya lega mengabarkan bahwa rokok elektrik efektif membantu orang berhenti merokok (konvensional).

Dr. Nicola Lindson, seorang University Research Lecturer dari University of Oxford, menjelaskan, “Rokok elektrik bukan membakar tembakau, tidak ditemukan pula dampak yang berpotensi buruk atau membahayakan kesehatan sebagai bagian dari proses berhenti merokok tadi. Meski tetap bukan berarti bebas risiko, serta tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak atau remaja.”

Sistem vape yang mengubah zat-zat nikotin dan kimia lainnya untuk dihirup ini memang sempat jadi perdebatan di kalangan publik dan pihak kesehatan tentunya. Di Amerika sendiri ada beberapa Universitas yang belakangan ikut menelitinya, termasuk Penn State University Hershey, Pennsylvania dan Virginia Commonwealth University, Richmond, Vancouver. Dari sejumlah survei dan penelitian, efek kesehatan dari penggunaan jangka panjang vape masih belum jelas.

World Health Organization (WHO) terakhir di tahun 2020 lalu menegaskan, rokok (tembakau) menjadi masalah gangguan kesehatan dan sekira 23% penduduk dunia memakai tembakau. Sekitar lebih dari 50% penggunanya, meninggal akibat pengaruh rokok tersebut. Sementara itu, rokok elektrik yang bersifat ‘memanaskan’ nikotin beserta liquid rasa lainnya, membuat pengguna lebih ke ‘menghirup’ ketimbang menghisap tembakau tersebut. Dengan adanya bukti-bukti penelitian terakhir yang kuat diatas tadi seputar vape, masyarakat kini bisa lebih mendapat informasi lebih jelas supaya lebih aware.

Bahwa rokok elektrik yang mengandung nikotin terbukti sangat efektif membantu orang berhenti merokok tembakau ketimbang permen karet, juga diartikan sebagai NRT yang paling depan atau teratas ketimbang vape yang non-nikotin. Memang diakui oleh para perokok dewasa aktif, tidak mudah untuk berhenti dari merokok tembakau. Namun dengan adanya hasil penelitian yang semakin masive dan adil, diharapkan informasi terbaru dari sumber yang dapat dipercaya ini dapat membantu orang-orang yang memang berniat mengurangi konsumsi rokok tembakau dengan melihat potensi manfaat vape.

Swa.co.id