Solusi Wujudkan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan

15 Dec 2022, 16:35 WIB
Tokopedia luncurkan program Tokopedia Hijau sebagai solusi wujudkan ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Foto: Ubaidillah/SWA)

Hasil riset Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) bersama United Nations Development Programme (UNDP) di 2021, 95% dari 3.000 pelaku UMKM menunjukan minat terhadap praktik usaha ramah lingkungan. Melihat hal ini, Tokopedia meluncurkan gerakan Tokopedia Hijau sebagai upaya menciptakan ekosistem bisnis berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan. 

Menurut Public Affairs Senior Lead Tokopedia Aditia Grasio Nelwan potensi bisnis ramah lingkungan masih sangat besar. Data Tokopedia selama setahun mencatat Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya sebagai wilayah dengan jumlah pencarian produk ramah lingkungan paling banyak. Penjualan produk daur ulang meningkat hampir 1,5 kali lipat di Tokopedia. 

Grasio Nelwan menjelaskan Tokopedia Hijau adalah program dalam mengajak penjual menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam membangun bisnis sehingga berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan. Di dalamnya ada program edukasi dan inkubasi seller hijau.

“Untuk edukasi, terdapat modul untuk memandu penjual memulai dan membangun bisnis yang lebih ramah lingkungan, serta webinar yang bisa diakses oleh penjual secara gratis. Sementara inkubasi seller hijau terdiri dari rangkaian proses, seperti kelas intensif dan kampanye daring, untuk lebih memberdayakan penjual ramah lingkungan,” katanya, Rabu (15/12/2022). 

Program Tokopedia Hijau melibatkan fasilitator The Local Enablers. Pendiri The Local Enablers Dwi Indra Purnomo menjelaskan dalam inkubasi seller hijau Tokopedia pihaknya berperan membagi wawasan serta praktik terbaik dalam menerapkan prinsip ramah lingkungan bagi para pelaku UMKM. Tokopedia juga menyediakan dana pembinaan Rp100 juta untuk tiga penjual ramah lingkungan terbaik. 

Dalam peluncuran Tokopedia Hijau, Tokopedia menghadirkan contoh produk ramah lingkungan Tisoo. Selama ini Tisoo memproduksi tisu dari serat bambu dengan kemasan bebas plastik. “Tisoo hadir sejak 2021 untuk membantu mengatasi deforestasi hutan alam. Kami menanam bibit pohon mangrove untuk setiap pembelian produk . Lewat Tokopedia, omzet kami bisa mencapai puluhan juta,” kata Pemilik Tisoo Stephannie Thian.

Selain Tisoo, contoh produk yang lain adalah KaIND yang menggandeng 200 petani di Pasuruan untuk membuat produk fashion seperti scarf dan pouch ramah lingkungan dengan memanfaatkan budidaya ulat sutra eri. “Proses produksi dilakukan secara etis (tanpa membunuh pupa ulat sutera), menggunakan pewarna alami, dan menerapkan prinsip zero waste,” ujar pemilik KaIND Melie Indarto. 

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id