Strategi SaaS agar Dapat Mendukung UKM

08 Des 2022, 13:36 WIB
Gibu Mathew, Vice President and General Manager in Asia-Pacific at Zoho Corp (Foto: Ist)

Transformasi digital kawasan Asia Tenggara mengesankan. Ini terbukti dengan kesiapan ASEAM mencapai tingkat ekonomi digital senilai US$ 360 miliar pada tahun 2025. Dengan digitalisasi, kawasan ini menjadi saksi berbagai tren digital yang muncul, termasuk di tempat kerja, mulai dari kerja hybrid dan jarak jauh, peningkatan tenaga kerja melalui program upskilling maupun reskilling, serta munculnya adopsi Perangkat Lunak sebagai Layanan (Software-as-a-Service/SaaS) dalam upaya membangun ketahanan dan mempersiapkan kelangsungan bisnis.

Tahun ini, pendapatan sektor SaaS di kawasan Asia Tenggara mencapai US$1,89 miliar  dengan tingkat pertumbuhan tahunan yang diharapkan sebesar 12%. Pertumbuhan ini menandai keuntungan yang menggiurkan bagi perusahaan penyedia teknologi. Di sisi lain, angka tersebut juga menyoroti potensi serta minat terhadap platform SaaS dalam hal pekerjaan di masa depan.

“Sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) perlu menyadari bahwa ada biaya-biaya tersembunyi pada upaya digitalisasi ini. Di antara biaya-biaya tersebut adalah biaya untuk meningkatkan dan melatih kembali karyawan yang tidak dapat dijangkau oleh banyak bisnis kecil. Akibatnya, produktivitas kerja melambat dan pengembalian investasi yang lebih rendah dari investasi digital,” ujar Gibu Mathew, Vice President and General Manager in Asia-Pacific at Zoho Corp.

Pada saat yang sama, sepertiga atau 150 juta orang di Asia Tenggara memiliki keterbatasan akses ke teknologi. Ini mempersulit bisnis dalam proses digitalisasi dan menghasilkan  pertumbuhan yang tidak merata . Hal ini membuat bisnis, khususnya UKM, berusaha keras, bahkan sebelum kemampuan digital terkini seperti teknologi otomasi, mulai digunakan.

Menurut Gibu, dengan banyaknya platfotm SaaS yang tersedia di pasaran, pemimpin divisi IT di bisnis pasar menengah juga menghadapi tantangan dalam memilih kendaraan yang tepat bagi kemajuan bisnisnya. Sementara itu, di saat yang sama, tantangan ini diperparah dengan susahnya merekrut talenta yang cakap untuk memaksimalkan kegunaan platform tersebut. Tantangan-tantangan ini, meskipun kecil untuk perusahaan besar, menjadi cukup berat bagi bisnis pasar kecil dan menengah, terutama yang baru terjun ke dunia digital dalam beberapa tahun terakhir.

Adanya berbagai tantangan tersebut, lalu bagaimana UKM dapat memahami SaaS, mendigitalkan bisnis secara memadai, menjaga kelangsungan bisnis tanpa harus membangun kembali bisnis mereka dari awal? Gibu menjelaskan, platform SaaS, yang membuat karyawan  selaras dengan tujuan bisnis , akan memastikan tenggat waktu internal terpenuhi serta menginspirasi tempat kerja kolaboratif, baik itu hybrid atau jarak jauh.

Pertama, platform SaaS tersebut seharusnya memiliki proses onboarding yang dipandu oleh tim ahli. Kedua, perusahaan harus mempertimbangkan bagaimana platform menyatukan bisnis mereka.

Dengan bisnis digital yang tersedia di aliran omni-channel, kemampuan untuk mengidentifikasi pelanggan di sepanjang perjalanan pelanggan mereka sangat penting. Tidak hanya untuk melibatkan mereka dalam komunikasi yang bermakna, tetapi juga untuk menciptakan peluang terbentuknya loyalitas, mendorong pendapatan, serta memicu penjualan berulang.  Ketika perusahaan dapat memanfaatkan data, mereka dapat membuka kemampuan lainnya, seperti kemampuan analisis prediktif, analitik kognitif, dan kemampuan untuk meramalkan perilaku pelanggan di masa depan serta bertindak sebagai antisipasi untuk memuaskan pelanggan.

Sebagian besar beban kerja ini akan dibantu oleh sistem otomatisasi, yang memungkinkan perusahaan memasukkan pesan komunikasi yang tepat untuk mendorong perilaku konsumen tertentu pada frekuensi siklus berdasarkan kebutuhan bisnis Anda. Mampu mengelola hubungan pelanggan Anda dengan lebih baik di era digital akan menghasilkan keuntungan yang lebih baik dan mendorong pengembalian investasi yang lebih tinggi.

“Dengan 79 persen pemasar di seluruh kawasan Asia-Pasifik yang memperkenalkan teknologi otomatisasi pemasaran sebagai agen percepatan pertumbuhan berikutnya, bisnis di Asia Tenggara akan mendapat manfaat besar jika berinvestasi dalam teknologi tersebut saat ini,” ungkapnya.

Saat konsumen bertransaksi secara online, brand  yang disokong oleh data dan mampu menghadirkan pengalaman otomatis serta personal ke pelanggannya akan memiliki ketahanan dan kegigihan untuk menghadapi setiap perubahan perilaku konsumen.

Swa.co.id