Bagaimana Grup Ismaya Hadapi Krisis Akibat COVID-19?

Christian Rijanto Pendiri Ismaya Group (Foto: Google Image)

Pandemi virus corona baru ini memaksa para pelaku bisnis F&B mengambil keputusan berat, terutama dalam upaya menjaga keselamatan karyawan dan konsumennya. Makin berat tentu bagi grup bisnis yang memiliki jaringan restoran besar dan merek yang beragam. Lalu bagaimana Ismaya Group dikenal sebagai pemain besar di bisnis F&B Indonesia mengelola jaringan resto dan bar-nya di tengah krisis kesehatan ini?

Grup Ismaya didirikan oleh tiga sekawan yaitu Christian Rijanto, Bram Hendrata dan Brian Sutanto pada 2003. Bukan saja di Jakarta, gerai resto, club dan barnya sampai ke Surabaya dan Bali bahkan hingga ke Dubai. Beberapa merek resto di bawah grup bisnis ini adalah Blowfish, Sushigroove, Mr. FOX, The People’s Cafe, Tokyo Belly, Djournal Caffee, Kitchenette, Social Garden, Djournal House, Pizza E Birra, Social House, GIA, Markette serta ada Black Byrd di Kuala Lumpur.  Lalu club, beach club and bar yang terkenal Dragonfly, Gun Powder, dan Manarai di Bali.

Dalam obrolan bersama Anton Wirjono yang juga pendiri jaringan resto The Goods Dept.dan penggagas Brightspot MRKT dengan Christian Rijanto Pendiri Ismaya Group yang disiarkan langsung pada Sabtu 4 April 2020 melalui aplikasi Vidio  terungkap bagaimana Chris memilih mengamankan para karyawan dan konsumen dengan menutup jaringan resto dan barnya meski risikonya, ancaman cash flow dalam beberapa bulan ke depan bukan saja turun tapi bisa jadi nol.

Seperti disampaikan Anton pada acara Live Stream Fest 2020 itu, diakui bahwa omset para pebisnis F&B bisa anjlok dari 50% bahkan sampai nol sejak pemerintah Indonesia mengumumkan pasien pertama dan kedua COVID-19 di awal Maret lalu. Tentu makin mudah dengan kondisi masyarakat mulai menjalankan physical distancing, seperti yang dianjurkan Presiden Joko Widodo per 15 Maret 2020.

Menurutnya, Ismaya termasuk pemain di F&B yang bisa dibilang pertama menutup gerai-gerainya. “Saat itu pemerintah belum menyuruh pebisnis F&B untuk menutup gerai-gerainya. Kami memilih menutup lebih awal. Pertama, dengan pertimbangan banyak interaksi di keramaian ini  berisiko tinggi bagi tamu resto kami. Kedua, kami ingin memastikan staf kami aman, jangan sampai kena virus ini, kesehatan mereka nomor satu,” tegasnya.

Chris memahami di industri F&B dengan menutup gerai resto atau bar akan membahayakan cashflow usaha. “Tapi dengan terus buka, tentu ada capex yang harus terus dibayar, seperti suplier, listrik, sewa ruang usaha, tidak guna juga kalau risiko tinggi yang mengakibatkan karyawan sakit jika kita tetap buka. Kami memilih membantu pemerintah agar kurva penyebaran virus ini melandai,” ungkapnya.

Ia memprediksi wabah COVID-19 ini bakal lama,  bahkan lebih dari 6 bulan, untuk Indonesia bisa sampai bulan Juni, paling cepat wabah baru hilang. “Maka itu kami sarankan, yang juga kami jalankan, lebih baik kita jaga cashflow, jangan memaksa buka, uang masuk tidak ada, tapi cashflow berdarah-darah karena banyak pengeluaran yang harus dibayar. Bagi kami yang utama bisa sustain bayar karyawan dulu, untung rencana jangka panjang, kami sedang pikirkan bersama tim,” terangnya.

Kitchenatte salah satu resto di bawah Ismaya Group (Foto: Ismaya website)

Anton menambahkan dengan kondisi seperti itu, tentu sangat dibutuhkan dukungan pemerintah dan para pemilik properti (landlord). Menurut pria yang juga DJ musik ini, bahkan perdana menteri Singapure memprediksi krisis kesehatan ini bakal sampai 1 tahun. “Walau ini akan hilang, pasti perilaku orang akan berubah perilakunya, kebiasaan ke mal, nongkrong dan sebagainya,” ujarnya.

Chris mengamini yang disampaikan Anton, dampak wabah pandemi virus corona ini bakal cukup panjang. Ia sendiri memprediksi akan mencapai puncaknya di bulan Juni, mulai melandai di September dan normal di Oktober.

“Untuk itu pelaku F&B harus inovatif, dulu labor intensitve, mungkin dengan kondisi pandemi ini, agar bisa terus bernafas panjang, dipikirkan cara berbeda dalam berbisnis. Tentu akan terjadi penurunan pendapatan, tapi dengan cara berbeda, akan tetap menjaga pemasukan usaha,” jelas Chris.

Ia dan Anton menyampaikan harapan yang sama, ada bantuan negosiasi dari pemerintah ke pemilik properti agar pelaku bisnis F&B tertolong nafas bisnisnya. “Pemerintah membantu kasih tunjangan karyawan yang diberhentikan secara permanen atau temporer. Karena ini yang dilakukan pemerintah berbagai negara, seperti Singapura,” jelas Chris.

Ia mengaku saat ini sebenarnya tidak peduli dengan omset gerai-gerainya, dengan terus berusaha jangan sampai karyawan kehilangan pendapatannya. “Walau tidak maksimum seperti kalau kondisi normal, Ismaya tetap membayar gaji para karyawan. Namun kami tetap butuh dukungan pemerintah terutama dalam negosiasi dengan landlord, agar kami bisa fokus mencari jalan bisnis ini tetap hidup,” katanya.

Di saat bersamaan, Ismaya terus mencoba reinvent model bisnis. Pihaknya terus meramu strategi baru bersama tim, semisal dalam hal strategi harga di restoran, cara berjualan, tidak terlalu banyak dine in, mendorong delivery dan sebagainya. “Semua sedang kami ramu strategi terbaik, tapi jujur kami belum punya jawaban yang tepat.  Jadi saya bersama tim terus mencari jalan, setidaknya dalam 1-2 bulan ke depan, Ismaya akan ada come up new businesss model. Mungkin adaptasi dari luar tapi kami akan sesuaikan dengan kondisi lokal,” ujarnya tanpa menyebut pasti model baru bisnisnya itu.

Dengan kondisi mal tutup saat ini, lanjut Chris, Ismaya harus mencari solusi, terutama dengan lebih banyak delivery tapi dengan cara berbeda, harga lebih terjangkau. “Bagi Indonesia ini krisis kesehatan baru kita hadapi. The best thing to do is saving cash dan amankan karyawan. Makin banyak berupaya, agar nafas bisa lebih panjang, dampak virus corona ini bakal panjang terutama di F&B. Kita harus memikirkan nafas panjang dalam hal cashflow,” tandasnya.  

Selain itu, membantu pemerintah untuk menekan penyebaran virus, dengan tetap melihat jangka panjang, walau ada efek ekonomi dari keputusan ini. Pebisnis harus kerja sama dengan pemerintah, demikian juga sebaliknya agar bisa keluar dari krisis ini.

“Saya yakin di setiap kesulitan akan ada kesempatan baru, merek-merek yang bisa mengambil kesempatan baru ini yang akan cepat bangkit. Kami sudah pikirkan bagaimana membuka bisnis lagi dengan lebih efektif kala wabah ini sudah tidak ada lagi. Bagi pebisnis ketika dihadapkan pada krisis memang harus cepat beradaptasi,” tandas Chris.

Ia menambahkan, mengingat kita belum pernah menghadapi krisis kesehatan seperti ini, apalagi buat pelaku bisnis F&B seperti dirinya dan Anton yang kelahiran tahun 1970an, tentu perlu waktu untuk beradaptasi dan membalikkan kembali ke situasi normal. Jadi semua belajar keluar dari krisis ini. “Jangan sampai deh mengalami wabah seperti ini, tapi dari sini, kita belajar, diversifikasi bisnis itu penting, seperti cara delivery itu kita belajar sekali. Hongkong, Singapura itu sudah belajar jaman SARS, Indonesia belum pernah. Saya yakin wabah ini menjadi pelajaran semua, pemerintah juga pelaku bisnis,” terangnya.

Anton menambahkan, wabah COVID-19 ini menyadarkan bahwa ‘every business should be a digital business’ sekarang, jadi dipaksa bahkan buat bisnis yang tadinya tidak memiliki layanan pesan antar atau offline. “Di bisnis saya ada kenaikan penjualan di online. Kalau yang offline sudah benar-benar tidak jalan saat ini, saya sendiri belajar sekali memperbaiki bisnis online-nya,” ungkapnya.

Menurut Chris, Ismaya terus memperbaiki layanan delivery-nya, agar bisa melayani lebih baik ke pelanggannya. “Walau saat ini kami sudah bermitra dengan Grab dan Go-Jek, kami terus berupaya meningkatkan layanan delivery. Saat ini kami dengan anak usaha Yummy Corp, yang less risk untuk staf, layanan cloud kitchen kami, terus pikirkan bagaimana delivery yang berbeda. Dengan berkembangnya digital, kini banyak pilihan delivery.  Dulu kan mikirnya bagaimana tamu datang dan makan di resto dengan menyenangkan, jangan tunggu selesai wabah ini, kita harus pikirkan cara baru dari sekarang,” tandasnya.

Tantangan lain yang dihadapi Ismaya adalah dalam line bisnisnya juga ada bar dan night club, dua konsep bisnis ini pun dilarang buka karena memancing keramaian. Keputusan harus ditutup dari Pemda DKI Jakarta berbagai jenis bar dan night club sudah sejak 3 April lalu, kemudian diperpanjang hingga 19 April 2020. “Kami mencoba memahami, bagaimana impact kebijakan pemerintah ini kami terus terang belum paham terutama terkait karyawan bagaimana,” ujarnya.

Menurut Chris, dalam kondisi physical distancing ini sebenarnya orang banyak butuh hiburan, berbulan-bulan di dalam rumah. Sebenarnya ia dan Anton, telah meramu agar hiburan musik dengan tetap #dirumahsaja bisa dinikmati. Pihaknya memiliki kanal di Youtube yaitu ECHOES yang menggandeng Dragonfly, night club yang terkenal di kalangan pecinta musik live yang dikelola Ismaya.

Anton meyakini konsep musik live streaming bisa digagas untuk menyiasati kondisi ini terutama di bisnis club dan bar. “Kita bisa buat chat room jadi yang nonton bisa saling komen dalam sceeen yang besar saat live music streaming. Akan lebih menyenangkan jika bisa dengan VR, memang masih mahal sekarang tapi bukan tidak mungkin akan turun seiring meningkatnya permintaan. Dengan live streaming bisa ribuan yang join di Dragonfly. Tapi sekarang bagaimana kita pikirkan monetasinya,” ujar Anton.

Chris  menambahkan bisa kita mulai edukasi untuk mau membayar yang mau tergabung dengan event itu. Namun ia mengkritisi masalah memang di koneksi internet menjadi tantangan acara streaming.  “Tapi saya yakin ada peluang, hanya saja experience-nya beda, membuat event-nya juga beda,” katanya.

Chris sekali lagi mengingatkan agar para pebisnis F&B untuk menjaga cash-nya, bukan tidak boleh bereksperimen, namun jangan ikut-ikutan, sebab beda resto atau pebisnis beda hasilnya. Harus dipikirkan matang-matang. “Kita tetap harus pikirkan solusi, sebab karyawan kan harus dibayar,” tegasnya.

Di Ismaya juga ada bisnis gelaran musik dan festival di bawah Ismaya Event. Gelaran besar We The Fest yang sudah lama disiapkan yang rencananya akan digelar 14-16 Agustus terpaksa dibatalkan.

Apakah ada perubahan di business event? “Kami sudah pikirkan di tim Ismaya Live, tidak mudah memang, salah satunya melalui Streaming Festival bersama Vidio ini. Experience streaming itu beda banget dengan event live,” jawabnya.

Ismaya Live mulai dikenal ketika mengadakan Blowfish Warehouse Project dengan konsep indoor music festival yang mengundang DJ terkenal dari luar negeri. Lalu berkembang menjadi Djakarta Warehouse Project (DWP) yang kemudian mengambil lokasi lebih luas di di Pantai Carnaval Ancol pada tahun 2010. Dari sini berkembang, gelaran DWP makin besar setiap tahun digelar dan dipenuhi pecinta live DJ,  yang kemudian menjadi acara EDM (Electronic Dance Music) terbesar.

Unit bisnis ini lalu mengembangkan gelaran We The Fest (WTF) sebuah festival dengan beragam genre musik yang diisi oleh artis dalam dan luar negeri yang pernah menarik perhatian Presiden Joko Widodo untuk hadir ada 2017. Selain itu ada gelaran Jakarta Culinary Feastival.

Chris sangat berharap wabah cepat berlalu, caranya tidak lain dengan saling dukung agar bisa melewati bersama, mulai dari karyawan, pemerintah, juga pemain F&B lainnya. “Semua pasti menderita, kita harus open mind, mencari win win solution for every one, dengan cara terus kolaborasi dengan semua stakeholders,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)