Desa Jasri, Meroket Berkat “Perang Api”

Satu lagi desa wisata di Bali yang menarik dikunjungi, yakni Desa Jasri. Mungkin tak banyak yang mengetahui desa ini. Namanya mendadak terkenal berkat tradisi “Perang Api” atau ter-teran, tradisi menjelang Hari Raya Nyepi yang tidak dimiliki desa lain di Bali. Tradisi tersebut mungkin salah satu kunci sukses Desa Jasri meraih predikat sebagai desa wisata terbaik 2013, menyisihkan 138 desa dari 29 provinsi.

Desa Jasri yang terletak di kawasan Bali Timur dan berjarak 70 km dari Denpasar ini ternyata juga memiliki pantai yang indah, kekayaan adat, seni, dan budaya yang terpelihara. Geliat wisata kian jelas terlihat setelah desa ini terpilih menjadi desa wisata terbaik.

Desa seluas kurang lebih 445 hektar ini tergolong desa tua yang di bagian tengahnya merupakan wilayah pemukiman, dikelilingi oleh sawah dan kebun dengan tiga ruas aliran sungai. Ada juga deretan perbukitan dan pesisir pantai. Wisatawan punya banyak pilihan mengisi liburan dengan kekayaan adat, seni, dan budayanya yang masih terpelihara.

Para pelancong domestik maupun mancanegara bisa menyaksikan macam-macam upacara adat, tarian, dan seni kerajinan nan memikat. Dijamin, waktu kunjungan tak akan cukup hanya satu hari. Niat menjadikan Jasri sebagai desa wisata sebenarnya telah mencuat pada tahun 2009 silam, dan baru terlaksana dua tahun berikutnya.

Tradisi "Perang Api" di Desa Jasri. Tradisi "Perang Api" di Desa Jasri.

Jasri mengusung keindahan alam dan budaya lokal. Ada di antara Candidasa dan Taman Sukasada Ujung, Kabupaten Karangasem, wisatawan tampak sangat antusias menyaksikan pertunjukan “Perang Api", dimana ada dua kelompok yang bertarung menggunakan obor yang terbuat dari daun kelapa kering.

Ada beberapa pilihan paket wisata, yakni Village Tour, Tracking, dan Cycling, untuk mengenal lebih dekat keindahan alam dan kehidupan masyarakat setempat. Biayanya hanya Rp100 ribu per orang sedangkan untuk sewa sepeda dikenai tarif Rp25 ribu.

Ketua Pengelola Desa Wisata Jasri, I Made Nana Winantara mengakui, desanya masih membutuhkan pembinaan dari pemerintah meski telah mendapat penghargaan sebagai desa wisata terbaik di 2013 lalu. Untuk menikmati keindahan pantai dan deburan ombak nan menggoda, para wisatawan tak bosan-bosannya berselancar.

Lelah menikmati pemandangan alam, para turis bisa beristirahat sambil mengulik keahlian warga setempat membuat dodol nangka, menulis di daun lontar, membuat gerabah hingga melihat aktivitas pande besi. Bagi yang ingin berkunjung, bisa bermalam di tujuh rumah penduduk yang disulap menjadi penginapan berkat bantuan Bank Indonesia. Wisatawan juga bisa menginap di vila-vila milik orang luar desa yang sudah mulai banyak di bangun di sepanjang pantai.

“Selain bantuan dari BI, Desa Jasri juga mendapat bantuan PMPN Pariwisata sebesar Rp70 juta di tahun 2012, Rp100 juta (tahun 2013), plus Rp30 juta sebagai pemenang predikat desa wisata terbaik,” kata Made.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)