Dengan Ponsel, Bank Bisa Semakin Branchless

Belum semua masyarakat Indonesia memiliki rekening bank. Namun, semakin banyak masyarakat yang mempunyai telepon seluler (ponsel). Kondisi ini merupakan peluang bagi institusi perbankan untuk bisa mengembangkan layanan secara elektronik.

Dalam acara Indonesia Financial Services Summit 2012, di Jakarta, Hendra Godjali, Senior Director Accenture Indonesia, mengatakan, "Branchless banking atau less branch banking itu bukan berarti penutupan cabang-cabang (bank) karena masih ada dua channel yang harus ada mengenai online dan offline."

Pengembangan kantor cabang oleh institusi perbankan perlu tetap dilakukan. Akan tetapi, strategi yang lebih baik adalah melakukan itu bersamaan dengan pengembangan branchless banking, yakni bank membuka layanan seperti mobile banking.

Kenapa harus seperti itu? Hendra pun menuturkan, kondisi geografis Indonesia menjadi salah satu alasannya. Dengan wilayah yang cukup luas, branchless banking pun dianggap sebagai cara yang ampuh untuk melayani nasabah. "Kenapa kami bicara itu, poinnya sebenarnya bukan cost efisiensi tapi opportunity lost. Kami lihat Indonesia distribusinya sangat luas," lanjutnya.

Ponsel lantas dinilai sebagai perangkat yang tepat dalam mengembangkan branchless banking ini. Andrew Parker, Asia Pacific Business Development Manager Fiserv, pun menyebutkan, "Lebih dari 50 persen dari populasi di Indonesia tidak mempunyai akun bank."

Akan tetapi, menurut dia, penetrasi ponsel diperkirakan sudah di atas 130 persen. Artinya, jumlah pelanggan ponsel telah melebihi jumlah penduduk.

Parker pun menuturkan, biaya yang dikeluarkan bank untuk menggunakan ponsel dalam branchless banking pun dinilai murah. Apalagi dengan ponsel, bank bisa menyasar semua segmen masyarakat , termasuk masyarakat yang kurang mampu, dalam bertransaksi.

Konsep branchless banking dengan ponsel ini telah dilakukan di Kamboja. Sekalipun berstatus negara berkembang, ada sebuah bank di negara anggota ASEAN ini yang sudah mampu menerapkan teknologi baru. Adalah Acleda Bank di Kamboja yang tidak membuka banyak cabang dan lebih memilih menggunakan mobile banking untuk promosi bank-nya.

Dengan ponsel, nasabah Acleda bisa mengambil uang tunai di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Jadi, nasabah tidak memerlukan kartu untuk hal itu.

Di Indonesia, Firdaus Zhan, Business Relationship Director Fiserv, berpendapat, penerapan branchless banking terkendala dengan faktor keamanan. Namun, dia menegaskan, konsep ini akan memberikan manfaat yakni efisiensi, karena bank tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun kantor cabang.

Bukan hanya dengan ponsel, branchless banking pun kini sudah bisa dilakukan melalui sosial media, seperti Facebook. "Untuk sosial media, kami juga sudah terapkan di Australia, yaitu pembayaran melalui Facebook. Jadi FB account yang diambil, bukan nomor rekening," tandasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)