Ambisi Besar Dentsu Menguasai Jagat Periklanan Indonesia

Dentsu Aegis Network merupakan salah satu raksasa periklanan global. Pada tahun 2016 lalu pendapatan perusahaan yang beroperasi di 135 negara itu sudah menyentuh angka 838,4 miliar yen, atau sekitar Rp 100 triliun, dengan kurs 1 yen sekitar Rp 120.

 

Kawasan Asia Tenggara sendiri rupanya merupakan salah satu kontributor utama biro iklan yang lahir di Jepang tersebut. “Indonesia sendiri menduduki posisi runner up setelah Thailand dalam urusan pendapatan Dentsu,” jelas Julay Chandra, Chief Operating Officer DentsuX, Indonesia, salah satu lini bisnis dari Dentsu Aegis Network, kepada SWA.

Julay Chandra dan Kazuyuki Tsukaguchi (berjas) di kantor Dentsu Aegis Network, Menara Sentraya, Kebayoran Baru, Jaksel (istimewa).

 

Dentsu pun memahami bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu mesin pertumbuhan baru. Pasalnya, kawasan ini merupakan emerging market yang terus bertumbuh meski ekonomi dunia mengalami perlambatan. “Asia melambat, tapi tetap tumbuh, sementara kawasan lain seperti AS, Eropa, Asia Pasifik, malah ada yang minus,” jelas Julay.

 

Terlebih seperti yang dituliskan Dentsu dalam rilisnya pada 25 Januari 2017, pasar iklan Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Karena itu bagi Dentsu, pasar iklan Indonesia mutlak hukumnya untuk dikuasai agar target pertumbuhannya dapat terpenuhi. Sejumlah langkah strategis memang telah ditempuh Dentsu untuk mewujukan rencana tersebut. Di antaranya dengan mengakuisisi 51% saham jawara periklanan Indonesia Dwi Sapta Group, pada awal tahun ini.

 

Manuver itu pun segera dilanjutkan dengan rebranding salah satu lini bisnisnya, Dentsu Media menjadi DentsuX. Rebranding ini sendiri sejatinya merupakan strategi global Dentsu Aegis Network yang tentunya wajib diikuti oleh Dentsu Indonesia.

 

Julay menerangkan, Dentsu Media merupakan lini bisnis Dentsu Aegis Network yang menangani penggalian data konsumen, layanan perencanaan komunikasi dan media, pembuatan konten, teknologi, data dan wawasan perilaku. “Layanannya sebenarnya sudah lengkap dan kuat. Cuma masalahnya, kata ‘media’ di belakangnya itu seolah membatasi kita pada media planning and buying semata. Padahal, salah satu lini yang berkembang pesat adalah penggalian data perilaku konsumen menggunakan teknologi analisis media sosial dan sebagainya. Itu dicerminkan dengan kata X dibelakang merek baru kami DentsuX, yang bermakna experience, dengan slogan lengkapnya Experience Beyond Exposurejelas Julay.

Melalui lini bisnis lama dengan rasa baru itu, DentsuX siap menjadi one stop solution media agency. Sejumlah divisi di dalamnya pun menjelaskan layanannya seperti  content division, spot division, dan digital division."DentsuX siap mengembangkan strategi periklanan untuk klien, meriset, merancang strategi media planner, hingga mengukur brand awareness klien," ungkap Julay.

Dengan semangat baru itu, Dentsu akan semakin agresif menggarap pasar iklan Indonesia. Salah satunya menggunakan perangkat teknologi Emotion Analyzer yang seakan mampu ‘membaca’ pikiran orang. Alat yang sejatinya merupakan electroencepalograph yang telah disederhanakan itu, mampu memindai gelombang otak orang. Adapun lima parameter emosi yang diukur alat tersebut adalah minat, kesukaan, afinitas, stres, dan kebosanan. Hasilnya yang kemudian ditampilkan dalam grafik itulah yang menjadi gambaran sikap sesungguhnya seseorang terhadap suatu obyek.

 

Kazuyuki Tsukaguchi, konsultan DentsuX asal Jepang yang turut mendampingi Julay menjelaskan, Emotion Analyzer merupakan wujud komitmen Dentsu untuk mengembangkan teknologi terkini yang memungkinkan analisis data konsumen lebih cepat, lebih baik dan lebih akurat. Alat Emotion Analyzer ini sendiri sudah diperkenalkan di berbagai negara. “Salah satunya kami menggunakan alat ini di Australia untuk Uniqlo, untuk mengukur minat pengunjung tokonya terhadap produk-produk Uniqlo, papar Kazuyuki.

 

Alat perangkat kepala seperti yang biasa dipakai petugas layanan pelanggan itu, sejatinya dikembangkan oleh Dentsu bersama dengan pakar teknologi di salah satu universitas di Jepang. Kini alat itu telah diboyong ke Indonesia dan siap digunakan salah satu raksasa barang konsumen untuk menggenjot penjualan minuman serbuknya. Dengan alat itu, Dentsu dapat mendeteksi kondisi emosi seorang setelah mengalami sesuatu seperti makan, minum, membaca dan lain sebagainya. “Nah, riset kan membuktikan bahwa makan atau minum bisa memicu peningkatan kadar dopamin di otak yang memicu sensasi senang atau bahagia. Jadi klien kita mau pakai alat itu untuk menunjukkan bahwa produknya bisa membuat orang bahagia. Mungkin akhir tahun kampanyenya akan kita rilis,” jelas Julay.

 

Selain akuisisi, dan rebranding, Dentsu juga akan menggenjot kualitas dan kuantitas SDM-nya. Yang teranyar dan baru dilakukan pada awal tahun ini adalah road show ke kampus-kampus papan atas di negeri ini demi menggaet talenta segar yang berminat terjun ke bidang periklanan. “Jadi sejak tahun lalu sudah kita godok untuk menggaet fresh graduate untuk mengisi tenaga baru ke depannya. Selain demi regenerasi, hal ini juga lantaran pergeseran generasi dari Y ke Millenial memicu penggunaan teknologi mobile. Tentu yang paling paham dan akrab dengan teknologi tersebut adalah para Millenials yang sekarang berada di tahap terakhir perkuliahan,” urai Julay.

 

Terakhir, urusan target pendapatan tentu saja diharapkan meningkat signifikan dengan berbagai manuver tersebut. Meski tidak bisa memaparkan angkanya, namun Julay menyebut bahwa jumlah klien sudah mulai terasa peningkatan setelah perusahaannya menggelar berbagai manuver strategi. “Kami percaya ke depan kompetisi di industri ini bukan soal harga, tapi persaingan teknologi. Dengan berbagai langkah ini, kami yakin bisa maju mengungguli kompetisi,” tegasnya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)