Skip to main content

Channels

Riset ICAEW: Prospek Ekonomi 2023 RI Menonjol di Emerging Market Asia

  • 12 Des 2022, 09:00 WIB
  • 20

Para pakar dan analis telah memperingatkan soal kemungkinan resesi yang diperkirakan terjadi di tahun 2023. Inflasi yang tengah terjadi memengaruhi banyak orang dalam skala global akibat berbagai faktor sosial ekonomi, khususnya konflik Rusia-Ukraina dan gangguan rantai pasok. Kenaikan harga komoditas dan tarif kargo telah berhasil dikendalikan, seiring penurunan secara drastis terkait permintaan konsumen.

Meskipun ada indikasi yang jelas bahwa resesi akan terjadi, namun khusus kawasan Asia, termasuk Indonesia, diperkirakan akan tetap kuat di tengah-tengah prospek yang kurang baik.

Rintangan rantai pasok yang disebabkan oleh pandemi dan konflik politik telah menyebabkan kenaikan drastis dalam tarif kargo dan harga komoditas. Namun, harga-harga ini telah menurun signifikan menyusul penurunan secara besar dalam permintaan konsumen. Akan tetapi, inflasi hanya akan turun kembali secara perlahan dengan harga-harga yang masih relatif lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya.

Dengan begitu, jika melihat lanskap ekonomi, pemulihan kebijakan moneter diperkirakan tidak akan kembali dengan cepat sebelum tahun 2024, lantaran bank-bank sentral mencoba menghindari pemicu inflasi dan berupaya untuk berkompromi dengan target yang ditetapkan dalam jangka panjang.

Di tingkat global, perekonomian diperkirakan akan menghadapi penurunan untuk dua kuartal pertama di tahun mendatang. Namun, ada sisi positif dari kondisi ini, karena resesi diperkirakan akan lebih landai untuk hampir di setiap level perekonomian jika dibandingkan dengan resesi sebelumnya yang tercatat dalam sejarah.

Meskipun ada potensi perubahan ke arah yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini, hasil industri produksi yang diekspor Asia diperkirakan akan mengalami penurunan penuh pada tahun 2023. Korea dan Taiwan diperkirakan akan mengalami penurunan tajam dalam pertumbuhan nilai ekspor barang dagangan sebesar 40 persen, dibanding negara-negara ASEAN yang mengalami situasi sedikit lebih baik dengan penurunan hanya sebesar 20 persen.

Perekonomian negara-negara maju (misalnya Singapura, Korea, Selandia Baru, Australia, dan Taiwan) mengalami penurunan produksi manufaktur, sementara perekonomian negara-negara berkembang (misalnya China, Indonesia, dan Thailand) menunjukkan situasi yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Hal ini sebagian disebabkan oleh penundaan pembukaan perbatasan wilayah yang berkontribusi pada peningkatan pesanan dalam negeri, yang mengarah ke peningkatan permintaan di atas rata-rata. Namun, hal ini kemungkinan tidak akan bertahan lama mengingat penerapan pembatasan yang dilonggarkan dan pembukaan kembali perbatasan wilayah. Secara garis besar, penurunan produksi manufaktur di negara-negara maju pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan produksi Asia.

Sementara itu, Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan PDB di tahun 2023 sebesar 3,6 persen. Walaupun kini pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,72 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal III 2022, tetapi kedepannya dengan situasi global dan juga ancaman terjadinya resesi, maka Indonesia diprediksi akan mengalami penurunan pada kinerja perekonomian nasional.

Akan tetapi situasi ini akan perlahan membaik dengan proyeksi bertambahnya permintaan masyarakat Indonesia terhadap hasil produksi manufakturing dalam negeri. Meningkatnya permintaan domestik Indonesia ini diperkirakan mampu memberikan kontribusi sebesar 6 persen terhadap pertumbuhan PDB Indonesia di tahun 2023. Hal ini dapat menjadi penghalau dalam menekan ancaman resesi yang akan datang.

Salah satu pilar utama pertumbuhan, yaitu pariwisata, telah diperkirakan akan kembali bangkit di masa transisi endemi. Namun, pertumbuhan pariwisata diperkirakan akan mengalami penurunan pada 2023, tidak seperti peningkatan besar yang terlihat pada tahun 2021 dan 2022 ketika perbatasan wilayah pertama kali dibuka kembali.

Strategi plus one China, yang melibatkan diversifikasi investasi bisnis dan ekosistem rantai pasok, telah terbukti penting bagi pertumbuhan ekonomi ASEAN. Jika diposisikan dengan baik dalam diversifikasi ekonomi, seperti contohnya di Malaysia, kini berada di posisi yang tepat untuk menerapkan sistem rantai pasok bernilai menengah hingga tinggi, sementara Indonesia juga ingin mengejar ketinggalan secara agresif. Selain itu, negara-negara seperti Vietnam tetap menjadi sumber terpenting dari manufaktur dan produksi padat karya. Dengan kondisi ini, ASEAN diperkirakan masih akan dapat mengalami pertumbuhan yang menjanjikan di tahun-tahun mendatang.

“Kami berupaya membantu jalannya bisnis dan ekonomi melalui masa-masa sulit ini, sama seperti yang kami lakukan selama pandemi Covid-19,” ungkap Julia Penny, Presiden ICAEW saat gelaran ICAEW Economic Insight Forum Q4 2022 yang berlangsung 1 Desember 2022 lalu. Di acara ini, hasil temuan dari Economic Forecast dipresentasikan oleh Priyanka Kishore Head of India & South-East Asia Macro Services di Oxford Economics.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Terbaru