Bisnis Penerbangan Carter Makin Disesaki Pemain

Bisnis penerbangan carter nasional terus bertumbuh. Setiap tahunnya ada dua sampai tiga pemain baru. Asal punya modal besar dan bisa memenuhi persyaratan yang ada, pelaku usaha bisa mendirikan bisnis ini.

“Kalau yang terdaftar sebagai anggota INACA (Indonesia National Air Carriers Association)ada 23 perusahaan. Tapi sebetulnya, jumlahnya lebih banyak, kira-kira 40 perusahaan. Pertumbuhannya cukup banyak, baik yang carter komersial maupun yang carter untuk private jet,” tutur Bayu Sutanto, Kepala Bidang Penerbangan Carter INACA, kepada SWA Online, di Jakarta, Kamis (22/11/2012).

Dia mengatakan, pemain baru selalu ada di bisnis penerbangan carter setiap tahunnya. Tahun ini saja, ada tiga perusahaan yang masuk ke bisnis penerbangan carter. “Rata-rata dua sampai tiga-lah setahun,” lanjut Bayu.

Lantas seperti apa detail kondisi penerbangan carter nasional sekarang ini, berikut petikan wawancara Esther Maryana dari SWA Online dengan Bayu yang juga menjabat sebagai Managing Director PT TransNusa Aviation Mandiri.

Di mana saja letak perusahaan penerbangan carter berada?

Mostly di Jakarta. Yang di luar Jawa, ada di Balikpapan. Ada beberapa di Jayapura, seperti di Jayawijaya. Tapi itu belum anggota INACA. Karena anggota INACA hampir semuanya di Jakarta.

Tahun depan ada pemain baru yang akan masuk ke bisnis penerbangan carter?

Kelihatannya ada. Yang aplikasi selalu ada setiap tahun. Biasanya, dari statistik mulai tahun 2010 sampai tahun sekarang, ada dua sampai tiga SIUP (Surat Izin Usaha Penerbangan) carter baru.

Memang mendirikan usaha penerbangan carter terbilang mudah?

Bukan mudah, ya kalau orang punya duit, punya modal, dan persyaratannya dipenuhi, ya nggak bisa ditahan.  Tapi itu nanti kan ada seleksi alam. Siapa yang berkembang besar dan siapa yang tidak. Dan ada kecenderungan terakhir bahwa banyak yang buat SIUP maupun AOC (sertifikat operator penerbangan) untuk private jet mereka sendiri. Carter itu cenderung banyak untuk private jet. Jadi, memang mereka khusus melayani untuk kepentingan mereka sendiri saja. Ada sekitar 10 perusahaan yang menyediakan private jet. Tidak banyak.

Berapa dana investasi yang dibutuhkan saat mau mendirikan usaha carter?

Ya, tergantung jumlah pesawat dan jenis pesawat yang dibeli, canggih atau nggak. Kalau pesawat Gulfstream G550 mahal sekali. Tapi kan bisa saja beli jet seken yang harganya US$ 4 juta. Ada juga jet bekas yang harganya  US$ 1 juta.  Dan kalau untuk carter syaratnya cuma tiga pesawat.

Jadi, satu usaha penerbangan carter rata-rata punya tiga pesawat.  Ada beberapa yang punya banyak, seperti PremiAir.

Ke depan, tahun 2015, ada ASEAN Open Sky, bisnis carter nasional bakal menurun karena tersaingi oleh bisnis asing?

Nggak juga ya. Sebetulnya, Indonesia justru yang punya penerbangan carter paling banyak dibandingkan negara lain. Seperti Malaysia, jumlah maskapai regulernya itu nggak lebih dari lima. Bangkok paling punya enam maskapai, sedangkan Vietnam ada empat. Jadi, nggak usah kuatir. Sedangkan, untuk penerbangan carter kalau nggak salah hanya ada tiga di Malaysia.

Eksekutif pun lebih banyak di Halim daripada di negara ASEAN yang lain. Dari dulu itu, pemain penerbangan carter lebih banyak di Indonesia. Ya karena bisnisnya lebih banyak dibanding negara ASEAN lain. Jadi, nggak akan terpengaruh (oleh ASEAN Open Sky), sepanjang kita standarnya sama dengan negara lain.

Ada kendala yang menghambat bisnis ini dari sisi regulasi?

Ada, tapi teknis sekali. Very-very teknis. Tapi sejauh ini masih kondusif. Justru yang menjadi kendala untuk carter adalah airport yang khusus carter. Jadi, sebetulnya, carter ini masuk dalam kelompok General Aviation (GA) kalau di internasional. Bukan scheduled (berjadwal).

Biasanya, beberapa negara punya terminal sendiri. Misalnya saja, di terminal Soekarno-Hatta, Cengkareng itu disiapkan terminal GA. Bisa eksklusif, mewah, atau sederhana. Bukan bandara khusus tapi ada fasilitas untuk GA, misalnya dalam hal terminal dan hanggar.

Kalau di Singapura, mereka punya Seletar Airport. Di Kuala Lumpur juga ada airport lama, yaitu Subang, yang dipakai untuk GA sama reguler tapi rute penerbangan yang pendek-pendek. Di Thailand, ada bandara lama Don Muang.

Kalau, kita nggak ada. Kondisi di Bali, saat weekend, itu banyak sekali jet-jet eksekutif yang datang, tapi nggak punya terminal. Di Halim itu dianggap GA, karena nggak ada penerbangan berjadwal di situ. Jadi, seakan –akan GA terminal, tapi sebenarnya belum.  Sejauh ini, baru kita dengar ada niat AP (Angkasa Pura) I mau bangun GA di Bali. Tapi, itu masih akan.

Memang trafik penerbangan carter paling tinggi ada di Bali?

Tidak, di Halim Perdanakusuma paling tinggi. Kedua adalah Bali, baru Balikpapan sama Surabaya. Balikpapan dulu banyak karena minyak bumi dan gas, sekarang sudah nggak. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)