Ancol Go Green, Ini Wujudnya

Taman Impian Jaya Ancol (Ancol) menjelma menjadi salah satu destinasi wisata favorit di ujung Jakarta. Misi menjadikan Ancol sebagai kawasan wisata terpadu, terbesar dan terbaik, serta memiliki sentra edutainment terluas di Asia Tenggara juga dibarengi dengan aksi pelestarian lingkungan. Selaku induk usaha, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk mengimplementasikan prinsip 3P, yaitu people, planet, profit, salah satunya lewat Corporate Social Responsibility (CSR).

Pertama, adalah memperbanyak ruang terbuka hijau. Kedua adalah mewujudkan hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan. Selain anak sekolah, banyak perusahaan yang melakukan rekreasi dan belajar di Ancol. Masyarakat sekitar juga terlibat dengan banyaknya lapangan kerja yang dibuka. “Ada lebih dari 10 ribu orang yang terlibat di usaha kami,” kata Arif Nugroho, Direktur Properti Pembangunan Jaya Ancol.

Ada juga program Ancol bebas styrofoam. Artinya, pelaku usaha kuliner yang dikelola sendiri maupun penyewa dari luar dilarang menggunakan styrofoam untuk kemasan makanan dan minuman karena ada unsur kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, styrofoam juga sulit didaur ulang. Perseroan juga mengolah sendiri air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Metodenya adalah Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Arif Nugroho (kedua dari kiri) Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Arif Nugroho (kedua dari kiri)

“Sejak 2011, kami mengambil air dari laut, ditampung di danau buatan. Kapasitas produksi air bersih 5 ribu meter kubik perhari. Mayoritas kebutuhan air untuk kawasan rekreasi, termasuk hotelnya kami penuhi dari SWRO. Penggunaan air dari PDAM tinggal setengahnya, karena setengahnya sudah terpenuhi dar SWRO,” ujarnya.

Menurut Arif, kebutuhan air bersih untuk kawasan nonproperti sekitar 12 ribu meter kubik perhari. Saat ini, kebutuhan air di kawasan rekreasi mencapai 5 ribu meter kubik perhari dengan adanya pengembangan beberapa wahana baru. Aksi hijau memikat Ancol juga diwujudkan dengan membangun Ocean Ecopark yang semula adalah lapangan gol seluas 35 hektar. Kawasan tersebut ditanami lebih dari 10 ribu pohon termasuk diantaranya tanaman langka.

“Kami juga mendapat bibit pohon dari Kementerian Lingkungan Hidup, terutama pohon-pohon dari Kalimantan seperti gaharu, ulin, dan beberapa yang langka seperti kayu hitam. Ada 3 kawasan pembibitan seluas total 12 hektar,” ujarnya.

Kehadiran Ocean Park berdampak bagus terhadap tingkat kunjungan. Kalau pada tahun 2010, pengunjung Ancol hanya 14,5 juta, tahun 2015 lalu angkanya sudah mencapai 17,6 juta orang. Pengunjung juga dimanjakan dengan jalur sepeda dan jogging track di sepanjang pantai. Parkir tak lagi menjadi masalah dengan solusi sentral parkir. Pengunjung yang membawa kendaraan diarahkan ke kantong parkir kemudian dijemput dengan bus feeder.

“Ancol juga zero waste. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah. Yang organik diolah menjadi pupuk kompos dengan memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengolahnya dengan bantuan mesin dan lokasi dari kami. Tapi, kapasitas pengolahan masih kecil baru 30 meter kubik perhari dari total sampah yang ada sekitar 120 meter kubik perhari,” ujarnya. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)