Bateeq Siap Go International

Batik adalah warisan budaya asli Indonesia. Beragam motifnya mengharumkan nama Indonesia. Bateeq, produk keluaran PT Efrata Retailindo, yang terinspirasi dari motif batik dan motif tradisional Indonesia lainnya, mulai mengambil ancang-ancang untuk go internasional.

“Bateeq mereimajinasikan motif batik dan tradisional Indonesia lainnya menjadi motif baru nan segar yang dipadukan dengan warna-warna yang sedang menjadi tren di kalangan anak-anak muda,” kata CEO Dan Liris dan Bateeq, Michelle Tjokosaputro.

Kehadirannya menambah semarak industri fesyen lokal. Bateeq semakin digandrungi anak-anak muda. Selama tiga tahun terakhir, omset mereka tumbuh lebih dari 300% setiap tahunnya. Kini, Bateeq telah memiliki 50 toko, dimana 34 milik sendiri dan 16 toko di dalam department store. “Kami berharap tahun ini, pendapatan bisa tumbuh lebih baik lagi dibanding tahun lalu,” katanya.

Menurut dia, Bateeq terus ekspansi di Tanah Air dan mulai bersiap go internasional. Pada tahun ini, mereka mulai masuk dalam program Indonesia Fashion Forward yang merupakan kelompok binaan Jakarta Fashion Week untuk desainer-desainer muda agar lebih siap menghadapi sengitnya pasar di luar negeri.

Michelle Tjokrosaputro Direktur Utama Danliris Group of Comapany, berpose berbagai gaya di rumah, portofolio Edisi019 2015 Michelle Tjokrosaputro Direktur Utama Danliris Group of Comapany, berpose berbagai gaya di rumah, portofolio Edisi019 2015

“Kami berharap lewat program ini, tim Bateeq semakin siap dari segi produk, marketing, maupun produksi untuk merambah market internasional.” ujarnya.

Ia mengaku tak takut dengan persaingan yang semakin ketat dengan banyaknya pengrajin di daerah yang juga memiliki motif yang khas. Mereka juga mulai gencar merambah pemasaran daring lewat media-media sosial. Baginya, persaingan itu bagus untuk memacu dia dan tim Bateeq untuk terus berkreasi, menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Selain membesut Bateeq, Michelle juga masih mengembangkan bisnis keluarganya yakni PT Dan Liris, yaitu perusahaan tekstil terpadu, dari pemintalan benang, penganyaman, pencelupan, pencetakan, dan jahit (spinning, weaving, finishing, printing, dan garment).

“Pertumbuhan Dan Liris masih baik di tengah kondisi perekonomian dunia yang masih belum menentu. Dan Liris masih bisa bertumbuh dari segi omset maupun profit,” ujarnya.

Saat pertama kali bergabung, ia mesti menerima kenyataan pahit yakni perusahaan dalam kondisi rugi, dalam proses pemutusan hubungan karyawan (PHK), kredit macet kategori 5, dan kesulitan cash flow. Michelle berhasil membangun kembali bisnis warisan keluarganya. Setelah 10 tahun dirinya bergabung, utang bank yang macet mulai perlahan terlunasi.

“Tahun kemarin, kategori Dan Liris sudah menjadi 1 alias lancar. Omset sudah tumbuh 3 kali lipat, yang dulu minus besar sekali, sekarang sudah profit,” katanya. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)