Berbisnis Ala Windy Riswantyo

Bagi beberapa orang,  waktu 24 jam tidaklah cukup dalam menjalankan hari-hari mereka. “Saya berharap satu hari itu isinya 48 jam bukan 24 jam,” ujar Windy Riswantyo Assistant Vice President, Head of Marketing dan Digital Astra Life & Pemilik Chronicles Indonesia. Kesibukannya mengurus bisnis dan bekerja full time membuatnya harus pintar-pintar dalam mengatur waktu.

windy Windy Riswantyo Assistant Vice President Head of Marketing dan Digital Astra Life& pemilik Chronicles Indonesia

Namun, ia sama sekali tak menyesali hal tersebut. ”Tinggal di Jakarta itu harus pintar karena di sini hidup semakin mahal. Apa-apa mahal, kita sebagai perempuan harus pintar-pintar dalam mengelola keuangan, kalau bisa punya ladang basah. Saya sendiri memiliki dua. Intinya adalah bisa membuat sesuatu dari apa yang saya miliki.”

Ia pun menyarankan agar para wanita mencoba untuk berbisnis dengan sesuatu yang mereka sukai. Sesuatu yang disukai tentunya akan membuat seseorang tetap mencintai apa yang mereka lakukan.”Memulai bisnis pertama kali harus dilakukan dengan apa yang kamu suka, kalau ngga suka tentunya akan cepat menyerah bila melihat yang lain sudah maju. Terutama bila ada competitor baru yang lebih bagus, pasti langsung give up,” dia menyarankan.

Menurutnya, membagi waktu dengan benar adalah kunci keberhasilan. “Kadang saya suka sedih kalau misalnya ada produk yang kita mulai barengan, tapi dia udah di sana saya masih di sini-sini aja. Makanya saya harus pintar bagi waktu, memanfaatkan cuti atau hari libur kejepit. Harus fokus juga, biar nggak cepat down,” ujar wanita berambut panjang ini sambil tersenyum.

Selain itu, membangun brand yang profesional juga diperlukan dalam menjalin hubungan dengan konsumen. Pemilihan bahasa dan foto yang bagus sangat dibutuhkan.”Brand chronicles saya, base nya Instagram jadi visual harus dibuat seprofesional mungkin. Pemilihan cahaya yang tepat, latar foto yang konsisten, juga tulisan yang menarik akan menarik pelanggan,” ujarnya berapi-api.

Foto dengan pencahayaan yang baik, tanpa filter  serta pemberian hasthag yang spesifik juga menentukan kualitas produk.” Usahakan pencahayaan bagus dan jangan menggunakan berbagai macam filter, karena itu sebenarnya mengganggu foto. Hashthag juga jangan umum, misal hanya fashion. Dalam 1 detik ada 1000 foto yang menggunakan hasthag fashion, gunakanlah hasthag yang spesifik seperti cotton scarft, bila bahannya terbuat dari katun. Jadi lebih spesifik.”

Berjualan di media sosial bukan berarti tanpa etika. Sebab, pendekatan yang tepat tentunya akan menarik perhatian pasar. “ Hanya karena berjualan di sosial media bukan berarti kita bisa langsung komen asal di mana saja dalam rangka berpromosi. Jangan juga sering menggunakan kata murah. Ini seolah-olah menunjukan kalau barang kita itu murahan. Padahal kebanyakan masyarakat suka dengan sesuatu yang ekslusif dan tidak pasaran," ungkap Windy.

Mengendorse produk juga tidak bisa asal-asalan, profesionalitas dapat diwujudkan dengan bahasa yang santun dan tidak memaksa.”Sebenarnya artis-artis itu mau-mau aja kok untuk membantu kita, tetapi harus menggunakan bahasa yang sopan dan profesional. Jangan selalu memaksakan harus menggunakan artis untuk endorse, bisa juga orang-rang biasa seperti fashion blogger dengan follower yang cukup banyak, yang penting mereka memiliki kedekatan yang kuat sehingga pesan kita pun bisa tersampaikan dengan baik.”

Dia menekankan pentingnya orisinilitas sebuah produk, “Jangan suka copycat, dan hanya berpikir bersaing hanya di Indonesia saja. Bersainglah dengan dunia global, seperti negara tetangga Malaysia. Saya jual scarft dan semua orang sering bertanya, apakah saya tidak berminat untuk membuat produk lain? Jawabannya tidak. Karena ini adalah ciri khas produk saya," dia menuturkan. (EVA)

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)