Atasi Rob & Banjir, Ini Upaya Pemkot Semarang

Mendengar Kota Semarang, mungkin yang pertama terlintas adalah kuliner lumpia-nya yang terkenal bahkan hingga ke mancanegara. Namun puluhan hektar tambak di pesisir Semarang banyak yang rusak karena terjangan intrusi air laut atau yang disebut penduduk setempat sebagai "rob".

Rob merupakan masalah klasik yang sudah ada sejak dulu di Semarang. Pemanasan global menyebabkan naiknya permukaan air laut dan menyebabkan rob bertambah parah. Tak hanya merugikan nelayan, rob juga mengganggu aktivitas masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya. Salah satunya, kemacetan di jalur pantai utara Jawa. Ribuan rumah penduduk serta sejumlah fasilitas umum, seperti sekolah, pasar dan puskesmas bakal terendam.

Selama lima tahun terakhir, Pemkot Semarang juga berupaya keras mengatasi rob dan banjir. Sejumlah langkah diambil seperti normalisasi Banjir Kanal Barat, Kali Asin, Kali Semarang, Kali Baru, Kali Tenggang, Kali Beringin. Sejumlah saluran air ditinggikan, seperti Kali Es, Pasar Johar, MT. Haryono, kawasan Bubakan, Jalan Agus Salim, kawasan Simpang Lima, dan Jalan Imam Bonjol.

Pemkot juga membangun long storage di kawasan Kampung Kali, penambahan kapasitas pompa Kartini, pembangunan pompa Johar dan pompa Taman Mberok serta optimalisasi kolam retensi, 94 pompa dan 35 rumah pompa yang tersebar di beberapa wilayah di Kota Semarang.

Rob melanda Stasiun Tawang, Semarang. (Foto: IST) Rob melanda Stasiun Tawang, Semarang. (Foto: IST)

“Pembebasan lahan untuk mendukung pembangunan Waduk Jatibarang selesai tahun 2013 dan saat ini telah beroperasi. Kami juga mengeruk sedimentasi atau sampah di beberapa sungai dan saluran,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Penanganan banjir dan rob di Kota Semarang diklaim mulai menuai hasil setelah kolam retensi Kali Semarang beroperasi. Salah satu indikatornya, kawasan yang biasanya tergenang banjir dan rob kini sudah bebas genangan, misalnya Semarang Utara, sebagian Semarang Tengah, dan Semarang Timur.

Sesuai dengan Perda Masterplan Drainase, Semarang dibagi menjadi tiga sistem, yakni barat, tengah, timur dan Mangkang. Untuk sistem drainase tengah sudah berjalan baik. Tahun ini, subsistem Banger diharapkan selesai dan bisa dioperasikan.

Penanganan banjir dan rob memang harus komprehensif dengan melibatkan seluruh stakeholder, utamanya masyarakat. Masyarakat harus diajak bersama-sama menangani masalah. Caranya, dengan tidak membuang sampah di sungai.

Tahun ini, Pemkot Semarang mengalokasikan anggaran hingga Rp 165 miliar untuk menangani masalah rob dan banjir. Jika dibiarkan, iklim investasi di Kota Atlas akan terganggu. Investor tentu tak mau menanamkan modalnya jika banjir dan rob terus dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. (Reportase: (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)