BI Dukung Indonesia International Halal Lifestyle

Bank Indonesia (BI) mendukung penyelenggaraan Indonesia International Halal Seminar & Workshop yang akan dilaksanakan oleh Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) untuk mendorong perkembangan potensi industri syariah di Indoensia.

Acara ini akan dilaksanakan pada 3-5 Oktober 2018 di Jakarta Convention Center. Tujuannya memberi wadah kepada regulator, jasa keuangan, serta pelaku usaha untuk bersama-sama menggarap potensi bisnis ekonomi syariah dan industri halal di Indonesia. Anwar Bashori, Kepala Departement Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, mengatakan, peluang Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi halal sangat besar. Selain itu, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah memiliki dampak jangka panjang untuk memperkuat struktur perekonomian Indonesia kedepan.

“Konferensi ini tidak hanya untuk mengumpulkan pelaku industri syariah nasional dan global, dalam menyelaraskan value chain industri syariah nasional dan global. Namun, juga untuk menyusun road map pengembangan industri syariah Indonesia ke depan," ujarnya.  Dia berharap acara ini dapat mendorong investor untuk meningkatkan investasi dan meningkatkan industri halal di negara-negara muslim maupun non-muslim.

Sementara itu Sapta Nirandar, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center, mengatakan,  kegiatan ini juga dapat mempromosikan industri halal dan syariah di Indonesia ke masyarakat global. “Industri ini harus didorong, karena kita memiliki potensi yang besar. Ini juga merupakan upaya kami agar Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar di industri global," dia menambahkan. Acara ini nantinya akan diisi oleh kegiatan konferensi, forum bisnis, business matching, dan pelatihan bisnis. Sementara itu, untuk peserta kegiatan, Sapta menargetkan 60% akan dikuti oleh pelaku bisnis halal dari dalam dan luar negeri. Sedangkan 40% sisanya merupakan akademisi, pemerintahan dan masyarakat umum.

Anwar menambahkan, adapun 5 sektor yang diunggulkan untuk menjadi lokomotif industri halal di Indonesia adalah makanan, pakaian, kosmetik, perbankan, dan farmasi. “Makanan menjadi yang paling besar potensinya. Sebenarnya makanan Indonesia di dominasi oleh makanan halal, namun kita belum gencar dalam melakukan sertifikasi. Kita masih kalah jika dibandingkan dengan Jepang, Korea, dan Australia. Turis Timur Tengah banyak yang tertarik ke negara tersebut untuk berwisata kuliner, karena mereka memilikisertifikasi yang jelas untuk makanan halal." Saat ini, menurutnya, pemerintah tengah merancang sertifikasi halal untuk menarik wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

Untuk diketahui, industri makanan halal secara global memiliki potensi hingga US$1,2 triliun pada tahun 2016. Angka ini diramalkan akan meningkat hingga US$ 1,9 triliun pada 2022 mendatang. Sedangkan untuk industri halal lifestyle sebesar US$2.006 miliar pada 2016 dan akan meningkt hingga US$3.081 miliar.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)