20 Juta Petani Tanaman Pangan Jadi Target Pasar Syngenta

Lahan pertanian khususnya tanaman pangan di Indonesia rata-rata berkurang 27 ribu ha per tahun, sedangkan kebutuhan bahan pangan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Tentu ini adalah sebuah kondisi yang ironis. Selain, produksi tanaman pangan juga terganggu dengan adanya perubahan iklim yang terjadi belakangan ini, seperti musim kemarau dan musim hujan yang lebih panjang, serta suhu yang naik. Syngenta, produsen sarana produksi pertania asal Basel, Swiss yang telah 16 tahun tumbuh di Indonesia, tergerak untuk mendorong produktivitas petani tanaman pangan.

Petani tomatb

Midzon Johannis, Head of Corporate Affairs, PT Syngenta Indonesia, mengatakan, pihaknya menargetkan akan memberdayakan 20 juta petani kecil yang notabene adalah petani tanaman pangan yang tersebar di seluruh dunia untuk bisa mengakses bibit unggul dan mempraktekan good agricultur practices. Di Indonesia sendiri Syngenta telah membina 100 kelompok tani tanaman pangan seperti padi, kedelai dan jagung yang tersebar di seluruh Indonesia. “Mereka kami bina agar mau menjalankan praktek manajemen pertanian yang benar,” ujarnya.

Diakui Midzon kelemahan petani Indonesia umumnya adalah kesulitan modal, akibatnya mereka sulit juga untuk membeli bibit unggul, pupuk dan sarana produksi lainnya, “Oleh karena itu kami bina agar hasil mereka bagus dengan begitu mereka bisa dipercaya oleh lembaga microfinance bisa dikasih kredit lagi,” jelasnya. Menurut Midzon, tentu akan sulit bagi produsen benih unggul seperti Syngenta untuk penetrasi pasar jika si calon costumer tidak punya daya beli, oleh karena ini dengan membina petani kecil sebagai calon customer Syngenta menargetkan bisa meningkatkan penjualan bibit unggulnya 2 % setiap tahunnya.

Sejak tiga tahun yang lalu Syngenta telah membuat sebuah pilot project di Malang, Jawa Timur. Di sana mereka membina petani jagung dengan taget meningkatkan kapasitas produksi sebesar 50 %. Midzon mengklaim target tersebut tercapai, produksi petani jagung yang umumnya hanya 5,4 juta ton per hektar per tahun naik menjadi 10 juta ton per hektar per tahun. “Nantinya kami mau benih hybrida yang dipakai dalam pliot project itu bisa dipakai juga oleh seluruh petani jagung di Indonesia,” ujarnya.

Secara global, Syngenta menargetkan akan meningkatkan produksi tanaman pangan dunia sampai 20 % pada 2020 nanti dengan cara memberdayakan 20 juta petani yang akan diberikan pelatihan dab teknologi terbaru. Selain perusahaan ini juga berniat menghidupkan kembali 10 juta ha lahan yang terdegradasi agar kembali produktif sebagai sumber bahan pangan. Di Indonesia, Syngenta menargetkan akan mulai memasarkan bibit unggul hasil rekayasa genetika atau Genetic Modified Organism (GMO) mulai tahun 2017 jika, “Kami masih menunggu ijinnya keluar dari pemerintah,” ungkap Midzon, menurutnya pemerintah masih harus meninjau keamanan bibit GMO dari sisi keamanan pangan, lingkungan hidup dan kemanan pakan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)