Aplikasi AirBnB Guncang Bali

Bisnis hotel mulai berubah seiring kemajuan teknologi. Masyarakat kini bisa mendapatkan layanan penginapan dengan mudah lewat aplikasi Airbnb. Pelancong lokal maupun asing bisa mencari tempat yang sesuai dengan keinginannya.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bukannya tidak tahu dengan fenomena ini. Mereka sudah memerkirakan dampak kehadiran aplikasi terhadap bisnis hotel di Tanah Air sejak jauh-jauh hari. Bali, tujuan wisata terbaik di dunia telah merasakan kehadiran aplikasi Airbnb sejak lima tahun lalu.

“Demand turun hingga 35%. Mungkin banyak vila yang dimiliki individual dan disewakan melalui Airbnb. Sejak tahun 2010, terjadi penurunan yang signifikan di Bali. Angkanya belum jelas karena kamar hotel juga terus bertambah,” kata Hariyadi Sukamdani, Ketua umum PHRI.

Kawasan Bedugul, Bali (Foto: disparda.baliprov.go.id) Kawasan Bedugul, Bali (Foto: disparda.baliprov.go.id)

Menurut dia, para pelaku usaha hotel di Indonesia memang harus bersiap menghadapi fenomena sharing economy yang menawarkan biaya jauh lebih rendah. Jika tidak dikelola dengan baik, kehadiran aplikasi serupa Airbnb akan lebih cepat menggerogoti pasar pelaku usaha perhotelan. “Ini bukan sesuatu yang mudah,” katanya.

Salah satu langkah antisipasi adalah menambah gencar promosi di dalam dan luar negeri untuk meningkatkan permintaan. Sektor wisata masih sangat potensial. Pertumbuhannya diproyeksi sekitar 10% dibanding tahun lalu. Tahun 2019, pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla bahkan menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara datang ke Indonesia.

“Kami harus mengusulkan penertiban para pelaku sharing economy ini. Mereka menyewakan hotel atau vila namun tidak membayar pajak. Ini jelas tidak adil. Mereka juga punya tanggung jawab kepada negara. Kami yang punya usaha hotel, aturannya ketat sekali,” kata Hariyadi.

Para pengusaha hotel juga tengah menyiapkan teknologi, seperti booking bisnis engine lokal yang akan menjadi tulang punggung PHRI. Selain Agoda, Booking.com, ada juga booking bisnis yang dimiliki lokal. Selain itu, para pemilik usaha perhotelan ini juga akan membuat platform e-commerce yang bersifat B2B antara pengusaha hotel dengan vendor.

Seluruh vendor akan dikonsolidasikan, sehingga buyer dan penjual bisa bertemu secara langsung. Dampaknya, volume akan lebih besar dan harganya murah. Selain itu, promosi destinasi wisata unggulan akan lebih gencar di media sosial. Sejauh ini, pelaku usaha bersama pemerintah, vendor, dan buyer juga aktif menggelar event bersama.

“Pariwisata itu kuncinya ada di atraksi. Kalau tidak ada itu, tidak ada nilainya. Sasaran inilah yang kami galakkan di seluruh Indonesia secara terintegrasi dengan kalender of event,” katanya. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)