Bangun Merek, Kunci Sukses Berbisnis di Daerah

Sejumlah pengusaha membangun bisnis dari daerah. Berkat ketekunan, keuletan, dan kegigihan mereka dalam berbisnis, produk mereka terkenal hingga ke seantero negeri. Bahkan mampu menembus pasar dunia.

Contoh, Muhammad Najikh yang sukses di bidang perikanan melalui PT Kelola Mina Laut dan Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik dengan produk sepatunya yang memikat mata. Apa yang sama dari keduanya?

Dosen Manajemen Pemasaran, Program Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor, Ujang Sumarwan menilai keduanya sukses membangun merek sehingga produknya tak hanya diterima di pasar domestik, tetapi juga diakui dunia.

Kelola Mina Laut sudah mampu menembus Walmart, jaringan swalayan terbesar di Amerika Serikat. Ni Luh Djelantik meraup penjualan sangat besar lewat media sosial. Setiap harinya 7-8 ribu pengunjung memadati situs resminya www.niluhdjelantik.com.

“Bisnisnya sempat jatuh bangun. Tapi penjualannya sudah sampai Eropa. Dia pernah ditipu, mereknya Nilou, dipatenkan orang lain. Lalu dia membuat merek baru Ni Luh Djelantik atas saran dari pelanggannya di Spanyol,” katanya.

Dosen Manajemen Pemasaran, Program Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor, Ujang Sumarwan Dosen Manajemen Pemasaran, Program Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor, Ujang Sumarwan

Jadi, kunci utamanya adalah membangun merek dan tak sekadar memproduksi barang berkualitas. Label juga memiliki hak cipta sehingga pasar di luar negeri tahu ada pengusaha asli Indonesia yang memiliki produk bagus. Salah satu ukurannya adalah produk mampu menembus pasar ekspor.

Selanjutnya, bisnis berkembang pesat berkat komunikasi yang intensif melalui media sosial. Kehadiran internet mampu dioptimalkan untuk membuka pasar baru, terutama di luar negeri. Produk akan cepat dikenal.

Artinya, pebisnis melihat potensi pasar di luar. Dia melihat di Indonesia, kebanyakan merek dari luar, bukan dari dalam untuk consumer goods. Jika sukses di luar negeri, upaya menggarap pasar domestik akan jauh lebih mudah.

“Biasanya, melihat persaingan di dalam negeri jauh lebih sulit daripada di luar. Pengusaha biasanya melihat peluang mana yang datang lebih dulu untuk dipenuhi. Peluang di dalam negeri tetap digarap,” katanya.

Meski begitu, Ujang mengharapkan pengusaha lebih siap dalam menghadapi lonjakan permintaan ekspor. Seringkali permintaan besar, namun kapasitas produksi tidak mampu mengimbangi. Ada banyak penyebab, tak hanya modal, tapi juga terkait bahan baku, sumber daya manusia, dan kekuatan mesin produksi.

Dia melihat pemerintah harus membuat kebijakan yang mampu melahirkan banyak raja bisnis baru di daerah. Kesuksesan menembus pasar di luar negeri harus dibantu karena tidak banyak pengusaha di daerah yang mampu menyuplai barang dengan rutin keluar negeri.

“Mereka biasanya eksportir komoditas. Harapannya, mereka mampu mengubah menjadi bahan setengah jadi sebelum diekspor. Pemerintah bisa membantu dengan mengurangi pajak ekspor dan menyediakan kredit murah agar lebih kompetitif,” katanya. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)