YYADU Ajak Pihak-pihak Terkait Kelola Sampah Laut di Bali

10 Des 2022, 16:39 WIB
Seminar ‘Yok Yok Ayok Daur Ulang: Kelola Sampah Laut untuk Wujudkan  Pariwisata Berkelanjutan (Foto: Ist)

Melihat permasalahan sampah laut yang sedang terjadi saat ini di pantai-pantai bagian  selatan Pulau Bali, Yok Yok Ayok Daur Ulang! (disingkat YYADU!) yang merupakan program  advokasi dan edukasi daur ulang plastik terus berupaya untuk menghadirkan solusi dan  meningkatkan kesadaran penanganan serta pengelolaan sampah melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan beberapa pihak, yakni pemerintah, masyarakat dan komunitas,  akademisi, industri, serta media.

Melalui seminar ‘Yok Yok Ayok Daur Ulang: Kelola Sampah Laut untuk Wujudkan  Pariwisata Berkelanjutan’ Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Salahuddin  Uno menyampaikan bahwa menurut Sustainable Travel Report, 83% wisatawan menganggap  perjalanan berkelanjutan itu penting dan 62% wisata global lebih memilih destinasi dan  akomodasi yang bersertifikasi ramah lingkungan. Kemenparekraf mencoba menyikapi adanya  perubahan tren global pariwisata dengan mengembangkan destinasi wisata menjadi smart  green destination.

“Adanya ketimpangan antara sosial-budaya serta ekonomi dan lingkungan menjadi PR  (pekerjaan rumah), di mana salah satunya adalah pengelolaan sampah responsible atau  bertanggungjawab. Untuk mewujudkan aksi nyata tersebut, perlu dilengkapi melalui proses  komunikasi, informasi, edukasi, dan sosialisasi,” ujar Sandiaga.

Wakil Gubernur Bali  Prof Tjokorda Oka Artha atau yang akrab disapa Cok Oka dalam  kesempatan yang sama juga menyampaikan bahwa sektor pariwisata di Bali saat ini sedang  dalam pemulihan. Masa transisi kembalinya wisatawan ke Bali ini harus diimbangi dengan  kesiapan destinasi wisata dari aspek-aspek seperti salah satunya kebersihan.

“Merawat lingkungan sudah menjadi kewajiban masyarakat Bali sejak dulu untuk menjaga  kearifan Bali. Namun, seiring terjadinya transformasi mata pencaharian, terjadi kevakuman  tanggung jawab. Kewajiban ini perlu diingat dan diimplementasikan kembali di masa  sekarang,” jelas Prof. Tjokorda.

Lingkungan termasuk pantai memiliki banyak fungsi bagi masyarakat Bali yang sebagian  besarnya dikelilingi oleh pantai, mulai dari fungsi budaya, konservasi, transportasi, dan lain-lain. Namun, persoalan-persoalan terkait pencemaran sampah tidak dapat dihindari, mulai  dari sampah kayu pada musim-musim tertentu, limbah cair, bahkan limbah minyak di daerah daerah pelabuhan.

“Menanggapi hal tersebut, kami sudah berusaha dari hulu ke hilir memperhatikan masalah  lingkungan, dari gunung, danau, sungai, mata air hingga ke pantai dan laut, karena berbicara  lingkungan itu sifatnya multi-sektor. Berdasarkan kebijakan Gubernur terkait pengelolaan  sampah berbasis sumber, kami terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait  implementasinya,” jelas I Made Teja, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali

Bergabungnya pihak pemerintahan melalui Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali,  masyarakat dan komunitas melalui Bali Waste Cycle, Bali Tourism Board, dan Greeneration  Foundation, publikasi media melalui Jaringan Jurnalis Peduli Sampah, serta industri melalui  PT Trinseo Materials Indonesia dalam program advokasi dan edukasi YYADU! diharapkan  dapat menghadirkan solusi penanganan sampah, khususnya di Bali yang saat ini berfokus  pada sampah laut.

“Saat ini, setiap harinya kami (Bali) selalu kedatangan visitor, baik domestik maupun  mancanegara sebanyak 40.000 pengunjung melalui jalur udara, laut, dan darat. Perjalanan  laut yang umumnya dilakukan dengan cruise selalu menjadi potensi pencemaran sampah di  laut,” ujar Ida Bagus Agung, Ketua Bali Tourism Board.

Dalam upayanya mengembangkan destinasi wisata berkelanjutan, Bali Tourism Board juga  menambahkan bahwa kebersihan menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan, terutama  dalam hal kelola sampah. Namun, mengatasi permasalahan sampah perlu dilihat secara  menyeluruh atau holistik. Faktanya, data dari beberapa sumber mengatakan saat ini 80%  sampah laut di Indonesia berasal dari daratan dan 30% dikategorikan sebagai sampah plastik.  Kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah akan mendukung ekosistem  tata kelola sampah sehingga sampah tidak berujung mencemari lingkungan. Selain itu,  sampah yang dikelola dengan baik mampu menghasilkan nilai tambahan (added value) yang  mampu mendorong ekonomi sirkular.

“Melalui Bali Waste Cycle ini kami mengedukasi, melakukan pengangkutan, pengumpulan,  sampai pada pengolahan. Sehingga sinergitas berbagai pihak perlu dilakukan. Sampah yang  sudah dipilah dan dikelola dengan baik, akan memudahkan untuk proses selanjutnya, yaitu  daur ulang guna menjaga Provinsi Bali yang benar-benar BALI, Bersih, Asri, Lestari, dan  Indah,” kata Putu Ivan Yunatana, Pendiri Bali Waste Cycle.

Mewakili pihak industri, Hanggara Sukandar selaku Director of Environment &  Sustainability Affairs Responsible Care Indonesia juga menyatakan bahwa proses  pemilahan sampah plastik akan mendukung proses daur ulang yang saat ini sudah dapat  dilakukan dengan terus berkembangnya teknologi.  “Sudah banyak jenis plastik yang dapat didaur ulang, mulai dari PET, PS, PP, dan lain-lain.  Namun, sosialisasi tentang kegiatan pengelolaan dan pemilahan jenis sampah plastik ini  masih perlu dilakukan karena belum semua masyarakat memahami hal tersebut,” ucapnya.

“Sebagai salah satu organisasi yang berfokus pada lingkungan, telah banyak kegiatan  lapangan yang kami lakukan. Program pembersihan pantai hasil dari sampah laut juga,” kata M. Fahrian Yovantra, Head of Programs Greeneration Foundation.

Kita harus mendukung dari segi publikasi untuk menyampaikan solusi yang telah dihadirkan  oleh industri dan teman-teman pegiat di lapangan. Namun di satu sisi, pemerintah juga perlu  bertindak tegas menerapkan reward and punishment terhadap regulasi-regulasi yang  mengatur tentang kegiatan kelola sampah,” kata Agustinus Apollo Daton, Kepala Jaringan  Jurnalis Peduli Sampah.

Swa.co.id