Bernard Wijaya: Antargenerasi Harus Siap

Menyiapkan generasi penerus yang tangguh merupakan hal penting untuk sustainabilitas perusahaan. Diperlukan strategi tersendiri agar bisa menghasilkan generasi seperti itu. Lantas, apa yang mesti dilakukan?

Berikut wawancara Rizky C. Septania dari SWA dengan Bernard Wijaya, Direktur Martha Tilaar yang juga pengamat next generation.

Apa yang harus dilakukan dan diperhatikan orang tua untuk menyiapkan generasi penerusnya?

Ada beberapa hal penting. Pertama, pendiri (founder) biasanya menginginkan nilai inti (core value) yang dibangun di awal perusahaan berdiri bisa berlanjut pada generasi penerus. Nilai inti harus ditransfer dan dipindahkan dari generasi ke generasi. Maka, titik kritis adalah memindahkan nilai inti antargenerasi.

Dr. Ir. Bernard T. Widjaja, MM, Direktur Martha Tilaar Innovation Centre, PT Martina Berto TBK Dr. Ir. Bernard T. Widjaja, MM, Direktur Martha Tilaar Innovation Centre, PT Martina Berto TBK

Persoalannya, nilai inti itu tidak harus sama di setiap generasi. Nilai intinya bisa saja berubah karena eranya sudah berubah pula antargenerasi. Jadi dunianya berubah, apalagi saat ini digital semakin marak. Jadi dapat disimpulkan, mungkin nilai intinya sama, benang merahnya sama, hanya wajahnya berubah.

Karenanya, saat melakukan transfer nilai inti, antargenerasi harus siap. Generasi baru harus paham nilai intinya, tetapi generasi lama juga harus paham nilai inti yang baru. Catatannya, filosofi perusahaan itu tidak boleh luntur.

Yang sering terjadi, generasi lama tidak mau kalau ada perubahan, sementara generasi baru tidak ingin ambil pakem dari generasi lama karena itu sudah tidak berlaku. Padahal tidak begitu. Generasi penerus harus melihat nilai-nilai yang kuat dan menjadi filosofi perusahaan. Itulah yang harus dipertahankan. Generasi awal juga harus begitu, mengikhlaskan pola yang baru terbentuk sesuai dengan zamannya.

Berikutnya?

Yang kedua adalah keterbukaan. Komunikasi harus dijaga. Yang tua mengetahui bagaimana caranya berkomunikasi, sementara yang muda mengetahui bagaimana caranya menerima petuah dari yang tua.

Yang ketiga yakni pengalaman (experience), yang biasanya mahal bagi pendiri. Kesuksesan orang (termasuk) jatuh bangunnya adalah hal luar biasa. Ini harus ditransfer supaya anak-anak punya fundamen, supaya tahu kesulitannya apa, kekuatannya apa, dan bagaimana kondisi perusahaannya.

Bagaimana cara mendidik generasi selanjutnya?

Pertama, beri kesempatan anak berkarier mulai dari bawah. Jadi tidak langsung di posisi atas. Mungkin dari manajer junior, lalu naik ke madya dan seterusnya. Dengan pola seperti ini dia akan mengenal perusahaannya. Dia juga akan tahu bagaimana kondisi perusahaan, sehingga ketika jadi atasan dia tahu bagaimana perlakukan anak buah. Memang ada juga yang langsung ditempatkan di direksi. Tetapi akan lebih baik jika merintis karena lebih tahu medan dan prosesnya lebih alami.

Setelah itu, harus dirotasi secara vertikal dan horisontal. Jadi dia mengenal yang terjadi di perusahaannya. Ini penting. Dengan merotasi, di samping mengetahui bagaimana perusahaan, dia juga akan tahu mana yang menjadi passion-nya. Dia lebih tahu mana yang jadi keinginannya untuk dikembangkan.

Yang ketiga, diberi kebebasan mengambil keputusan. Berikan koridor batas mana dia boleh salah, jadi dia tahu kesalahannya di mana. Berikan kondisi yang kondusif supaya dia bisa berkembang. Jadi dia betul-betul punya pengalaman jatuh bangun, tetapi dengan pendampingan.

Bagaimana dengan pementoran?

Belajar itu bukan hanya dari pendiri. Lingkungan pun jadi tempat belajar. Alhasil, senior dijadikan tutor untuk membina. Dan harusnya mereka dirotasi untuk memperkaya pengalaman. Keleluasaan ruang pun diperlukan agar mereka berkembang.

Apa kelebihan melakukan pola di atas?

Kelebihannya ada di pengalaman generasi penerus. Mereka akan ambil keputusan. Dan yang paling penting, mereka diasah untuk wise karena berhubungan langsung dengan manusia. Mereka tahu bagaimana manajer dengan manajer cara kerjanya, bagaimana memanfaatkan dan mengelola anak buah. Tetapi semua tergantung bakat orang ya.

Reportase: Rizky C. Septania

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)