Amanda Sisihkan Rp 3 Miliar untuk Branding

Semenjak dikendalikan oleh generasi kedua, bisnis kue asal Bandung, Brownies Kukus Amanda, semakin lahap mencaplok pasar nasional. Salah satu strateginya adalah aktif melakukan program branding. Untuk menyukseskan program ini, perusahaan menyisihkan 3% dana operasional atau Rp 3 miliar setiap tahun.

Bisnis yang dirintis oleh Hj. Sumiwiludjeng ini tidak lagi tersohor di Kota Kembang, tetapi sudah menjalar hingga timur Indonesia. Sugeng Cahyono, Direktur Operasional Amanda, menjelaskan, sejak 2009, pihaknya fokus pada program branding. Langkah tersebut ditempuh karena semakin ketatnya pesaingan bisnis kue, baik di Bandung ataupun luar Bandung, sehingga menuntut perusahaan untuk menjalankan strategi agar merek yang dikelolanya bisa menjadi merek top of mind.

Bagaimana caranya?. Pertama, menjalankan above the line activity (ATL), yakni promo dimedia massa periodik dan non-periodik. Pemasangan iklan 50% dilakukan di billboard, sisanya disurat kabar dan internet. Agar lebih menarik, perusahaan menyempurnakan logo sehingga mudah diingat.

Aktifitas kedua adalah below the line activity (BTL). Perusahaan secara rutin mengikuti pameran-pameran yang terkait dengan food and beverage (F&B) ataupun pameran lainnya. Sugeng juga menciptakan inovasi dengan menghadirkan 10 unit go mobile selling di lima propinsi. Ini adalah trik 'menjemput bola' di mana menjajakan produk-produk Amada dengan menggunakan armada bus ke rumah-rumah.

Untuk memastikan keberhasilan programnya, perusahaan pernah menyewa jasa lembaga survei serta mengerahkan tim riset dan pengembangan bisnis mereka. Perusahaan yang berkantor pusat di Jalan Rancabolang, Bandung, ini juga kerap kali mengadakan forum group discussion (FGD) di beberapa kota. Hasilnya, 70% dari 30 orang yang diundang menyatakan 'melek' merek dan tahu produk-produk Amanda.

Bisnis ini masih berpeluang besar untuk tumbuh. Jika tahun 2000 hingga 2008 kami fokus pada ekspansi dan produksi, maka sejak tahun 2009 kami berinisiatif memprioritaskan agenda untuk branding dan inovasi,“ Sugeng menguraikan. Katanya, inisiatif tersebut lahir karena sistem yang sudah dibangun sejak 2005. Pembentukan sistem ini melibatkan jasa seorang konsultan.

Hingga kini, perusahaan telah mendirikan lima pabrik. Antara lain: Medan, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makasar. Tahun lalu, kapasitas produksi dilima pabrik mencapai 7 juta unit untuk semua jenis produk. Untuk pemasaran, perusahaan hanya mengandalkan gerai yang dikelola sendiri dan tidak bekerjasama dengan reseller. Total gerai yang sudah diberoperasi sebanyak 30 toko. Satu gerai bisa memperoleh omset Rp 600 juta hingga Rp 1,5 miliar setiap bulan.

Idealnya, dana branding itu sekitar Rp 5 miliar setiap tahun. Maka dari itu, kami akan usahakan naik tahun depan,” ungkapnya. (Ario)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)