Astra Lebih Memilih Talent Making, Kenapa?

Bahtera bisnis saat ini semakin menantang seiring persaingan yang kian sengit. Perusahaan rintisan (startup) yang semakin banyak dan tentu saja kreatif, serta regulasi bisnis yang sangat dinamis menjadi tantangan tersendiri . Untuk mengarunginya dibutuhkan pemimpin baru, yang jeli membaca pasar, melihat peluang, dan mencari solusi atas semua persoalan yang dihadapi.

Perusahaan bisa memilih membentuk pemimpin dari dalam (internal) atau merekrut dari luar. Nah, PT Astra International Tbk (Astra) lebih memilih yang pertama. Saat ini, emiten berkode ASII itu memiliki 215 ribu karyawan dari seluruh unit bisnis di 199 perusahaan. Yang tergolong eksekutif ada di golongan 6 dan 7 yang jumlahnya 360 orang.

“Dari jumlah itu, 97% adalah hasil dari promotion from within. Secara tradisi, kami di Astra percaya dengan talent making, pengembangan dari bawah. Kami hanya mungkin melakukan pro hire untuk kompetensi tertentu yang spesifik dan khusus,” kata Aloysius Budi Santoso, Chief of Corporate Human Capital Development Astra.

Ada banyak keuntungan yang diraih perusahaan dengan melakukan talent making. Yang paling utama adalah mampu membentuk values dan attitude karyawan sesuai nilai-nilai perusahaan sejak proses rekrutmen. Selanjutnya, tentu saja kompetensinya dapat dipastikan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Aloysius Budi Santoso, Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi Santoso, Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk

“Saya percaya yang paling penting mulai dari rekrutmen hingga retention. Values dan atttitude itu lebih penting dari kompetensi. Kompetensi mudah dikembangkan. Kalau values dan attitude karyawan tidak cocok dengan perusahaan, akan susah (mengembangkannya),” ujar dia.

Dengan memiliki values dan attitude yang cocok, lanjut dia, segala pekerjaan lain bisa lebih mudah dikerjakan. Kolaborasi pun lebih mudah dilakukan. Lulusan universitas ternama dari dalam maupun luar negeri tidak menjamin calon karyawan memiliki values dan attitude yang sesuai dengan perusahaan.

Aloysius menjelaskan, Astra memiliki program suksesi yang terstruktur. Ada sebuah sistem yang mampu mendeteksi apakah seorang karyawan memiliki potensi menjadi pemimpin. Jika dari proyeksi, masih ada gap, karyawan tersebut akan dilibatkan dalam kegiatan yang membangun kompetensinya.

“Seperti pelatihan, coaching-mentoring, ataupun assignment, rotasi, dan sebagainya. Tujuannya, agar suatu saat nanti dia akan siap menduduki sebuah posisi yang ditinggalkan pendahulunya,” karta dia.

Untuk menjaga talenta-talenta terbaik, Astra memperlakukan seluruh karyawan dengan sangat manusiawi. Pengembangan kompetensi terus dilakukan secara berkelanjutan lewat training, coaching, assignment, dan lainnya.

“Dalam pengembangan talent itu yang dampaknya paling besar adalah assignment, traning hanya berkontribusi sekitar 15%, lebih besar lagi adalah mentoring dan coaching sampai 25-30%. Tapi, yang paling penting adalah how we touch them as a human,” ujar dia. (Reportase: Raden Dibi Irnawan)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)